Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Januari 2017

Renungan

Setahun lebih, dan tentunya mengenal dan memahami itu tidak ada sekat waktu. Ada sesi mengurai tangis, ada tawa, marah, kesal dan banyak sekali rasa yang berkecamuk. Aku tak lebih hanyalah manusia biasa yang sedang berproses dengan dunia barunya. Sifat melankolisku masih tetap berakar dan belum beranjak pergi, namun lambat laun aku menyadari ada yang berbeda. Mengikis sedikit demi sedikit apa yang dulu ada padaku. Lebih tepatnya, aku merasa menjadi pragmatis, introvet, dan takut dalam melangkah. Namun kini aku sudah jauh melangkah, dan bagiku keputusan yang diambil adalah konsekuensi yang harus diterima. Jangan pernah mengeluh, karena Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Maka entah apa yang ada dalam pikiranku saat itu, karena aku yakin Allah sedang menasehatiku dengan sebuah hikmah. Meski saat itu ingin rasanya aku mengatakannya, #ahCukup. Aku pun belum tentu benar. Tapi sungguh inilah isi hati yang ingin sekali aku bicarakan.

Jangan Pelit !
ketika manusia berpikir tidak usah pelit terhadap sesamanya. Aku di nasihati Allah untuk tidak pelit terhadap-Nya. Allah seperti menasehatiku, hatiku berkecamuk. Dan aku sebetulnya ingin menangis.

Allah sungguh, aku rindu mengadakan pengajian dirumah, mendengarkan ceramah, tausiyah, atau sekedar pembicaraan dengan papah yang menenangkan. Maaf Ya Allah, aku yang pelit untuk sekedar bersholawat, sholat sunnah, sholat tahajud, atau membaca Al-Qur'an pun aku masih saja hitungan.

Maaf ya Allah, padahal Engkau begitu baik. Engkau memberikan rizki sehat, makanan yang cukup, tempat berteduh yang layak, maka Aku adalah hambamu yang bodoh dan tak tau berterimakasih. Maaf atas khilafku, dan orang-orang yang ada disekelilingku.

Kamis, 29 Januari 2015

Hamba Sahya

Wahai hamba Allah yang fana, jauh sebelum aku mengenalmu aku telah Allah pertemukan dengan banyak laki-laki. Dengan beragam karakter, latar belakang dan kebiasaan yang berbeda. Tetapi aku tidak bergeming untuk lantas menyukai mereka, walau begitu aku adalah manusia biasa. Maka bagiku menyukai seseorang adalah masa-masa yang sulit, saat aku memiliki perasaan suka, aku selalu memangkas perasaan itu dengan paksa. Bukan karena tidak bisa mensyukurinya, justru takut terjerumus maksiat karenanya. Sungguh aku berdoa, agar Allah menganugerahkan kepadaku perasaan suka terhadap orang yang tepat. Seseorang yang akan menjadi imamku kelak, seseorang yang dengan mengenalnya saja aku bisa belajar mencintai Allah dan Rosulullah SAW. Aku berharap Allah menjaga perasaanku jika aku tak mampu menjaganya. Hingga aku memohon kepadanya untuk mengganti hatiku jika aku benar-benar tak mampu lagi membingkainya.

Wahai hamba Allah yang banyak maksiatnya, salahkah jika kini aku menemukan seseorang yang mampu membuatku merasa nyaman?. Yang darinya aku bisa bersama-sama belajar mengenal Allah, yang darinya aku banyak belajar mecintai kekasih-Nya. Ah aku memang bodoh, menyukai orang yang belum pernah aku temui. Belum tau latar belakang keluarga hingga asal usulnya pun sungguh aku tidak pernah tau. Bukankah itu seperti membeli kucing di dalam karung?

Wahai jasad yang Allah tiupkan ruh di dalamnya, aku tidak memilihmu. Tetapi Allah yang memilihmu untuk aku sukai. Maka jika nyatanya kau adalah orang yang salah, hanya kepada Allah lah tempatku kembali. Allah sungguh pemilik jiwa yang tidak pernah membuatku kecewa. Ia akan menolongku dengan pertolongan terbaik, mengobati hati yang sakit dengan penawar yang menentramkan. Sungguh aku tidak ingin memaksakan inginku kepada-Nya, karena bisa jadi kau bukanlah orang yang terbaik untukku. Bukan sahabat hati untuk mencari ridho-Nya. Bukan kawan seperjuangan untuk menuju jannah-Nya. Bukan karib yang bisa ku ajak bekerja sama untuk  membuat bangga Rosulullah.

Wahai engkau,
Aku tidak pernah berharap bisa bertemu denganmu, jika pada akhirnya kau harus melukai.
Aku tidak pernah berkeinginan dipertemukan denganmu, jika di dunia dan akhirat kita hanya akan berseteru.
Tapi aku bercita-cita bertemu denganmu, hanya jika Allah meridhoi kita bersama dengan janji yang engkau ikrarkan, hingga penduduk langit dan bumi bersyukur karenanya...

Maka kini, ijinkan aku menghilang seperti buih. Menghilang darimu yang fana, yang tidak bisa kekal seperti-Nya. Melangkah menjauh dari rasa suka, untuk mendekap Dia Sang Penguasa Rasa. Pergi darimu yang papa, untuk mencari yang Maha Pemilik Segala. Meninggalkan mu yang lemah, untuk Dia pelindungku yang Maha Kuat. Sungguh, hanya Allah sebaik-baik tempat kembali, yang mengetahui segala hal yang tersembunyi. Yang menentramkan setiap jiwa yang gelisah, yang menguatkan setiap diri yang rapuh.

“Allah, hatiku telah sakit. Jangan biarkan aku jatuh cinta kepada laki-laki manapun, kecuali kepada seorang laki-laki yang telah Engkau gariskan sebagai jodohku”.

“aku takut jatuh cinta, karenanya terkadang aku membenci setiap mata yang memandang dengan seksama. Aku takut jatuh cinta, bukan karena jatuh itu begitu sakit, bukan karena aku tidak normal. Tapi karena setiap perasaan itu suci dan perlu dijaga karena-Nya. Aku takut jatuh cinta Rabb, mencintai orang yang salah, tak mampu menjaga hati, tak bisa membingkai perasaan. Aku takut jatuh cinta Tuhan, mencintai seseorang bukan karenaMu, takut melebihi cintaku padaMu, takut merindukan ia melebihi rinduku bermunajat padaMu. Tolong jaga hatiku Rabb, jaga hati, mata, lisan dan sikapku. Yang terkadang membuat mereka berpikir ingin memiliki sebelum waktunya. Tuhan, Engkau yang titipkan setiap perasaan pada setiap hati, menciptakan rindu, benci, dan suka. Maka jika kini boleh aku pinta, jagalah hatiku dengan penjagaanmu, hapuskan setiap perasaan yang tidak seharusnya. Hapuskan setiap rindu yang bukan pada tempatnya. Maaf untuk setiap hati yang tak mampu ku jaga, untuk kesibukan, pikiran dan khayalan yang ingkar. Bantu aku untuk menghapus segala sesuatu yang terasa mudharat ini ya Rabb..”


[aamiin, allohumma aamiin]

Sabtu, 20 Desember 2014

Pembohong dan Penipu

aku bilang, aku takut kepada Allah
dia bilang, aku pembohong
aku bilang, aku beragama islam
dia bilang, aku pembohong

aku bilang, aku mencintai Allah
dia bilang, aku pembohong
aku bilang, aku merindukan-Nya
dia bilang, aku pembohong

dia bilang...
dimana rasa takut mu?
jika sholat saja merasa tak perlu
dimana letak ke islaman mu
jika kau sama saja
seperti manusia tak ber Tuhan

kau mengaku cinta
tapi jarang mengagungkan nama-Nya
kau mengaku rindu
tapi membiarkan Al-qur’an berdebu

begitu sibuknya engkau dengan dunia
begitu lengahnya kau dengan akhirat
dunia hanya sebuah jembatan
tak perlu banyak berbekal barang

wahai jiwa...
dimanakah mata yang takut kepada Allah?
yang berlinang mengingat dosa
yang gelisah manakala tersesat
apakah hatimu begitu gelap?
betapa banyak pandangan yang manis di dunia
sementara pahitnya di akhirat tidak tertanggung

wahai jiwa...
hatimu rapuh
pandanganmu kabur
matamu lepas
lisanmu menjaring dosa
tubuhmu penat mengais puing-puing dunia
betapa banyak pandangan nista yang menggelincirkan

kau merasa aman dengan kebaikan dunia
kau gembira dengan harta yang kau dapat
tapi kau lupa dengan pedihnya kematian
kau terlena dengan lamanya perjalanan

Allah menangguhkan siksa untukmu
tetapi engkau malah menantang
engkau ingat kepada-Nya saat susah
tetapi lupa di saat senang

wahai jiwa...
kondisimu begitu memprihatinkan
kau takut neraka, tetapi engkau senang bermaksiat
lisanmu kering dari berzikir
pikiranmu lengah dari mengingat Allah
begitu bebalnya dirimu!
berkali-kali engkau tersadar
berpuluh kali pula engkau kembali  berdosa

andai kau benar-benar cinta, kau tentu mematuhi-Nya
pencinta niscahya tunduk kepada yang dicintainya

aku bilang, aku berjanji akan berubah
Allah bilang, engkau PENIPU

---------------------------------------------------------------
“Kalian benar-benar telah lupa. Kalian bertingkah laku seolah-olah tidak akan pernah mati, seolah-olah tidak akan dikumpulkan pada Hari Kiamat, seolah-olah tidak akan dihisab di hadapan Allah, dan seolah-olah tidak akan melewati jembatan di atas neraka. Begitulah kalian. Selama ini kalian hanya mengaku-ngaku memeluk islam dan beriman”. (Syekh Abdul Qadir Al-Jailani)

“sabar dalam ketaatan di dunia sesungguhnya lebih ringan daripada sabar dalam neraka” (ibnu al-jauzi)

Senin, 23 Juni 2014

Muhasabah Before Ramadhan

Bismillahirohmanirrohim,
Kawan, cobalah tinggalkan sejenak kesibukan dan hiruk pikuk kegiatan. Apapun tentang duniamu tentang deadline pekerjaan, skripsi, pilpres yang semakin memanas, euporia piala dunia, kasus kejahatan, kekerasan, tawuran dan berbagai masalah hidup lainnya. Cukup beberapa menit saja, kita buka mata, hati dan pikiran kita. Saya akan mengajak teman-teman untuk memperhatikan, memikirkan dan merenungkan satu hal kecil yang sering kali kita remehkan. Saya akan mencoba mengajak pembaca bertafakur akan hidup yang sebentar ini, bukan menggurui karena nyatanya saya masih sama-sama belajar. Bahkan teman-teman rasanya lebih tahu dari pada saya, baiklah tidak usah berlama lama. Inilah yang akan saya bincangkan, tentang matahari.

Salah satu benda langit yang mampu memancarkan cahaya sendiri,sungguh tidak asing lagi untuk anak hingga orang tua sekalipun. Ia dekat dengan kita dan keberadaannya bisa kita rasakan sampai saat ini Alhamdulillah. Jika teman-teman browsing atau membaca ensiklopedia tentang matahari, tentu akan banyak gambaran pengetahuan dan wawasan, yang membuat kita sadar bahwa ukurannya begitu besar dan suhunya begitu panas (Subhanallah). Matahari adalah sumber cahaya yang paling penting. Matahari mempunyai pengaruh besar atas terjadinya angin, cuaca,dan kejadian-kejadian alam lainnya. Ada sinar matahari yang tidak dapat kita jangkau, bahkan masih banyak menyangkut matahari yang tidak dapat kita ketahui.Cahayanya pun tidak mampu kita tatap berlama-lama. Kalau matahari saja demikian, maka bagaimana kita dapat melihat dengan mata kepala kita Pencipta matahari itu?.

Jika wujud Allah saja tidak bisa kita lihat, jangan-jangan bukan karena tidak bisa, bukan karena tidak jelas. Tetapi justru karena Dia sedemikian jelas, sehingga mata dan pikiran silau bahkan tumpul, tak mampu memandangNya. Imam Al-Ghazali menulis “Ketersembunyian-Nya disebabkan oleh kejelasan-Nya yang luar biasa, dan kejelasan-Nya yang luar bisa disebabkan oleh ketersembunyian-Nya. Cahaya-Nya adalah tirai cahaya-Nya, karena semua yang melampaui batas akan berakibat sesuatu yang bertentangan dengannya”. Subhanallah,karena pada hakikatnya Allah ada dimana-mana. Mata, hati, dan diri kita saja yang sering kali lalai dengan keberadaannya. Atau mungkin karena keangkuhan,maksiat, dan gelapnya hati kita sehingga tidak mampu mentafakuri dan mengambil hikmah dari setiap kejadian.
Sebagai contoh, ketika seseorang bisa membuat pesawat dan melayang di udara, maka hal ini sungguh mengagumkan. Tetapi, karena telah terjadi berulang-ulang, maka terjadi erosi kekaguman akibat kebiasaan-kebiasaan itu.Lalu bagaimana jika kita pergi keluar angkasa, melihat langsung setiap benda bahkan diri kita sendiri mengawang-ngawang di angkasa. Ini sungguh menakjubkan karena tidak sering kita lihat. Padahal kedua peristiwa itu pada mulanya sama saja mengagumkan. Maka bagi seorang mukmin, kebiasaan-kebiasaan itu tidak menjadikannya hilang kekaguman, apalagi menjadikannya melupakan Allah.



Pernahkah engkau berpikir betapa kecilnya kita dihadapan Allah? Sungguh kecil, tidak ada apa-apanya, memikirkannya saja sungguh menyedihkan. Merenungkannya saja sungguh membuat rendah diri, karena betapa sering saya lalai, betapa selalu saya lupa bahwa saya tidak ada apa-apanya. Suatu hari saya tertegun, menangis karena nyatanya Allah begitu HEBAT. Menangis karena buktinya saya seringkali sombong, malu karena isi hati tak sebagus tulisan, tidak seindah ucapan, tidak sebaik perbuatan. Apakah selama ini saya hidup dalam topeng kepura-puraan. Saya menangis hanya karena memandangi gambar ini kawand, memperhatikan alam, memikirkan, dan merenungkannya.


Sungguh,ilmu saya begitu sempit karena bagaimanapun saya belum bisa membayangkan perbandingan matahari dengan bumi. Namun setelah dengan tidak sengaja menemukan gambar tersebut, saya belajar untuk lebih menghargai hidup. Mari kita renungkan dengan hati yang lapang, ada apa sebenarnya dengan gambar diatas? Sekilas memang terlihat biasa saja, teman-temanpun sudah tidak asing lagi melihatnya.Tapi ya Allah, betapa bumi yang saya diami ini begitu kecil, saya bahkan tidak bisa melihat benua asia, peta Indonesia, pulau jawa, atau bahkan kota bandung dari gambar ini. Dimana kota yang saya diami?, dimana kampung tempat saya tinggal?.Mana perumahan, sungai, pegunungan, dan kota-kota besar yang gedungnya,menaranya, begitu tinggi menjulang?. Masya Allah, nyatanya saya lebih kecil dari semua itu, sangat kecil dari debu sekalipun. Apakah mungkin sekecil bakteri atau molekul-molekul, yang untuk melihatnya saja butuh mikroskop. Subhanalloh, Walhamdulillah, Walaailaha’illalloh Wallohuakbar !!

Allah,

sungguh tak mungkin aku menduduki kursi kebesaranmu,

menggunakan sifat Maha Hebatnya Engkau
tidak pantas aku sombong di hadapan manusia,
tidak elok merasa diri paling sempurna
merasa diri paling benar
merasa diri paling hebat
sungguh tak pantas
bahkan jika Engkau pinjami aku selendang ke AgunganMu
meski sedetik saja

“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Ghafir 40:57)

Bahkan memandang langit atau bumi dengan pandangan biasa saja bersama sedikit kesadaran, sudah cukup mengantar manusia untuk mengetahui bahwa kita makhluk yang kecil dan kecil. Bahkan nol besar di sisi Allah swt. Lebih-lebih jika manusia mengetahui sekelumit dari hakikat alam raya ini.

Maka apa yang sebenarnya membuat manusia harus berbangga diri?sejatinya TIDAK ADA. Kita terlahir kedunia tanpa memiliki harta apapun, hidup numpang di bumi Allah, bisa hidup dan bernafas juga kalo di ijinin sama Allah,makan-minum juga dari segala sesuatu yang hakikatnya milik Allah. Sungguh betapa miskin dan kecilnya kita dihadapan-Nya.

Maka, sungguh sangat mudah bukan jika Allah menghendaki kehancuran bumi dengan cepat, tapi mengapa saya sebagai manusia justru seperti menantangNya?. Buang sampah sembarangan hingga terjadi banjir, merasa tak peduli dengan urusan penebangan hutan, pencemaran sungai, pengrusakan ekosistem tanah, air dan udara. Acuh dan merasa tidak berkepentingan dengan lingkungan, lalai dengan shalat, tilawah dan ibadah lainnya tapi justru fokus memburu dolar. Hingga rasanya iman terasa kering, merasa bahagia dalam fatamorgana hidup. Membuang-buang waktu seperti akan hidup selamanya (Astagfirullah). Bukankah ini bukti begitu arogannya saya?

Ah sudahlah, menulisnya saja malu. Seperti mengumumkan pada dunia tentang aib sendiri, da aku mah apa atuh. :'(

Sabtu, 31 Mei 2014

Da aku mah apa atuh?

da aku mah apa?
hanya seonggok tanah
hanya sekumpulan saraf dan darah
hanya rangka tulang berbalut daging

da aku mah apa?
hanya rangkaian sendi dan otot
hanya kumpulan organ dan jaringan
hanya sebuah sistem yang bersinergi
yang berwujud
yang bergerak
yang seimbang

katanya...
aku ini makhluk sempurna
yang Allah tiupkan ruh
yang Allah berikan akal
yang Allah sisipkan perasaan

da aku mah apa atuh?
bukan malaikat yang selalu patuh
bukan iblis yang selamanya ingkar
bukan binatang yang tak beradab

kini aku tau....
da aku mah makhluk sempurna
maka harus banyak bersyukur
da aku mah ciptaan Allah yang berakal
maka tak perlu banyak berputus asa
da aku mah punya perasaan
maka tak perlu saling menyakiti

Hai manusia,
Apakah engkau mengira dirimu kecil?

Tidak!
Dalam dirimu terdapat alam yang amat besar.

-------------------------------------------
"Hai manusia Apakah yang telah memperdayakanmu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah? Yang telah menciptakan-mu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikanmu seimbang; dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusunmu" (Qs. Al infithar [82]: 6-8)

Jumat, 09 Mei 2014

Save Our Children

Belakangan ini berita ramai oleh kasus kekerasan dan pelecehan seksual pada anak. Padahal masih hangat awal april lalu, mata dan telinga kita sibuk di jejali berita tentang pemilu dan parpol merah, kuning, hijau. Dunia terus bergerak, informasi terus berganti dan wawasan kita tentunya harus semakin terasah. Masalah akan semakin beragam, tidak lagi sembunyi-sembunyi tapi terang-terangan, teknologi yang maju cepat, dan mudahnya akses informasi membuat orang semakin kreatif. Ironinya ke kreatifan itu bukan dalam hal positif saja tapi dalam bentuk kejahatan. Belum selesai saya menulis, berita baru sudah bermunculan. Geram saya, sama berita dan berbagai kasus yang melibatkan anak-anak.

Jika hari ini mereka begitu kelabu, apa yang terjadi esok lusa?
Masihkah mereka berwarna?

Sungguh memprihatinkan, rasanya pengen marah. Ini musibah besar yang tidak bisa dianggap lumrah dan biasa. Dalam catatan ini, saya ingin mengulas kasus yang melibatkan anak, yang saat ini marak diperbincangkan, saya akan coba mengulas dari prespektif berbeda. Tulisan ini tidak akan menghakimi aparatur pemerintah baik itu dalam bidang keamanan atau pendidikan. Cukup, kita tak perlu menghubungkan satu sama lain untuk memperkeruh suasana. Karena menurut saya, ini adalah masalah bersama, yang bisa saja terjadi di lingkungan kita. Berita yang terjadi saat ini mungkin membuat para orang tua khawatir, sebagian dari mereka dilema, apakah membiarkan anak bergaul dengan lingkungannya, memproteksi sejak dini, atau bahkan memilih home schooling saja. Ada sebuah statmen yang baik, tapi saya lupa persisnya seperti apa. Kurang lebih garis besarnya seperti ini, "anak akan tumbuh dan senang bermain dengan lingkungan, dan teman-temannya. Sebelum semua itu terjadi, buatlah anak senang bermain bersama orang tuanya".

Peran orang tua tidak bisa dianggap main-main, beberapa kasus yang saya dapatkan di televisi, internet atau radio membuat hati saya tergerak untuk segera menulis. Ya, saya belum bisa berbuat banyak, hanya bisa woro-woro sama temen-temen, hanya bisa berbagi ilmu dengan orang tua murid, dan mengingatkan anak-anak mereka. Berharap catatan ini bisa membawa manfaat untuk yang berkenan membacanya.

Pemirsa yang budiman, perilaku menyimpang yang terjadi pada pelaku pemembunuhan, perkosaan, tawuran dan lainnya adalah cerminan gagalnya pendidikan moral di usia dini. Faktor itu didukung dengan lingkungan tempat ia tumbuh, dan bersama siapa ia bergaul. Sehingga penyimpangan moral yang terjadi pada seseorang (pelaku) tidak terjadi secara instan, tapi melalu beberapa proses. Menurut seorang ahli psikologi, ada 3 fase seseorang berkelakuan jahat, hal ini bisa kita telusuri dengan :
  1. Lihat siapa yang mengasuhnya sewaktu kecil, apakah orang tua, nenek, kake atau pembantu rumah tangga. Hal ini penting, mengingat usia dini merupakan masa “pemodelan” untuk anak. Jadi setiap peranan pengasuh akan tertanam kuat di dalam otak anak yang masih imut-imutnya itu. Peran ayah atau ibu yang baik atau buruk akan menjadi teladan untuk dirinya. Namun fase pertama ini, bukan satu-satunya hal yang bisa membentuk anak menjadi jahat. Karena fase pertama ini, dipengaruhi oleh fase berikutnya.
  2. Lihatlah lingkungan sosialnya, fase pemodelan di usia kanak-kanak dipengaruhi kuat oleh lingkungan. Dalam hal ini saya menyebutnya “imitasi”. Lingkungan yang saya maksud di sini, tidak hanya sebatas tetangga kanan-kiri, depan-belakang, tetapi segala sesuatu yang termasuk di dalamnya. Diantaranya seperti budaya, adat istiadat, sekolah, masyarakat, dan peranan media. Faktor media di fase ini sangat berpengaruh, bulan maret lalu saya menyimak salah satu berita miris: seorang remaja tega menganiyaya mantan pacarnya, hingga meninggal dunia karena alasan sakit hati. Ini adalah salah satu gambaran, bahwa pemuda masa kini kurang mampu menahan emosi. Namun menurut ahli psikologi, hal ini disebabkan karena ia senang menonton film pembunuhan dari masa kanak-kanak sampai ia tumbuh menjadi remaja. Faktor lainnya, ia merasa tidak disayangi oleh orang tuanya terutama ayah. Sungguh miris. Pun bahaya media bisa kita rasakan dari tayangan sinetron yang banyak menyuguhkan bullying, cinta monyet, aksi kekerasan tanpa kita sadari dan tayangan yang membuat mata dan hati jauh dari mengingat Allah, jauh dari hal yang membawa manfaat. Maka sungguh awal kehancuran bilamana anak “mengimitasi” apa yang ia lihat, apa yang ia dengar, apa yang ia temukan dalam lingkungan sosialnya.Jika 3 dari 10 orang anak di setiap daerah demikian, apa kabar Indonesia dari sabang sampai merauke? Apa jadinya Indonesia beberapa tahun kedepan apabila anak-anak dan remajanya sudah terlihat memperihatinkan. Betapa sungguh hal mendidik dan mengkader anak manusia, bukanlah perkara sederhana.“Jika ia tidak bisa mewarnai lingkungannya, tentu ia akan terwarnai oleh lingkungan”. Berhati-hatilah.
  3. Fase ketiga ini merupakan gabungan dari fase satu dan dua yaitu “penguatan”. Apa yang ia terima di lingkungan keluarga dan sosial, seiring waktu akan mengendap dan menguat di dalam otak. Itu bisa membentuk karakter, perilaku, dan akhlaknya. Dalam fase penguatan ini saya berasumsi sebagai berikut:
  • Lingkungan keluarga kondusif + lingkungan sosial kondusif = karakter anak menjadi kuat (sama/tidak terlalu jauh dari apa yang diharapkan).
  • Lingkungan keluarga kondusif  + lingkungan sosial kacau =
  • Jika ayah dan ibu bekerja sesuai dengan peran dan tugasnya, anak merasa aman dan nyaman berada di lingkungan keluarga. Lingkungan sosialnya tidak akan membawa pengaruh besar, selama pondasi yang orangtua bangun positif dan kuat.
  • Jika ayah atau ibu membangun pondasi positif tapi tidak kuat, anak bisa saja terbawa arus lingkungannya yang kacau.
  • Dirumah anak merasa tidak berharga + lingkungan kondusif  = anak merasa nyaman dengan lingkungan atau teman-temannya, (tumbuh kuat “mengimitasi” lingkungan sosialnya), tidak begitu dekat dengan keluarga.
  • Dirumah anak merasa tidak berharga + lingkungan sosial kacau = anak bosan hidup (merasa hidupnya tidak berarti), sistem dalam otak terganggu sehingga ia lebih berani mengambil resiko, melakukan segala hal yang membuat dirinya senang tanpa memikirkan baik/buruk.

Khusus untuk point ke tiga ini, saya menulis berdasarkan apa yang saya lihat di lapangan. Asumsi ini masih perlu di buktikan dengan penelitian, adapun teman-teman yang mengetahui teori atau lebih paham akan ilmunya saya tunggu keripik pedas untuk kita makan bersama. #eh

Baik, kita kembali ke pembahasan. Apa yang saya tulis di atas merupakan sedikit gambaran penyebab seseorang berperilaku kriminal. Lalu bagaimana dengan korban?, dalam hal ini baiknya langsung konsultasi dengan psikolog. Jika orangtua tidak cepat tanggap, dikhawatirkan anak akan mengalami gangguan mental. Sebuah penelitian menyebutkan, seseorang yang mengalami gangguan pelecehan seksual di masa kecil akan melakukan hal yang sama dimasa depan. Kurangnya perhatian dari orangtua dan tidak adanya terapi yang dilakukan terhadap korban, membuat 80% korban pelecehan seksual melakukan hal yang sama dimasa depannya, 20% lainnya mengalami gangguan mental dan menutup diri. Hal yang ingin saya tekankan dalam penulisan ini adalah: RE EDUCATION OF PARENT atau pentingnya pendidikan untuk ayah dan ibu dalam mendidik buah hatinya Evni Indriani seorang psikolog anak menjelaskan dengan beberapa hal yang saya tambahkan. Beliau menuturkan bahwa betapa krusialnya peranan orangtua dalam mendidik, ini keadaan DARURAT. Perlu adanya gerakan nasional dari orangtua untuk meminimalisir kejadian serupa. Adapun dibawah ini saya berikan oleh-oleh/bekal untuk orangtua dan para pendidik sebagai PR kita bersama, sebagai berikut :
  • Tanamkan pada anak, nilai-nilai agama sejak dini, hal yang paling penting adalah melatihhabit  yakni dengan contoh/teladan. Anak senang meniru sehingga ia butuh contoh kongkrit tidak abstrak. Oleh karena itu ketika menanamkan nilai-nilai baik, tidak bisa hanya dengan kata-kata.
  • Tanamkan nilai-nilai kebaikan (pendidikan moral) pada anak, karena Pada usia 0-7 tahun otak anak terbuka. Hal yang ia terima akan dilakukan ulang ketika dewasa.
  • Berikan ia pengetahuan dasar tentang kasus kekerasan, tidak peru detail. Bila anda bingung untuk menjelaskan pada anak mari kita diskusikan ^_^

Semoga bermanfaat,
Masih belajar menuangkan pemikiran 
Sangat berharap kritik yang membangun, dan saran yang mencerahkan.
My little home, di sela-sela penulisan skripsi: 8 Mei 2014 Pukul 08.08 PM
Mutia Azahra

Senin, 14 April 2014

Untuk April

Halo april, kau adalah bulan dalam do'aku yang kusebut untuk wisuda. Tapi itu dulu, sebelum banyak prakira tak terduga yang tak mereka tahu. Ah memang tak perlu banyak yang tau. Tapi sungguh aku merasa asing, berjalan dikampusku sendiri. Apakah semua mahasiswa tingkat akhir yang belum berakhir merasakan sama??.

Lihatlah, mereka bertanya kenapa aku banyak menunda.
Dengarlah, mereka berargumen mengapa malas dan ini itu di telinga
Tersenyumlah, atas berbagai hal yang mereka tak tau mengapa...
atas berbagai pertanyaan...
atas banyaknya sangkaan...
sungguh tak perlu mereka tau mengapa..

Hai april, sahabatku satu persatu melaju dengan cakapnya
Meninggalkan aku yang bukan siapa...
Aku tidak sedih, aku tidak ingin menangis.
Aku hanya merasa 
Sepi...

Bahkan rasanya kampus begitu...
ah sudahlah, ini hanya karena sepi
yang terkadang membuat melankolis
mungkin karena sudut kelas dan tempat bersejarah ini
dulu terdengar ramai, terlihat sibuk
oleh tawa mereka
oleh banyak kesimpulan dan argumen
oleh orasi dan persaingan
oleh cerita cita,cinta dan cakap yang tak bermakna
bukankah terkadang itu membuat rindu

dan kini wajah-wajah baru ini menemani sepiku
meski sepi dalam ramai...
yang ku tau, sidang di depan mataku
yang ku yakini, semua selesai pada waktunya
mungkin menurutku tidak tepat,
tapi bagiNya itu adalah waktu yang tepat
maka cukup, bisakah tidak untuk bertanya lagi

Rabu, 26 Maret 2014

Untuk Angin

Beberapa hari dipekan ini, aku melewati jalan yang sama, penuh history membuat aku masuk dalam ruang waktu yang sebenarnya ingin aku hapus. Berjalan dengan semua asa yang aku punya, bahkan aku hafal detail sudut jalan, pertokoan dan perumahan di area ini, semua karena terlalu seringnya aku mondar-mandir untuk penelitian. Tapi ini menyakitkan, karena sejarah silam itu bagiku telah terkubur bersama putaran waktu. Haruskah aku menggali semua, membuka kembali lembaran album yang nyatanya telah berdebu?. Itu akan membuatku sesak.

Angin, aku ingin berbicara suatu hal padamu. Tentang keributan di senja hari, tentang celotehan tak berujung yang membuat engkau selalu mengalah - apa, mengalah?. Ah bagiku bukan mengalah, kau justru membuat semuanya menggantung diatas langit. Beterbangan. Bahkan bagiku kau selalu berpura-pura tak peduli, bagiku ka selalu berpura-pura tak tahu. Bukankah terkadang itu menyebalkan?. Kau tak pernah tau, bahwa aku adalah seseorang yang pandai menyimpan sejarah, menyimpannya dalam museum. Tapi kenyataannya, kau tak bisa aku simpan dengan mudahnya di museum. Ruang kecil berbingkai itu, tak cukup membuatmu masuk untuk aku museumkan-kau terlalu bebas berkeliaran. Nyatanya Tuhan ingin kita berdamai, menikmati hidup dengan berjalanya waktu. Tapi aku tidak mau mengerti untuk hal ini, berkawan dengan angin liar sepertimu terkadang menciptakan angin panas yang bisa membuatku gerah. Ya, karena bagimu mudah saja, pergi menjadi angin spoy dan berusaha tak peduli atau menjadi puting beliung meluluh lantakan semua.

Angin, aku tak mengerti. Apakah ini pembenaran diri atau sebenarnya diriku telah terjebak oleh tipuan, seperti tipuan bias dalam pelangi. Bisakah kau ceritakan dan jelaskan kepadaku tentang semua ini, pemahaman baru tentang cara berdamai terbaik. Aku pikir kau memiliki pengalaman hebat yang bisa kau bagikan untuk ku, tentang mengingat untuk melupakan. Atau mungkin kau tak pernah mempunyai kamus tentang dua hal itu? Karena aku menganggap semua ini adalah sebuah analogi :

Aku dan kau bertemu bukan secara kebetulan, dipertemukan bukan karena ketidak sengajaan. Seperti gerhana, yang membuat matahari dan bulan lurus sejajar bersamaan, meski tidak untuk selamanya (mutia azahra, 2013)

Maka Angin, biarkanlah aku luruh seperti daun yang jatuh. Meminta maaf padamu dan alam yang lebih tahu tentang kita, tentang semua hal yang bagiku tak perlu penjelasan. Tentang aku yang selalu marah, menyalahkan, menydutkan, membuatmu merasa tak nyaman. Atau mungkin aku saja yang terlampau membuat semua ini begitu rumit, ya aku saja yang membuat ini begitu kompleks. Aku terlalu ingin menutupi bahwa cermin yang retak itu baik-baik saja. Aku terlalu ingin meyakinkan mu bahwa diantara kita "just friend" and "enough". Nampaknya aku terlalu memaksakan, dan semua itu terkesan seperti memilukan. Aku tau, kau tidak ingin membuat dirimu menjadi beban untukku bukan? maka kau pergi dengan seluruh ego yang kau miliki. Kau benar-benar seperlunya, benar-benar tak peduli. Aku lega, meski sebenarnya aku tak mengerti apa yang aku inginkan.

Maka semua laku diriku tentang apa yang kau lihat selama ini adalah salah, aku takan mencari pembelaan. Biar saja kau yang menilai, tentang sudut pandangku akan seAbreg hal yang kau miliki. Kau cukup cerdas untuk mengenalku, dan untuk kali ini aku mengalah, aku mengalah padamu yang sabar mengikuti apa mauku, meski nyatanya bagiku kau terlalu keras kepala. Maka berhentilah untuk menerka apa yang aku pikirkan dan apa yang aku lakukan. Pura-pura tak tau, hingga akhirnya terbiasa dan akhirnya benar-benar tidak tahu.

Angin, bagiku catatan ini adalah kamus yang ingin kau baca ditahun lalu, tapi aku berusaha untuk tidak peduli. Mungkin kau menganggap aku terlalu hiperbola, membuat rumit hal yang sederhana. Tapi bagiku tidak demikian, ini adalah salah satu cara agar aku bisa berdamai dengan diriku. Taukah kau mengapa demikian, karena aku selalu berusaha agar waktu bisa menghapus semuanya. Memotong dengan paksa setiap bunga liar yang tumbuh-mengotori rumah. Cukup, semua ini karena aku selalu berusaha menghargai pemilik rumah yang sesungguhnya.

Minggu, 12 Januari 2014

Great Mother

Bismillah, ini adalah catatan akhir tahun.
Catatan lepasku dipenghujung masehi 2013

Kawan, kau tak pernah tau akan terlahir kedunia menjadi wanita bukan?. Begitupun sama dengan pria, mereka tidak pernah meminta sebelumnya untuk di jadikan laki-laki. Allah sebaik-baik pencipta dan hakim yang bijaksana. Perjalanan ikhtiar menuju lulus ini ternyata menjadikan saya belajar meneliti dan memaknai hidup untuk lebih bijaksana. Karena selama perjalanan, ternyata saya justru banyak bergaul dengan banyak ibu-ibu. Bertukar pikiran dan belajar dari kisah hidup mereka. Akhir-akhir ini saya menyadari sesuatu, wanita hebat bukan dari karier mereka yang selangit. Justru dari kegigihan mereka mendidik anak-anaknya menjadi luar biasa. Saya jadi paham mengapa beberapa teman sebaya saya bercita-cita hanya menjadi ibu rumah tangga. Terdengar seperti klise atau lelucon, tapi disana terdapat niatan tulus yang mungkin baru saya temukan akhir-akhir ini.

Sebagai orang yang bergerak dalam pendidikan, saya menjadi sedikit melek terhadap peran ibu dan perkembangan anak. Hihi terdengar aneh tapi ternyata itulah yang musti saya hadapi akhir-akhir ini. Bergaul dengan ibu yang memiliki anak pendiem, pemalu, sampe dengan anak yang kagak bisa diem kaki-tangan dan mulutnya adalah tantangan yang luar biasa. Latar belakang anak yang berbeda-beda menjadi pelangi dikelas kehidupan saya, dari mulai  anak yang ortunya super sibuk, broken home, sampe dengan seorang anak yang mengaku orang tuanya adalah preman.

Hal ini membuat saya paham, bahwa jadi ibu itu HARUS HEBAT. Gak bisa asal mendidik, ga boleh asal suruh atau marah. Ingatlah bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Klo seorang ibu tidak siap, ia akan terjebak dengan pola asuh orang tuanya zaman dulu (mengasuh dengan pola turun temurun). Padahal tidak semua anak bisa diperlakukan dengan pola asuh yang sama. Intinya - seorang ibu memang kudu cerdas kawan ! Hasil dari sebuah penelitian menyebutkan,

masa kanak-kanak merupakan gambaran manusia sebagai manusia. Perilaku yg berkelainan pada masa dewasa dapat dideteksi pada masa kanak-kanak.

Coba kita renungkan, akhir zaman ini banyak sekali orang dewasa yang 'luar biasa'. Akhlaknya amburadul, imannya wallohu'alam, agamanya tanda tanya, sifat dan karakternya innalillahi. Perampokan, penculikan, pemerkosaan, pembunuhan, tawuran, korupsi, dan segala bentuk kejahatan lainnya tentu dilatar belakangi oleh faktor x. Salah satu faktor x itu adalah keluarga, why? karena kelakuan anak yang menyimpang seharusnya bisa di atasi sejak dini oleh keluarga. Itulah mengapa anak perlu pondasi  agama & akhlak yang kuat sejak dini. Agar sifat dan karakter nya mengakar tidak terbawa arus zaman. Disini peran orang tua sangat berpengaruh, anak di usia dini masih harus di ingatkan tentang sebab-akibat, benar-salah. Rata-rata di usia dini, anak senang dengan barang yang bukan miliknya, berbohong karena takut dimarahi, dan berkelakuan semaunya karena rasa ingin tahunya yang tinggi. Bila sejak dini dibiarkan ? apa jadinya bangsa ini?

Oleh karena itu pernikahan bukanlah soal yang bisa kita anggap sederhana, karena dibalik semua itu ada sebuah tanggung jawab yang tidak bisa di kesampingkan. Masalahnya untuk menjadi orang tua yang hebat tidak ada sekolahnya, sehingga banyak orangtua yang mendidik hanya berdasarkan pengalaman hidupnya. Di lingkungan keluarga, interaksi pendidikan dapat terjadi setiap saat tanpa kita sadari. Saat orang tua bertemu, berdialog, bergaul, dan bekerjasama dengan anak-anaknya. Saat seperti itu banyak perilaku dan perlakuan spontan yang diberikan kepada anak, sehingga besar sekali kemungkinan terjadi kesalahan-kesalah mendidik.

Wah, banyak sekali sebenarnya yang ingin saya bahas disini. Sebagai oleh-oleh akhir tahun, saya berikan info penting untuk teman2, kaka, bibi, tante, calon ibu, atau ibu2 muda. Boleh di catat, disebarkan dan tentunya diamalkan. Berikut ini adalah catatan seorang psikolog anak, laksmi adhiyani setiawan s.psi, saya dapat ini dari teman.

Ada 13 permintaan anak, yang mungkin tidak pernah mereka ucapkan :

  • Cintailah aku sepenuh hatimu
  • Aku ingin jadi diri sendiri, maka hargailah aku
  • Cobalah mengerti aku dan cara belajarku
  • Jangan marahi aku didepan orang banyak
  • Jangan bandingkan aku dengan kakak atau adik ku
  • Bapak ibu jangan lupa aku adalah photocopy mu
  • Kian hari umur ku kian bertambah, maka jangan selalu anggap aku anak kecil
  • Jangan membuat aku bingung, maka tegaslah padaku
  • Jangan ungkit – ungkit kesalahan ku
  • Biarkan aku mencoba, lalu beritahu aku bila salah
  • Aku adalah ladang pahala bagimu
  • Jangan memarahi aku dengan perkataan – perkataan yang buruk, bukanlah apa yang keluar dari mulut mu adalah do’a bagiku?
  • Jangan melaranngku hanya dengan kata “jangan”  tapi berilah penjelasan kenapa aku tidak boleh melakukan hal tersebut

Ups, tanpa sadar ternyata note ini cukup panjang.
Terimakasih telah meluangkan waktunya untuk membaca, semoga bermanfaat.

Bukan menggurui, mari kita sama-sama belajar.
LET's BECOME  a GREAT MOTHER !

Senin, 30 Desember 2013

Berat...

jika nafasmu terasa berat karena masalah, maka bukalah matamu.Lihat, amati dan pelajari sekitarmu, kau akan tau bahwa masalahmu begitu kecil (mutia azahra)
kau tidak akan pernah bisa mensyukuri hidup, jika mata hatimu begitu buta terhadap sekitarnya, jika telinga begitu tuli untuk sekedar empati (mutia azahra)

Minggu, 29 Desember 2013

tentang pembimbing skripsi...


Aku ingin terbang, melepas penat semua ini. Tapi tidak bisa, aku diminta berkawan dengannya menyelesaikan semua secara baik-baik.

Dear, pembimbing skripsiku.
Sekalipun aku ingin lulus. Aku tak akan memintamu untuk cepat-cepat meluluskan aku. Aku tidak akan memaksamu meng ACC skripsiku agar aku cepat-cepat sidang. Aku tak akan membebanimu dengan egoku.

pembimbing yang baik, aku hanya meminta tanggung jawabmu membimbingku. Meluruskan jika salah, memberikan saran dan memberitahu apa yang sebenarnya harus aku kerjakan.Karena niat aku lulus bukan untukmu dan bukan karenamu. Aku hanya meminta kebaikan Alloh lewat dirimu. Maka, izinkan aku memaksimalkan ikhtiarku, berusaha dengan kemampuanku. Mencoba luruh seperti hujan, seperti daun yang jatuh, seperti aktor yang menuruti titah sutradaranya.

Biarkanlah Alloh yang memberikn gelar untukku, karena sungguh rintihku dalam hening untukNya lebih membuatku tentram. Ia Sang Maha Bijaksana yang menentukan apa-apa yg akan terjadi padaku...

dan oh dear, siapapun itu.
Berhentilah bertanya kapan aku lulus, kapan aku sidang, kapan aku wisuda. Coba tanyakan saja pada Alloh, sungguh aku belum tahu kapan. Aku masih berdoa dan berusaha, semua ada proses dan waktunya bukan? 

dan satu hal lagi, jangan bebani aku dengan masa depan yg belum pasti. Tentang mimpi-mimpi, rencana dan banyak hal lainnya yang masih rahasia. Biarkan aku menikmati perjuangan skripsiku, menikmati? ya, tentu saja dinikmati. Sungguh, lelah berjuang itu lebih nikmat daripada lelah fisik dan hati karena menganggur.

Rabu, 20 November 2013

PHOTO ?!

Ada beberapa kawan, yang mungkin sangat perhatian sekali terhadap saya. Dan seharusnya saya berikan ia piala atau penghargaan untuk hal tersebut. Beberapa kawan baik laki-laki atau perempuan itu mempertanyakan kenapa saya tidak memajang foto sendiri di halaman fesbuk saya. Saya pengen banget senyum gak tau kenapa, klo ada yang nanya seperti itu. Rasanya perhatian bener, sampe2 tau kalo foto saya jarang/gak pernah terlihat eksis di media jejaring tersebut. Padahal aslinya saya senang di foto dan hunting foto.

Sebenernya ini bukan karena gak pede, bukan karena gak mau, bukan karena saya seorang akhwat atau apapun itu. Tapi karena masalah hati, #huek mulai terasa lebay-red. Ya memang begitu, hati saya gak tentram mana kala ratusan orang memandangi foto saya yang barang kali tengah tersenyum atau narsis itu. Memang gak masalah klo orang yang mandanginnya biasa2 aja, gak peduli dan merasa tidak berkepentingan. Tapi rasanya resah aja, kalo dari seratus orang itu, satu orangnya tersepona, atau justru menganggap spesial foto saya itu. Ah bilang apa ntar saya sama Allah klo kejadiannya seperti ini? Innalillahi. itu adalah point satu. Point yang kedua adalah, saya mahal. Eiiits sombong bener ya. Maaf-maaf, bercanda tapi ada benernya juga ya, mungkin lebih tepatnya karena saya tidak mau mengobral wajah yang pas-pasan ini untuk orang yang baru kenal kemarin sore. #o'oW. Tapi memang begitu, karena wanita adalah fitnah bagi laki-laki, jadi sejatinya saya sedang mawas diri.(banyaknya penduduk neraka itu perempuan kawand)

Point yang ketiga, saya tidak haus pujian cantik, geulis, beautiful dan apapun itu. Justru terkadang saya malu dikatakan begitu, karena apa yg dilihat mungkin tak secantik akhlak atau hatinya. Malahan ada orang yang pernah saya tegur, karena dia bilang saya cantik. Agh, pujian hanya akan membuat kita tinggi hati, padahal manusia tak berhak memiliki baju kebesaran Allah itu. Kecantikan akan pudar termakan waktu, Allah Maha berkuasa, bahkan ia bisa membuat buruk rupa orang yang mempesona sekalipun. Point ke empat takut pembohongan publik, suatu ketika saya pernah secara tidak sengaja mendengar perbincangan anak remaja perempuan di angkot. Anak itu bilang, eh dia itu yang nama FB nya zzzzt kan? iya, kenapa gitu kata temannya. Ih kok aneh ya, di FB mah putih, cantik, bersih, naha aslinya mah beda banget. Pembicaraan singkat itu membuat saya termenung, ya Alloh jangan2 selama ini saya ingin terlihat luar biasa, di depan orang. Padahal aslinya mah hitam, legam, tak ada yang bisa dibanggakan. Dan saat itu saya bergumam, saya memang tidak cocok untuk difoto. Lebih oke lihat lansung daripada photo, karena nyatanya sy bukan photojenik. hahaha....

Sabtu, 02 November 2013

Penghujung Bulan yang Mulia

Katakanlah hari, aku yang begitu lalai terhadap waktu yang berputar dengan cepatnya. Meninggalkan jejak penyesalan tiada terkira, melengkapi ruang kosong dan dinding zaman yg lapuk termakan ke egoisan. Katakanlah hari, aku yang tak pernah bergegas, terlalu santai dan tak mampu istikomah di bulan yang Engkau agungkan. Bahkan mungkin catatan kebaikan dibulan baik ini, tak ada apa-apanya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

sungguh aku bukan apa dan siapa
karena nyatanya...
aku tak mampu menahan waktu
memintanya kembali
atau bahkan menghentikannya barang sedetik

katakanlah hari...
begitu bodohkah aku?
yang tak mampu memanfaatkan waktu
sungguh, begitu ruginya

maka,
ketika alam menyerukan melodinya
suara bocah kecil riang gembira
sorak soray, pemuda-pemudi penuh tawa
dentuman petasan dan kembang api
ibu dengan kue, opor dan ketupatnya
bapak dengan zakat, kebun dan ternaknya
hiruk pikuk orang-orang yang berjibaku dengan tugasnya

katakanlah hari,
aq bukan lagi anak kecil yg riang dengan lebaran
yang senang dengan pakaian atau sepatu baru
menanti rupiah dari sanak saudara atau family

bukan...

karena nyatanya
lantunan takbir, irama bedug
dan instrumen alam di akhir ramadhan ini
membuat hatiku gerimis
seolah, akan di tinggal pergi oleh bulan yang mulia itu
seperti akan ditinggal jauh...
entah akan bertemu dengannya lagi, atau tidak

maka, tak bolehkah hujan berdiam di kelopak mataku?
untuk sebuah kondisi layaknya seorang yang ditinggal pergi
ingin rasanya merengek...
layaknya bocah kecil yang diambil permennya

cukup...

katakanlah hari...
bahwa ramadhan adalah untuk orang-orang
yang mampu meramadhankan hatinya

bukan...
bukan saat ramadhan
tapi setelah ramadhan itu pergi meninggalkannya


catatan introspeksi :
~ mutia azahra, syair ini tertulis asli di facebook saya tanggal 8 Agustus 2013

Perasaan Liar

Rumput liar itu sifatnya merusak tanaman, jadi tak perlu diberi pupuk dan disiram. Ia akan dengan sendirinya tumbuh & mengambil sari-sari makanan dari tumbuhan lain. Membuat kotor lingkungan, dan kumuhnya sebuah rumah. Coba tengok rumah-rumah yang tidak terawat, banyak ditumbuhi rumput liar setinggi jendela. Dan biasanya dijadikan bascamp makhluk-makhluk kasat mata pun orang-orang pengumpul dosa.

Tidak jauh beda dengan perasaan liar, jika memang niat untuk serius menikah dengnya saja tidak ada. Melamar dan bilang sama orgtuanya-pun tidak punya keberanian. Haruskah kita menyimpan perasaan liar itu? Membiarkannya tumbuh mengotori hati dan pikiran. Membuat syetan tertawa senang dan semakin kerasan bersemayam.

Barang siapa yang tidak menyibukan diri dalam kebaikan, maka syetan akan menyibukanmu dalam keburukan.

Baiknya seperti apa? klo tidak dengan menikah ya tentu saja berlatih, berlatih dan berlatih untuk memangkas perasaan itu. Memotong bunga-bunga rindu dengan teganya. Memaksa hati untuk menormalkan perasaan. Susah memang, tapi bisa. Karena Allah sebaik-baik yang membulak-balikan hati. Maka perasaan liar itu jangan kau siram dengan perhatian, kau beri pupuk rindu dan rasa yang spesial (rasa spesial? yummy, terdengar seperti martabak). Yaa tidak apalah jika kau senang rumah hati mu tertutup rumput liar, membuat gelap, kotor, bau, tak terawat.

Setiap PANDANGAN yang tidak menghasilkan IBROH (pelajaran)
adalah KELALAIAN AKAL
Setiap DIAM yang tidak mengandung PIKIRAN adalah KELENGAHAN
Setiap BICARA yang tidak mencerminkan DZIKIR adalah SIA-SIA

Sahabat Ali Ra berkata :
semua kebaikan terangkum dalam 3 kata
Pandangan - Diam - Bicara

Orang yang hatinya selalu lekat dengan nama-Nya maka Allah akan menjadi matanya ketika dia melihat, Allah akan menjadi kakinya ketika dia melangkah. Allah akan menjadi tangannya ketika dia berbuat, Allah akan menjadi otaknya ketika ia berfikir.

Jika sedang dan akan mengerjakan sesuatu, hatinya selalu bertanya.
"Apakah Allah suka dengan yang saya kerjakan ini?" 

Membiarkan hati di tumbuhi perasaan liar, sama artinya membiarkan tanaman dosa tumbuh di dalam rumah hati. Perasaan tersebut mungkin saja terasa indah, menyenangkan, membuat bahagia.Tentu saja rasanya indah, apalagi kalo yang ditanamnya bunga. Tapi apa jadinya jika bunga yang ditanam justru bunga berduri atau tanaman perasit yang merugikan? Seperti itu pun dengan perasaan liar, rasa bahagia yang tumbuh tidak akan mendapat pahala. Rasa rindu yang bersarang tidak akan membawa manfaat. Justru mungkin sebaliknya, memakan nutrisi-nutrisi pahala yang kita miliki. Membuat tanaman hati kita tak lagi sehat, dipenuhi hama, tanpa kita sadari. (Naudzubillah --")

ingatlah baik-baik."sesungguhnya SETAN itu adalah sesuatu yang PINTAR tetapi LEMAH. Sedangkan NAFSU adalah sesuatu yang KUAT tetapi BODOH. Jika keduanya bersatu, maka bertekuk lututlah manusia sehingga menjadi BODOH & LEMAH karena dikuasai SETAN yang PINTAR dan NAFSU yang KUAT" (anonim)

Yuk, kita kendalikan perasaan.
Agar indah, bersih dan menentramkan. Terhindar dari bisik-bisik nafsu yg menipu daya.
Bukan menggurui, tp mari kita sama2 berlatih mengendlikan hati


Yeaa, Latihan menulis lagi (^_^)
~mutia azahra, Catatan ini, tertulis asli di Faebook saya tgl 4 September 2013.

Sepucuk Surat Cinta Untuk Allah

Allah...
bisakah aku untuk tidak peduli
tak peduli atas apa yang mereka kata
atas pujian yang sejatinya hanya milik Mu
atas setiap ke kaguman yang sebenarnya tak berhak ku kantongi

Allah...
betapa ikhlas sulit rasanya
ajarkan aku tak peduli tentang apa yang mereka dengar
biarkan aku tetap tak peduli tentang apa yang mereka bincangkan

Allah...
lapangkan hatiku untuk setiap nasihat
Jagalah aku dengan penjagaanMu
Agar mata menjadi bening karena terjaga
Agar hati menjadi indah karena terbingkai

Allah...
aku tak berhak memakai baju kebesaran-Mu
merasa diri paling benar
merasa diri paling baik

Allah...
jangan binasakan aku
jangan hancurkan aku dengan penyakit hati
jangan biarkan diri angkuh
jangan biarkan pahala lebur karena tak ikhlas

Allah...
Allah...
Allah...

Jangan biarkan aku hancur karena sangkaan benar yg salah
Jangan biarkan aku terpuruk karena sangkaan baik yg nayatanya buruk
lindungi aku dari pujian yang membuat lengah
lindungi aku dari rasa sombong yang membuat binasa
Jadikan aku lebih baik dari prasangka hamba-hambaMu

ajarkan aku untuk menundukan hati
menjadi pribadi sederhana yang bermanfaat
ajarkan aku untuk ikhlas diri
beramal karenaMu bukan karena manusia

Allah...
Jika surga enggan menerimaku
hendak kemana aku pergi?
Bila neraka tempat ku berdiam
amalan apa yang bisa kuperbuat untuk pergi darinya?

Allah...
aku mengemis cinta dari Mu
hamba tak berpunya yang sering meminta
meringis tangis berharap Kau dengar
mengadu pilu berharap Kau tau


----------------------------------------------------------
created by, mutia azahra
ditulis dengan lapang, sebagai catatan renungan.

Jumat, 27 September 2013

cerita di jumat september 2013

Semangat, karena aku sudah berjanji utk tetap semangat dan tidak mengeluh. Tidak menyerah pada keadaan dan lingkungan yang tak mendukung. semangatlah, karena aq selalu berajam semua ini tergerak hanya karenaNya.

Bismillah, saya berniat......
Tahun ini karena Allah.

Sabtu, 15 Juni 2013

Rasanya Sedih :'(

Tak tau mengapa, rasanya sedih jika mendengar seseorang dengan muka memelas meminta pertolongan, meminjam rupiah untuk menyekolahkan anaknya. Rasanya sakit entah mengapa, ada seperti rasa empati yang kuat untuk hal itu. Hal yang terkadang membuat aku flashback atas hari-hari lalu yang sedikit mewarnai perjalanan hidup. Teringat smp silam, salah seorang kawanku mengajak bicara. Matanya membendung air bening, menahan tangisan yang terpenjara. Dengan haru ia menceritakan kondisi keuangan keluarganya, meminta empati agar aku bersedia membantunya. Hanya, membantu untuk membayarkan uang ujiannya. Dan hari ini, seorang nenek dengan wajah berharap bertanya apakah aku memiliki sedikit rupiah untuk mendaftarkan cucunya sekolah. Ada sedikit kekecewaan dan rasa sedih yang bercampur. Kecewa, atas anaknya yag tak mampu untuk membahagiakan ibunya, kecewa atas anaknya yang tak bisa menyekolahkan, hingga harus ibunya yang membayar keperluan cucunya.

lalu, haruskah aku menutup mata? pura-pura tuli, atau acuh tak peduli. Melihat tangisan dan wajah memelas, mendengar rintih dan ucapan2 meminta tolong. Aku sungguh tak bisa Tuhan, aku tak bisa jika hanya berdiam dan merasa iba. Bukankah Engkau yang mencukupkan aku dengan semua, membiayaiku, memberiku rizki yang tiada terkira. Mencukupkan aku hingga ku mampu menjadi orang yang berpendidikan. Menyekolahkan aku hingga sekolah yang tinggi, yang tak sempat aku pikirkan darimana biayanya. Tapi nyatanya Engkau selalu mendengar rintihku. Dan kali ini, jika aku begitu arogannya, jika aku begitu angkunya, jika aku adalah orang yang tak bersyukur padaMu. Barangkali tak perlu aku peduli, tak usah aku hiraukan.

Minggu, 09 Juni 2013

tentang penantian :')

Hari ini, aku membiarkan tangan dan pikiranku mengalir bagaikan air. Mengguyur deras bagaikan air tejun, menciptakan riak dan gemuruh keras dalam hening hutan yang beriramakan alam. Mengusik pipa-pipa kehidupan yang sering kali orang-orang bicarakan. Aku tertegun, mendengar sebuah kata penantian dari beragam orang dan usianya. Dari karakter dan pekerjaannya. Membuat jemariku ini tak tahan lagi menulis, entahlah barangkali hanya sebuah tulisan iseng dari seorang penulis lepas-penyair amatir.

Beberapa bulan di tahun ini entah berapa puluh kartu undangan yang aku terima (lebay :P), beberapa teman mungkin galau karenanya, ia selalu berdo'a dan berharap pangeran berkuda putih segera menjemputnya (hehehe.....). Tak ayal banyak diantaranya yang berkata bahwa ini tentang penantian. Kita memang tak pernah tahu, namun lambat laun aku mengerti bahwa Allah sedang mendidik hambaNya untuk belajar menjadi orang yang lebih baik. Bukankah orang yang baik untuk yang baik pula. Itu adalah janji Allah dalam Al-Qur'an ; menyemangati muda-mudi yang 'GEGANA' GElisah Galau dan meraNa untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Belakangan ini aku menyadari suatu hal, penantian tercipta bukan untuk orang-orang yang galau siapa jodohnya. Kawandku yang sudah menikah saja bisa galau dan dibuat menunggu. Sedikit di buat cemas dan khawatir. Entah bagaimana, tapi rasa penantiannya mungkin tidak jauh berbeda. Bahkan ada yang harus menanti berpuluh tahun untuk diamanahi seorang putra, lagi-lagi Allah sedang mengajari hambaNya untuk bersabar. Bukankah penantian itu indah? tentu saja indah jika dibarengi dengan ikhtiar, iman yang kuat mengakar dan ikhlas yang kokoh menopang. Dalam penantian menunggu sang buah hati tentu banyak ujian bukan? karena barang kali tidak sedikit orang yang menggunjing, menyindir secara halus atau mengakhiri sebuah ikatan yang telah dibangun. Ah lagi-lagi tentang penantian. Dan hari ini aku dibuat tertegun kembali, bahwa sejatinya semua sedang dibuat menunggu-menantikan sebuah masa bernama KEMATIAN.

Hidup adalah rangkaian penantian
Dimana bingkainya adalah ibadah
Sebagian tercipta dari lirih keluh kesah karena menunggu
Lain waktu adalah bisikan hati yg mencoba teguh
Bahkan mungkin, dari air mata penuh tanda tanya
Atau sekedar senyum dan tawa penghibur, pelepas penat

maka percayalah,
jika sebuah penantian tercipta dari ikhtiar panjang
terbuat dari rangkaian ibadah hanya karenaNya
terlukis dari rintih sabar, tangis ikhlas untukNya

maka,
seorang anak tak akan menangis menunggu ayah bundanya
seorang pelajar tak akan cemas menunggu kelulusannya
seorang mahasiswa tak akan stres berharap cepat wisuda
seorang remaja tak akan galau dengan status singelnya
seorang suami-istri tak akan gelisah atas penantian buah hatinya
seorang kake-nenek tak akan putus asa atas hidupnya
dan keluh kesah seorang yang di uji sakit tak akan pernah kita dengar
karena Allah sebaik-baik sutradara hidup
script writer terbaik dan hakim yang paling bijaksana

Hidup adalah bergerak
tak bisa jika hanya menunggu dan menanti
orang yang menunggu kaya sejatinya tak akan pernah kaya
orang yang mnunggu Allah berikan
kecerdasan, keahlian, keshalehan
akan sulit untuk maju dan berkembang
karena waktunya terisi oleh penantian tanpa ikhtiar

hidup ini tidak se klise dongeng
perlu diperjuangkan!

Ini bukan catatan cinta kawand, bukan pula cerita pengantar tidur. Ini hanya tulisan pengingat yg mengingatkan daku akan sebuah penantian bernama kematian. Karena dalam proses menanti itu kita tidak boleh hanya duduk diam dan menunggu, Allah memerintahkan kita untuk beribadah. Maka jika kita tahu bahwa penghujung hidup ini adalah mati, mengapa daku masih saja malas untuk beramal? Ogah bersedekah? lalai sholat dan enggan untuk mengaji?

“Jika dalam kondisi sadar, sehat jasmani dan rohani saja kita sudah tidak mampu melawan hawa nafsu. Terpedaya untuk mengikuti rasa malas & bisik syetan terhadap keburukan. Lalu bagaimana dengan gambaran syakaratul maut kita?

Yang kondisinya dalam keadaan sakit luar biasa, bahkan mungkin dalam kondisi antara sadar dan halusinasi. Akankah kita terpedaya? Oleh bujuk rayu syetan yang dikala itu mengajak kita berpindah agama”

Wallohu’alam hanya amalan dan ridha Allah saja yang akan menyelamatkan. Lalu apakah selama menanti kematian kita tidak akan beriktiar?

Kawan, yuk ah jangan pernah mau diperbudak oleh hawa nafsu yang hina. Ridha Allah dan amalan kita semasa sehat dan sadar adalah cerminan syakaratul maut kita. Pergunakan waktu yang kita miliki dengan penuh rasa syukur. Jangan lupa berdoa untuk kematian yang husnul khotimah.

Akhir kata penulis tegaskan, bahwa penantian tidak bisa diartikan dengan menunggu fakot (baca: aja), tapi merupakan rangkaian ikhtiar yang hasil keputusanNya bisa kita terima dengan ikhlas dan lapang. Jadi mau kapan, siapa, apa, dan bagaimana tidak perlu dipermasalahkan selama kita masih tetap berusaha dan berada di jalan yang Allah gariskan. Be better for Life!

By, mutia azahra
edisi renungan.

Sabtu, 25 Mei 2013

Bukan apa dan siapa

Ada apa,
Aku bukan gula !
Aku bukan kembang desa !
Aku bukan artis atau penyanyi !
Aku bukan salah satu dari girl band !

agggh gak suka, bisakah berhenti untuk seperti ini
kau..kau..kau..kau...kau...dan  kau....
tolong, saya gak suka di puja atau di puji

dikagumi atau dijadikan idola sekalipun
gak usah kangen, gak perlu ingin ketemu
tak ada yang sempurna dan perlu di agung-agungkan
jika kalian tau, saya punya banyak dosa dan kekurangan

Berhentilah mendekat..
justru hal ini membuat saya banyak menangis
bahwa saya akan menjadi fitnah bagi kalian
bahwa nyatanya saya belum dapat menjaga izzah seorah muslimah
hingga kau..kau..kau..kau...kau..dan  kau.....
menjadi tersepona oleh kilauan semu
yang nyatanya bukan apa dan siapa..

aku mohon berhenti dan menjauhlah..
jangan hiraukan apa yg saya lakukan terhadap kalian
tutup telinga jika saya pernah memuji
tutup mata jika saya pernah membuat anda terpesona
tutup hati jika saya pernah membuat anda ingin memiliki
tutuplah semua rasa, jika semua rasa itu belum halal kau utarakan.

Allah, maafkan aku dan hamba..hamba.. Mu

Selasa, 21 Mei 2013

Barangkali aku sedang menunggu taqdirNya

Ada seperti gundah menelusup masuk ke dalam aliran darahku, alirannya berbeda tipis dengan darah di pipa ketenangan. Pada labirin estafet pekejaan yang mengalir deras, menuntut untuk bergerak tanpa membiarkan sang mpunya bermain-main dengan dunianya. 

Gundah itu membuat aliran darah sedikit beriak, letusan-letusan kecil yang terjadi sebenarnya dapat terlihat meski begitu sering di sembunyikan. Ada semburat kesedihan dan kehkawatiran, atas scedule dan taget-target yang telah dibuat se idealis mungkin. Padahal aku tidak muluk, hanya ingin bertoga di akhir tahun ini. Salahkah?

Kali ini alam belum mendukung, Apa karena sebuah celotehan di awal kuliah yang aku utarakan pada sang ayah? Membuat aku bertanya-tanya, banyak berpikir dan beintrosfeksi. Padahal ini bukan hal yang jelek, dan aku pikir ini hanya celotehan polos tanpa niatan yang jelas. Bisa jadi ini salah satu faktor yang membuat jalan ceritanya sedikit berbeda. Tentunya jika pada saat itu celotehanku di dengar oleh Allah, dan di amini oleh malaikat. 

Namun melihat kenyataan, tampak seperti akan jauh dari harapan. Argumen polos bahwa aku memiliki someone in my live sebelum wisuda adalah scenario yang belum di acc Allah. Atau justru karena belum, lantas Sang Sutradara menangguhkan kelulusanku. ?! Yang aku inginkan semua mengalir, tanpa pompa jantung yang membuat darah kehidupan begitu kaget. Meski tidak bejalan beriringan, aku berharap semua tuntas di tahun ini.

lagi-lagi aku tak bisa membohongi diri, ketenangan ini dengan perlahan mematikan syaraf2 penulisan skripsi. Hingga beberapa bagian menjadi keram, tak di aliri darah motivasi untuk penelitian. Aku terlalu lama menunggu kuota, tolonglah jangan buat aku sesak tak mampu bernafas karena menunggu.