Tampilkan postingan dengan label My Poem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Poem. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Februari 2015

Untukmu yang entah siapa

untukmu yang entah siapa,
terimakasih telah menghormatiku untuk tidak menyukaiku berlebihan
terimakasih untuk tetap anggun menjaga hati
terimakasih untuk tetap istikomah memperbaiki diri
terimakasih untuk hati yang Allah titipkan rindu
untukku

untukmu yang entah siapa,
yang Allah titipkan kasih sayang, walau pada kenyataannya tidak pernah terungkapkan
 terimakasih untuk peduli, meski aku terkadang tidak tau
dan bahkan tidak peduli
terimakasih telah menyayangiku dalam diam
dalam doa yang dengan ikhlas kau ucapkan

untukmu yang entah siapa,
esok, dengan ijin-Nya sebuah ikrar akan terucap
sebuah perjanjian berat seorang manusia akan terdengar
semoga berita ini mampu membuat penduduk langit dan bumi bahagia
hingga kami dapat menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya


untuk mu yang entah siapa,
pintaku; doakan aku dan dia dalam kebaikan
pun semoga engkau mendapatkan kebaikan yang Allah janjikan
kini aku akhiri
walau ku tak pernah tau
kapan kau memulai untuk menyayangi
sungguh menyukai seseorang sebelum waktunya adalah keliru
namun menyimpannya dalam diam - untuk waktu yang tepat adalah
kebijaksanaan

untuk mu yang entah siapa,
yang menyimpan baik perasaannya di dalam hati
terimakasih

meski aku tak pernah mengetahuinya


--------------------------------------------------------------------------------
dari Tsalisa untuk Reihan (Rey)
Dalam Cerpen "Di Penghujung Senja" *tidak diterbitkan*

Selasa, 27 Januari 2015

Lautan Cinta-Mu

Aku memanggilmu dalam deretan sastra tak bertuan
Mengeja setiap huruf untuk kau yang entah siapa
Menyelipkan doa dalam sujud
Meski rindu terkadang meradang
Sungguh aku tidak iri dengan mereka yang paripurna
Karena aku yakin ini belum saatnya
Bukan untukmu wahai makhluk yang fana
Bukan demiku yang hina lagi papa
Oh bagaimana mungkin aku harus selingkuh dariNya
Yang bahkan tau setiap hati yang berbisik
Yang selalu mengawasi setiap gerak aktivitas
Oh bagaimana jika hati telah terbagi
Oleh dunia dan semua ornamen di dalamnya
Sungguh, mencintaiMu dan makhlukMu bagiku adalah ujian
Wahai pemilik cinta, anugerahkan kepadaku
Seorang imam yang mampu membawaku
ke lautan cintaMu

hanya ilalang

sebulir pemahamanku telah temukan ruangnya
mengulum ego hingga bertemu pangkalnya
kini menjadi beku, dihantam airaksa
pun menjadi keras, meski rasio-nya kini melunak

aku terbangun dalam dimensi waktu
terhipnotis elemen-elemen mimpi
menjadikanku pujangga tanpa lelah
walau diteriaki barisan para pemikir
meski dihujani tumpukan tanda tanya

dan kini aku paham tentangmu
yang berproses menyusun artefak rasa
membenam ke akuan diri
menyulam rombeng perilaku gila
memuseumkan sejarah tanpa kunci

kita tidak sedang bermain logika
tak pula berperang argumen kata
atau menyusun mozaik citra
mengeja satu per satu dinamika

terimakasih untuk memuliakaku
dengan tetap menjaga hati
menjaga jarak dan interaksi
teguh tanpa pernah terpengaruh

dan kini aku luruh...
sungguh tak ingin terlalu jauh
mengangkasa bersama barisan bintang
mengudara bersama ribuan layang-layang
tapi aku sungguh hanyalah ilalang...
maka jika terjatuh sungguh akan sakit
jika terinjak tentu akan terpuruk
begitu menyedihkan

maka ku minta
tetaplah menjadi sepi
biarkan langit yang menyusun ceritanya
melukis setiap bait-bait tasbih
mencatat setiap kalimat-kalimat rindu

tentu saja aku hanya ilalang..
tak mungkin tahu apa rahasia-Nya
maka jangan pernah membuat-Nya cemburu
cukup diamlah untuk sekedar tau

bahwa aku,
masih menunggu...

----------------------------------------------------------
mutia azahra, syair : romance 2015

Sabtu, 20 Desember 2014

Pembohong dan Penipu

aku bilang, aku takut kepada Allah
dia bilang, aku pembohong
aku bilang, aku beragama islam
dia bilang, aku pembohong

aku bilang, aku mencintai Allah
dia bilang, aku pembohong
aku bilang, aku merindukan-Nya
dia bilang, aku pembohong

dia bilang...
dimana rasa takut mu?
jika sholat saja merasa tak perlu
dimana letak ke islaman mu
jika kau sama saja
seperti manusia tak ber Tuhan

kau mengaku cinta
tapi jarang mengagungkan nama-Nya
kau mengaku rindu
tapi membiarkan Al-qur’an berdebu

begitu sibuknya engkau dengan dunia
begitu lengahnya kau dengan akhirat
dunia hanya sebuah jembatan
tak perlu banyak berbekal barang

wahai jiwa...
dimanakah mata yang takut kepada Allah?
yang berlinang mengingat dosa
yang gelisah manakala tersesat
apakah hatimu begitu gelap?
betapa banyak pandangan yang manis di dunia
sementara pahitnya di akhirat tidak tertanggung

wahai jiwa...
hatimu rapuh
pandanganmu kabur
matamu lepas
lisanmu menjaring dosa
tubuhmu penat mengais puing-puing dunia
betapa banyak pandangan nista yang menggelincirkan

kau merasa aman dengan kebaikan dunia
kau gembira dengan harta yang kau dapat
tapi kau lupa dengan pedihnya kematian
kau terlena dengan lamanya perjalanan

Allah menangguhkan siksa untukmu
tetapi engkau malah menantang
engkau ingat kepada-Nya saat susah
tetapi lupa di saat senang

wahai jiwa...
kondisimu begitu memprihatinkan
kau takut neraka, tetapi engkau senang bermaksiat
lisanmu kering dari berzikir
pikiranmu lengah dari mengingat Allah
begitu bebalnya dirimu!
berkali-kali engkau tersadar
berpuluh kali pula engkau kembali  berdosa

andai kau benar-benar cinta, kau tentu mematuhi-Nya
pencinta niscahya tunduk kepada yang dicintainya

aku bilang, aku berjanji akan berubah
Allah bilang, engkau PENIPU

---------------------------------------------------------------
“Kalian benar-benar telah lupa. Kalian bertingkah laku seolah-olah tidak akan pernah mati, seolah-olah tidak akan dikumpulkan pada Hari Kiamat, seolah-olah tidak akan dihisab di hadapan Allah, dan seolah-olah tidak akan melewati jembatan di atas neraka. Begitulah kalian. Selama ini kalian hanya mengaku-ngaku memeluk islam dan beriman”. (Syekh Abdul Qadir Al-Jailani)

“sabar dalam ketaatan di dunia sesungguhnya lebih ringan daripada sabar dalam neraka” (ibnu al-jauzi)

Rabu, 05 November 2014

Kado Milad Untuk Erma

kau telah aku catat
sebagai wanita akhir zaman
yang hidup bagai kupu-kupu
melebarkan sayapnya
bermetamorfosis

cukup !!

jangan harap
seikat pujian aku kirim
bersama barisan kata
jangan kau pikir
sebait syair ini membiusmu
menerbangkan rasa
menusuk keakuan diri

jujurlah sobat !!
kau bukan seperti apa yang aku lihat, bukan?
tidak selalu seperti apa yang mereka dengar
tidak selamanya seperti apa yang mereka katakan

aku mengamati
aku merasakan 
aku mencoba memahami

lihat senyum ikhlasmu
yang bagiku seperti pilu
menahan tangis
mengubur luka

bukankah amanah bagimu pelipur lara?
mencoba banyak hal
mengukur diri dengan kesibukan
nyatanya kau gamang
tapi Tuhan selalu baik pada mu
menguatkan, mengokohkan
meluruskan jika berbelok
sedikit mencubitmu kala kau lupa
mereka bilang kau aktifis kampus
mereka taunya kau akhwat militan
kader dakwah, konsultan organisasi
banggakah kau dengan labelmu?

tapi aku tak peduli
dengan apa yang mereka kata
karena mata mu selalu jujur
ia berbisik padaku
aku hanya wanita sederhana
yang berproses menjadi wanita seutuhnya
sobat, kau guru politik bagiku
alaram kebaikan
kawan diskusi
teman bermain
pun objek jahil dan nakalku

sobat...
apakah aku ini saudaramu?

jika pundak tak kuasa memikul beban
mengapa kau selalu bungkam?
berbohong pada dunia baik-baik saja
teganya kau,
menjadikanku saudara
yang tidak berguna
tidak berperasaan

Ah, aku lupa...
mungkin kau si batu karang laut
yang tegar di terjang ombak
yang pantang pulang
meski hujan
walau panas
tak apa...
bagimu mungkin aku hanya angin laut
yang tak banyak membantu

sobat, aku titip satu hal
tentang orangtua mu
muliakanlah mereka sebelum kesibukanmu
sebelum kau benar-benar sibuk
sebelum karir menutup telingamu
sebelum waktu memisahkanmu
sebelum Tuhan memaksamu ikhlas
membelajarkanmu makna kehilangan

untukmu kurangkai kata,
terimakasih...
untuk ratusan kebaikan yang belum terbalas
untuk puluhan nasihat yang belum aku amalkan

kini, ribuan maaf ku kirim
untuk ego dan akhlak yang masih berantakan
untuk lisan yang tak terjaga dan melukai 

semoga ukhuwah...
mempertemukan kita di surgaNya
tanpa perseteruan
tanpa amarah dan saling menjatuhkan
uhibbuki fillah

----------------------------------------------
My Little Home,
dan rampung di tulis @office ruang kreatif aksara 
5 November 2014, 10.35 AM


Sabtu, 31 Mei 2014

Da aku mah apa atuh?

da aku mah apa?
hanya seonggok tanah
hanya sekumpulan saraf dan darah
hanya rangka tulang berbalut daging

da aku mah apa?
hanya rangkaian sendi dan otot
hanya kumpulan organ dan jaringan
hanya sebuah sistem yang bersinergi
yang berwujud
yang bergerak
yang seimbang

katanya...
aku ini makhluk sempurna
yang Allah tiupkan ruh
yang Allah berikan akal
yang Allah sisipkan perasaan

da aku mah apa atuh?
bukan malaikat yang selalu patuh
bukan iblis yang selamanya ingkar
bukan binatang yang tak beradab

kini aku tau....
da aku mah makhluk sempurna
maka harus banyak bersyukur
da aku mah ciptaan Allah yang berakal
maka tak perlu banyak berputus asa
da aku mah punya perasaan
maka tak perlu saling menyakiti

Hai manusia,
Apakah engkau mengira dirimu kecil?

Tidak!
Dalam dirimu terdapat alam yang amat besar.

-------------------------------------------
"Hai manusia Apakah yang telah memperdayakanmu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah? Yang telah menciptakan-mu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikanmu seimbang; dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusunmu" (Qs. Al infithar [82]: 6-8)

Senin, 21 April 2014

15 Menit

sepenggal saja, aku tuliskan kata kalimat atau sebuah rasa.
selembar saja, aku tinggalkan secarik kertas, seuntai puisi
aku dan mauku, bukan lagi kau
tentang cerita mimpi dan cita-cita

cukup lima belas menit saja
begitu pikirku
merebut asa, yang semakin purna
mengembalikan raga yang terlihat samar

aku dan bahkan egoku
menyibak tak mau
tapi waktu tak pernah baik
selalu dengan tega berlalu
tak bisa untuk bernegosiasi

kemana jiwaku yang dulu
semangat yang membakar
energi yang membara
tentang cita-cita
tentang iman dalam dada

aku begitu merindu
jiwa ku yang dulu menggila
gila untuk selalu menjadi baru dan luar biasa

cukup lima belas menit saja
aku hantarkan mimpiku
aku tulis teriakan perjuangan
aku bakar dan lucuti ketakberdayaan
ku pakai baju perjuangan

mengalahkan ego
mengubur setiap hal yang merusak

Aku akan datang menjadi pribadi yang baru
pribadi berkualitas...

*selamat hari kartini, karena setelah guruh dan hujan ada pelangi yang menghiasi.

Minggu, 20 April 2014

Penjahat Ulung

Lihatlah penjahat
kau berhasil...
membuat orang bertanya-tanya
membuat orang menduga-duga
membuat orang kepo

Lihatlah penjahat
kau sukses
membuat orang tidak takut
untuk bermimpi
untuk belajar
untuk mencoba

Penjahat !!
lihatlah, kau dan semua ulah mu
membakar ragu
membuat iri
membungkus cemburu
mendeskripsikan mimpi menjadi nyata

Hey kau, penjahat ulung !!
berani-berani nya membuat nenek menangis
berani-berani nya membuat haru
berani-berani nya membuat mata berkaca

lihatlah semua ulah mu
tersenyum pada mereka yang masih ragu
lihatlah semua kelakuan mu
menjadi buah bibir dan artis untuk sementara waktu

Ah kau, dasar penjahat ulung !!
sampai bertemu di dimensi waktu
antara kau, aku,
kita, dan mimpi-mimpi kita
menuju pribadi berkualitas



*ide tulisan ini di temukan di jakardah perjalanan menuju bandara soekarno hatta Sabtu, 19 April 2014 sekitar pukul 02.30 pm. Ditemani dua kawand seperjuangan, "let's be great women, d'atangs !! ".

Senin, 14 April 2014

Untuk April

Halo april, kau adalah bulan dalam do'aku yang kusebut untuk wisuda. Tapi itu dulu, sebelum banyak prakira tak terduga yang tak mereka tahu. Ah memang tak perlu banyak yang tau. Tapi sungguh aku merasa asing, berjalan dikampusku sendiri. Apakah semua mahasiswa tingkat akhir yang belum berakhir merasakan sama??.

Lihatlah, mereka bertanya kenapa aku banyak menunda.
Dengarlah, mereka berargumen mengapa malas dan ini itu di telinga
Tersenyumlah, atas berbagai hal yang mereka tak tau mengapa...
atas berbagai pertanyaan...
atas banyaknya sangkaan...
sungguh tak perlu mereka tau mengapa..

Hai april, sahabatku satu persatu melaju dengan cakapnya
Meninggalkan aku yang bukan siapa...
Aku tidak sedih, aku tidak ingin menangis.
Aku hanya merasa 
Sepi...

Bahkan rasanya kampus begitu...
ah sudahlah, ini hanya karena sepi
yang terkadang membuat melankolis
mungkin karena sudut kelas dan tempat bersejarah ini
dulu terdengar ramai, terlihat sibuk
oleh tawa mereka
oleh banyak kesimpulan dan argumen
oleh orasi dan persaingan
oleh cerita cita,cinta dan cakap yang tak bermakna
bukankah terkadang itu membuat rindu

dan kini wajah-wajah baru ini menemani sepiku
meski sepi dalam ramai...
yang ku tau, sidang di depan mataku
yang ku yakini, semua selesai pada waktunya
mungkin menurutku tidak tepat,
tapi bagiNya itu adalah waktu yang tepat
maka cukup, bisakah tidak untuk bertanya lagi

Rabu, 26 Maret 2014

Aku tahu kau pun tahu

aku tahu
kau pun tahu
apa sebabku menjadi bisu
menjadi begitu menyebalkan

ini sebab kau tak punya jawaban
bertanya pada bulan
yang hanya tersenyum terang
ini alasan kaki mu tak lagi berpijak
bumi yang kau diami tergenang
tak lagi indah...

tapi negeriku indah sekali,
dipenghujan banyak kolamnya
dimusim panas banyak turisnya

asal kau tahu
kami senang sekali berenang
maka saat penghujan
Tuhan memberikan banyak air

pun kau tahu
kami bahagia dimusim panas
karena jemuran cepat kering
dan petani bersyukur dengan padinya

inilah negeriku
yang katanya lucu
karena kebaikan dikata pencitraan
karena pemberian dibilang gratifikasi

kau mengetahuinya kawan
ketika kebaikan
terdengar begitu mahalnya
ketika maksiat
terlihat begitu maraknya

inilah zamanku
yang cahayanya
mulai redup
mulai samar

bahkan suatu saat nanti
tak bisa kita bedakan lagi
sebuah kejahatan yang terlihat baik
dan sebuah kebaikan yang dirasa buruk

inilah, akhir zaman
aku tahu, kau mengetahuinya

Hanya Kau yang tahu

Aku hanya berkata pada huruf
Membisikannya lewat sajak-sajak rindu
Membelai angin, merasakan hampa
Berteman lama dengan bisu

Cintaku adalah semburat rindu
Yang meradang kala cemburu
Yang berbunga kala bertemu
Tak ada yang tahu

Sejak lama aku berteman sepi
Berkawan dengan alphabet dalam keyboard
Menulisnya agar mengupahi
Menyimpanya hanya untuk dikenang

Cintaku hanya aku dan Dia yan tahu
Bersama barisan puisi roman
Tumpukan file-file karya
Yang pemerannya adalah dia

Sampai kapan aku menyimpannya?
Bercerita pada angin agar ia tahu
Berharap ia dengar
Berharap ia pun sama
Tuhan tau, aku menyimpannya dalam
Menjaga untuk setia
Berlatih untuk bersabar

Akhirnya, aku bertanya lirih
Tuhan, apakah Engkau pilihkan aku untuknya?

Hanya Kau yang tahu

Jumat, 28 Februari 2014

Aku berbohong

Maaf untuk kebohonganku
tentang pertanyaan yang membuat
aku begitu tersudut
membuat aku begitu tertekan

maaf atas kebohongaku kawand
atas setiap mata introgasi yg kau gunakan
atas setiap argumen dan analisis
yang kau lontarkan
karena aq masih tetap akan seperti ini
pura-pura tak peduli
pura-pura tak mau tahu

maka,
apakah bagimu aku bersalah?
padahal aku hanya sedang menata hati
padahal aku hanya belajar apik dengan perasaan
ataukah bagimu aku berdosa?
memotong rindu yang tak seharusnya
memusiumkan banyak sejarah
yang tidak semestinya aku kenang

ijinkan aku berbohong untuk hal ini kawand
agar bunga liar tak tumbuh di pekarangan
agar tak ada lagi tanda tanya
yang menggantung di langit-langit kamar

maaf aku telah berbohong
maka beri aku kesempatan kali ini saja
untuk mengatakan kejujuran padamu
tentang perasaan yang kumiliki

jujurku tentang rasa
adalah ketika Allah pertemukan
aku dan kau menjadi kita
memantapkan hatiku dengan yakin
memilihku hanya krenaNya

cukup hanya Allah saja yang mengetahuinya

Jumat, 06 Desember 2013

Untuk Desember : Hena and HotCoffe

Bisakah kau bercerai dari ingatanku
mengubur jejak masalalu
menyapu bersih debu fatamorgana
yang indahnya hanyalah tipuan
yang kilaunya hanyalah bias


kita tidak hidup dimasa lalu
tidak bergerak dalam sejarah
kau ada dan tercipta
untuk menjadi ornamen
dalam gerak, yang aku cari ujungnya

Senin, 25 November 2013

pintaku padaNya

aku tak kuasa untuk meminta
memilih mu untuk menjadi kawan hidupku
menanti dan berharap seperti
menunggu reda hujan dibalik jendela
membisikan pada angin bahwa aku menunggu mu

siapa yang peduli?
bahkan angin tak tau pada siapa pesan dituju
maka biarkan rintik hujan menemaniku
membawakan butiran tasbih, dari langit cinta-Nya
mengirimkan pelangi dan mentari yang malu-malu untuk bertemu

aku belum pandai memantaskan diri
menjadi nahkoda di samudera hatimu
berlayar dan mengarungi ganasnya ombak
di laut kehidupan milik-Nya
yang terkadang tak bersahabat

maka aku hanya berharap
Tuhan pilih aku untuk mu
memantaskan aku, menyatukan kita
jika tidak, bisakah pilihkan untukku
samudera hati yang menentramkan?
agar  reda hujan yang ku tunggu
adalah rumah cahaya tempatku berlabuh

---------------------------------------------
Ditulis dengan harapan kebaikan...

Sabtu, 02 November 2013

Penghujung Bulan yang Mulia

Katakanlah hari, aku yang begitu lalai terhadap waktu yang berputar dengan cepatnya. Meninggalkan jejak penyesalan tiada terkira, melengkapi ruang kosong dan dinding zaman yg lapuk termakan ke egoisan. Katakanlah hari, aku yang tak pernah bergegas, terlalu santai dan tak mampu istikomah di bulan yang Engkau agungkan. Bahkan mungkin catatan kebaikan dibulan baik ini, tak ada apa-apanya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

sungguh aku bukan apa dan siapa
karena nyatanya...
aku tak mampu menahan waktu
memintanya kembali
atau bahkan menghentikannya barang sedetik

katakanlah hari...
begitu bodohkah aku?
yang tak mampu memanfaatkan waktu
sungguh, begitu ruginya

maka,
ketika alam menyerukan melodinya
suara bocah kecil riang gembira
sorak soray, pemuda-pemudi penuh tawa
dentuman petasan dan kembang api
ibu dengan kue, opor dan ketupatnya
bapak dengan zakat, kebun dan ternaknya
hiruk pikuk orang-orang yang berjibaku dengan tugasnya

katakanlah hari,
aq bukan lagi anak kecil yg riang dengan lebaran
yang senang dengan pakaian atau sepatu baru
menanti rupiah dari sanak saudara atau family

bukan...

karena nyatanya
lantunan takbir, irama bedug
dan instrumen alam di akhir ramadhan ini
membuat hatiku gerimis
seolah, akan di tinggal pergi oleh bulan yang mulia itu
seperti akan ditinggal jauh...
entah akan bertemu dengannya lagi, atau tidak

maka, tak bolehkah hujan berdiam di kelopak mataku?
untuk sebuah kondisi layaknya seorang yang ditinggal pergi
ingin rasanya merengek...
layaknya bocah kecil yang diambil permennya

cukup...

katakanlah hari...
bahwa ramadhan adalah untuk orang-orang
yang mampu meramadhankan hatinya

bukan...
bukan saat ramadhan
tapi setelah ramadhan itu pergi meninggalkannya


catatan introspeksi :
~ mutia azahra, syair ini tertulis asli di facebook saya tanggal 8 Agustus 2013

Sepucuk Surat Cinta Untuk Allah

Allah...
bisakah aku untuk tidak peduli
tak peduli atas apa yang mereka kata
atas pujian yang sejatinya hanya milik Mu
atas setiap ke kaguman yang sebenarnya tak berhak ku kantongi

Allah...
betapa ikhlas sulit rasanya
ajarkan aku tak peduli tentang apa yang mereka dengar
biarkan aku tetap tak peduli tentang apa yang mereka bincangkan

Allah...
lapangkan hatiku untuk setiap nasihat
Jagalah aku dengan penjagaanMu
Agar mata menjadi bening karena terjaga
Agar hati menjadi indah karena terbingkai

Allah...
aku tak berhak memakai baju kebesaran-Mu
merasa diri paling benar
merasa diri paling baik

Allah...
jangan binasakan aku
jangan hancurkan aku dengan penyakit hati
jangan biarkan diri angkuh
jangan biarkan pahala lebur karena tak ikhlas

Allah...
Allah...
Allah...

Jangan biarkan aku hancur karena sangkaan benar yg salah
Jangan biarkan aku terpuruk karena sangkaan baik yg nayatanya buruk
lindungi aku dari pujian yang membuat lengah
lindungi aku dari rasa sombong yang membuat binasa
Jadikan aku lebih baik dari prasangka hamba-hambaMu

ajarkan aku untuk menundukan hati
menjadi pribadi sederhana yang bermanfaat
ajarkan aku untuk ikhlas diri
beramal karenaMu bukan karena manusia

Allah...
Jika surga enggan menerimaku
hendak kemana aku pergi?
Bila neraka tempat ku berdiam
amalan apa yang bisa kuperbuat untuk pergi darinya?

Allah...
aku mengemis cinta dari Mu
hamba tak berpunya yang sering meminta
meringis tangis berharap Kau dengar
mengadu pilu berharap Kau tau


----------------------------------------------------------
created by, mutia azahra
ditulis dengan lapang, sebagai catatan renungan.

Selasa, 22 Oktober 2013

dear, mothers in the world

for mothers in the world
I love being a woman
I hope and always hope
would be a mother like my mother

I think and I feel
a mother in this world
be smart
be strong
have religious

but I'm afraid
can not be a good mother
can not be a perfect teacher

oh mother in the world
turned out to be a woman is not easy
because she is a breath of civilization
because a woman is a reflection of a country

oh mother in the world
whisper in the wind, grass and sand
valuable lessons about the great mother
and let nature teach me
a mother like my mother
like other great mom

Selasa, 24 September 2013

Seseorang disana

seseorang disana barangkali begitu setia memperhatikanku.
tapi sayangnya aku begitu cuek tak peduli
seseorang disana mungkin saja tau banyak hal tentangku
tapi sepertinya ia-pun tau, aku gak mau tau
seseorang itu, masih saja berdiri menjadi shadow untukku
menjadi bias, menjadi samar...
ia tak pernah menjadi api untuk melawan dinginnya aku
tak pula berubah menjadi malaikat hanya untuk membuatku cinta
ia selalu menjadi apa adanya...
seseorang disana tau apa yang ia rasa
ia tetap menyimpannya dalam harta karun hati
meski seringkali aku menjadi perompak untuk menghilangkannya
perasaannya adalah gerakan tepuk tangan
yang tak pernah terdengar tepukannya
seseorang disana, ia selalu mengagumiku
menjadi orang yang pertama tahu aku sedih
menjadi orang yang paling bahagia aku senang
seseorang disana, 
CUKUP! berhentilah membuatku seperti penjahat
membuatku merasa bahwa kau terlalu baik untuk ku miliki
berhentilah,
tak bisakah kau berdamai dengan perasaanmu?



Senin, 06 Mei 2013

Untukmu dinda yang kini menunggu

Dinda, apa kabar kau kini?
Masih tetap bersemangatkah dengan rutinitas dan aktivitasmu ?
Tetaplah istiqamah untuk tetap menjaga hati
meski sampai saat ini, Allah belum mempercayai kita utk bertemu

Dinda,
aku tau kau masih menunggu
masih mencari dan berusaha bersabar
adakah kau kini lelah?
atau galau, hilang arah ?

Allah melihatmu,
maka jangan sedikitpun engkau risau tak menentu
tidak perlu resah memikirkan siapakah imammu
tidak usah galau menebak-nebak bagaimana rupaku

apa kau tidak mempercayaiNya?
tidakah engkau yakin bahwa Allah yg mengatur semua?
cukuplah engkau berdoa dan tidak terus menerus bertanya
tentangku yang masih tetap Allah rahasiakan namanya.

dinda,
taukah kau bahwa tidak ada jodoh yang tertukar?
tidak ada jodoh yang salah
semua telah Allah setting dengan baik

berita dari langit itu akan Allah bisikan
tapi tidak untuk saat ini...
tentunya di waktu yag tepat
disaat kau benar-benar siap

simaklah baik-baik nasihatku..
taukah dinda bahwa sabar itu indah...

sungguh indah,
jika sabar yang kau punya melukiskan jejak untuk mendekat padaNya
betapa indah,
jika sabar yang kau miliki adalah rintihan tahajud di malam panjangmu
mengadu rindu, merintih perih, menjerit sakit...

Dinda, dalam doa aku menjagamu
pintaku, berlindunglah dalam pundak kebesaran Allah
dalam kekokohan langit-langit cintaNya
karena sayang Allah tak akan luruh hanya karena fisik
cinta Allah tak akan pudar hanya karena materi
Ia akan menggembirakanmu ketika kau sedih
Ia akan menjagamu ketika kau takut
tinggalkanlah "sesuatu" untuk Allah
tapi jangan pernah meninggalkan Allah untuk sesuatu
karena dalam hidup ini "sesuatu" akan meninggalkanmu
tapi Allah akan selalu ada untukmu

~ mutia azahra

Jumat, 16 Maret 2012

Sebuah Refleksi

jika hati pekat tertutup tangga-tangga keangkuhan

penuh sesak dengan urusan keduniawian

sibuk dgn banyak hal tak berfaidah

ia akan gusar, mencari hakikat kebahagiaan dlm hidupnya


sungguh,

ia akan rindu dgn sebuah ketenangan dalam hatinya

yang mungkin beku ditelan zaman

yang karam dihadang badai ujian


fatamorgana kehidupan sungguh menyilaukan.

menyayat mata tanpa dirasa

membunuh diri tanpa diketahui

lalu, sadarkah kita saat ini?


atau terhanyut dlm lautan kebinasaan

tenggelam dan terbunuh perlahan

sungguh miris nan memprihatinkan

saya, anda dan banyak manusia lainnya...


sadarilah

bahwa dunia hanya sebagai tempat persinggahan

yg tak perlu banyak berbekal barang

yg tak usah bertumpuk galau disetitik episode kehidupan


sejatinya kita perlu introspeksi

atas ibadah yg sering kali di lalaikan

yg mungkin sering terselip ria

atau bahkan pujian manusia


Innalillahi Wa inna ilaihi rojiun...

maaf atas segala khilaf

sebuah refleksi: catatan hati


-muthi fauziyah-