Tampilkan postingan dengan label Pemikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemikiran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Januari 2017

Renungan

Setahun lebih, dan tentunya mengenal dan memahami itu tidak ada sekat waktu. Ada sesi mengurai tangis, ada tawa, marah, kesal dan banyak sekali rasa yang berkecamuk. Aku tak lebih hanyalah manusia biasa yang sedang berproses dengan dunia barunya. Sifat melankolisku masih tetap berakar dan belum beranjak pergi, namun lambat laun aku menyadari ada yang berbeda. Mengikis sedikit demi sedikit apa yang dulu ada padaku. Lebih tepatnya, aku merasa menjadi pragmatis, introvet, dan takut dalam melangkah. Namun kini aku sudah jauh melangkah, dan bagiku keputusan yang diambil adalah konsekuensi yang harus diterima. Jangan pernah mengeluh, karena Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Maka entah apa yang ada dalam pikiranku saat itu, karena aku yakin Allah sedang menasehatiku dengan sebuah hikmah. Meski saat itu ingin rasanya aku mengatakannya, #ahCukup. Aku pun belum tentu benar. Tapi sungguh inilah isi hati yang ingin sekali aku bicarakan.

Jangan Pelit !
ketika manusia berpikir tidak usah pelit terhadap sesamanya. Aku di nasihati Allah untuk tidak pelit terhadap-Nya. Allah seperti menasehatiku, hatiku berkecamuk. Dan aku sebetulnya ingin menangis.

Allah sungguh, aku rindu mengadakan pengajian dirumah, mendengarkan ceramah, tausiyah, atau sekedar pembicaraan dengan papah yang menenangkan. Maaf Ya Allah, aku yang pelit untuk sekedar bersholawat, sholat sunnah, sholat tahajud, atau membaca Al-Qur'an pun aku masih saja hitungan.

Maaf ya Allah, padahal Engkau begitu baik. Engkau memberikan rizki sehat, makanan yang cukup, tempat berteduh yang layak, maka Aku adalah hambamu yang bodoh dan tak tau berterimakasih. Maaf atas khilafku, dan orang-orang yang ada disekelilingku.

Kamis, 05 Februari 2015

Selamat Ulang Tahun Bunda :D

Dahulu sekali, ketika adikku lahir ke dunia - saat itu aku masih balita. Seseorang yang entah siapa bertanya kepadaku, "dulu muti juga jadi ade bayi lho, muti inget gk?". Aku menggelengkan kepala, sambil menatap adikku yang tengah menangis di atas kasur. Aku merasa takjub dan memikirkan bahwa dulu ternyata aku pernah menjadi bayi, tidak punya kekuatan dan sering menangis seperti adikku. Usiaku saat itu sekitar 4 atau 5 tahun. Hari itu aku berpikir, bagaimana aku bisa ada di dunia ini?. Kenapa aku sama sekali tidak ingat bagaimana aku bayi? Kenapa tiba-tiba aku sudah besar (maksudnya udah balita). Pikiranku saat itu mengatakan, melupakan sejarah adalah sebuah kesalahan. #ahaaa lebay bingiiit. Sederhananya, aku beranggapan bahwa sangat disayangkan sekali melupakan apa yang terjadi dalam hidup. Alhasil mulai saat itu aku berniat tidak melupakan hal-hal yang aku anggap penting (Ampuun dah). Seperti membeli anak ayam warna-warni, tragedi petasan yang di rendam di ember sama mama, ke jebur di selokan, atau pergi beramai-ramai melihat kuburan yang mengeluarkan asap. Wah kalau di ceritakan tentu akan panjang sekali. Maka dewasa ini aku paham, bahwa saat itu adalah masa ke emasan (golden age). Masa yang tak pernah lelah untuk mencari tahu dan ingin mencoba. Lambat laun, aku mulai memahami tentang arti kelahiran, tentang usia, tentang kelemahan manusia yaitu "lupa".

Dalam dimensi waktu, aku tidak pernah merayakan hari lahir. Mama dan papa hanya mendoakan dan itu cukup, tapi teman-teman kecilku merayakan hari lahir mereka - itu membuat muti kecil merasa iri (ada ada ajja). Maka ketika aku ulang tahun, diam-diam aku jajan donat atau roti (baca:kue bolu) dan tak lupa aku pasang lilin putih besar yang sering digunakan kalau mati lampu. #bahagia itu sederhana bukan?. Meskipun begitu, mama dan papah bukan tidak bisa merayakannya dengan pesta. Tapi mungkin tidak ingin membiasakan dan menjadikan itu sebagai keharusan. Ya, keharusan seperti ada kue, lilin, make a wish, lagu Happy Birthday, dan kado di hari kelahiran. (ini asal usulnya darimana ya?)

Kini saat aku mengajar, aku tahu bagaimana keinginan mereka (murid-muridku) merayakan ulang tahunnya di sekolah. Lucunya lagi, januari lalu kami para guru tidak pernah sepi dari ulang tahun selama tiga hari berturut-turut. Bukan karena hari lahir mereka yang berdekatan, tetapi karena mereka sangat ingin merayakannya. Namun ada yang berbeda di bulan febuari tahun 2015 ini, kemarin sepulang sekolah beberapa orang tua murid ingin bertemu denganku dan bunda neng. “Selamat ulang tahun bunda muti, selamat ulang tahun bunda neng” sambil menyerahkan kue dan kado. Bunda neng celingak-celinguk sambil senyum-senyum karena miladnya udah ke lewat 8 hari. Sedangkan aku tersenyum sambil muhasabah *ini bukan lebay*. Lebih tepatnya nostalgia, karena smp dulu mut pernah nyembunyiin sepatu wali kelas dengan alasan “ulang tahun”. (Tobat daaah...)


Tidak ada alasan apapun kenapa aku membagi cerita ini, hanya saja kejadian ini mengandung hikmah bahwa hidup membuat kita banyak belajar. 

Pembelajaran pertama, saat anak menjadi RAJA atau usia (0-7) perbanyaklah pertanyaan yang menimbulkan rasa ingin tahunya. Sebagian besar dari kita justru terlalu banyak menjelaskan apa yang anak tanyakan, meskipun itu memang bukan kesaLahan. Cobalah memberikan banyak pertanyaan terhadap hal-hal yang belum ia tahu. Melalui pertanyaan, otaknya justru akan terstimulasi untuk berpikir dan mencari tahu. Contohnya : “kenapa ya daun berwarna hijau?”, “apa semua daun warnanya hijau?”, “tapi daun ini kok warnanya coklat”, sambil memegag daun kering. Dari pertanyaan tersebut tentu saja akan banyak pertanyaan lain dalam benaknya. Kemungkinan besar ia akan bertanya kepada orang terdekat, mengamati, atau mungkin googling. 

Pembelajaran kedua dari cerita ini, ulang tahun adalah salah satu cara mengenakan konsep waktu terhadap anak. Anak usia dini pada umumnya masih kebingungan dengan kata kemarin dan besok. Baginya semua waktu adalah sama yaitu “sekarang”, itulah yang membuat anak-anak tidak suka menunggu. Maka mengenalkan hari lahir adalah moment mengenalkan hitungan tahun untuknya, dengan pengertian bahwa ulang tahun tidak harus selalu dirayakan. 

Pembelajaran ketiga, menjadi pendidik bukanlah perkara mudah. Salah atau asal-asalan mendidik akan berakibat dikemudian hari, dampaknya bisa mempengaruhi pola pikir, karakter, akhlak dan psikologis anak. Oleh sebab itu, guru harus menjadi sahabat sejati orangtua agar pendidikan di rumah dan di sekolah sejalan. Dari cerita di atas, dengan posisi saya sebagai guru. Sungguh saya terharu plus seneng banget, bukan karena hadiah/kue dihari ulang tahun. Tapi karena apresiasi orangtua yang baik, yang sungguh menghargai meskipun saya sebagai guru tentunya memiliki banyak sekali kekurangan.

Kamis, 29 Januari 2015

Hamba Sahya

Wahai hamba Allah yang fana, jauh sebelum aku mengenalmu aku telah Allah pertemukan dengan banyak laki-laki. Dengan beragam karakter, latar belakang dan kebiasaan yang berbeda. Tetapi aku tidak bergeming untuk lantas menyukai mereka, walau begitu aku adalah manusia biasa. Maka bagiku menyukai seseorang adalah masa-masa yang sulit, saat aku memiliki perasaan suka, aku selalu memangkas perasaan itu dengan paksa. Bukan karena tidak bisa mensyukurinya, justru takut terjerumus maksiat karenanya. Sungguh aku berdoa, agar Allah menganugerahkan kepadaku perasaan suka terhadap orang yang tepat. Seseorang yang akan menjadi imamku kelak, seseorang yang dengan mengenalnya saja aku bisa belajar mencintai Allah dan Rosulullah SAW. Aku berharap Allah menjaga perasaanku jika aku tak mampu menjaganya. Hingga aku memohon kepadanya untuk mengganti hatiku jika aku benar-benar tak mampu lagi membingkainya.

Wahai hamba Allah yang banyak maksiatnya, salahkah jika kini aku menemukan seseorang yang mampu membuatku merasa nyaman?. Yang darinya aku bisa bersama-sama belajar mengenal Allah, yang darinya aku banyak belajar mecintai kekasih-Nya. Ah aku memang bodoh, menyukai orang yang belum pernah aku temui. Belum tau latar belakang keluarga hingga asal usulnya pun sungguh aku tidak pernah tau. Bukankah itu seperti membeli kucing di dalam karung?

Wahai jasad yang Allah tiupkan ruh di dalamnya, aku tidak memilihmu. Tetapi Allah yang memilihmu untuk aku sukai. Maka jika nyatanya kau adalah orang yang salah, hanya kepada Allah lah tempatku kembali. Allah sungguh pemilik jiwa yang tidak pernah membuatku kecewa. Ia akan menolongku dengan pertolongan terbaik, mengobati hati yang sakit dengan penawar yang menentramkan. Sungguh aku tidak ingin memaksakan inginku kepada-Nya, karena bisa jadi kau bukanlah orang yang terbaik untukku. Bukan sahabat hati untuk mencari ridho-Nya. Bukan kawan seperjuangan untuk menuju jannah-Nya. Bukan karib yang bisa ku ajak bekerja sama untuk  membuat bangga Rosulullah.

Wahai engkau,
Aku tidak pernah berharap bisa bertemu denganmu, jika pada akhirnya kau harus melukai.
Aku tidak pernah berkeinginan dipertemukan denganmu, jika di dunia dan akhirat kita hanya akan berseteru.
Tapi aku bercita-cita bertemu denganmu, hanya jika Allah meridhoi kita bersama dengan janji yang engkau ikrarkan, hingga penduduk langit dan bumi bersyukur karenanya...

Maka kini, ijinkan aku menghilang seperti buih. Menghilang darimu yang fana, yang tidak bisa kekal seperti-Nya. Melangkah menjauh dari rasa suka, untuk mendekap Dia Sang Penguasa Rasa. Pergi darimu yang papa, untuk mencari yang Maha Pemilik Segala. Meninggalkan mu yang lemah, untuk Dia pelindungku yang Maha Kuat. Sungguh, hanya Allah sebaik-baik tempat kembali, yang mengetahui segala hal yang tersembunyi. Yang menentramkan setiap jiwa yang gelisah, yang menguatkan setiap diri yang rapuh.

“Allah, hatiku telah sakit. Jangan biarkan aku jatuh cinta kepada laki-laki manapun, kecuali kepada seorang laki-laki yang telah Engkau gariskan sebagai jodohku”.

“aku takut jatuh cinta, karenanya terkadang aku membenci setiap mata yang memandang dengan seksama. Aku takut jatuh cinta, bukan karena jatuh itu begitu sakit, bukan karena aku tidak normal. Tapi karena setiap perasaan itu suci dan perlu dijaga karena-Nya. Aku takut jatuh cinta Rabb, mencintai orang yang salah, tak mampu menjaga hati, tak bisa membingkai perasaan. Aku takut jatuh cinta Tuhan, mencintai seseorang bukan karenaMu, takut melebihi cintaku padaMu, takut merindukan ia melebihi rinduku bermunajat padaMu. Tolong jaga hatiku Rabb, jaga hati, mata, lisan dan sikapku. Yang terkadang membuat mereka berpikir ingin memiliki sebelum waktunya. Tuhan, Engkau yang titipkan setiap perasaan pada setiap hati, menciptakan rindu, benci, dan suka. Maka jika kini boleh aku pinta, jagalah hatiku dengan penjagaanmu, hapuskan setiap perasaan yang tidak seharusnya. Hapuskan setiap rindu yang bukan pada tempatnya. Maaf untuk setiap hati yang tak mampu ku jaga, untuk kesibukan, pikiran dan khayalan yang ingkar. Bantu aku untuk menghapus segala sesuatu yang terasa mudharat ini ya Rabb..”


[aamiin, allohumma aamiin]

Senin, 23 Juni 2014

Muhasabah Before Ramadhan

Bismillahirohmanirrohim,
Kawan, cobalah tinggalkan sejenak kesibukan dan hiruk pikuk kegiatan. Apapun tentang duniamu tentang deadline pekerjaan, skripsi, pilpres yang semakin memanas, euporia piala dunia, kasus kejahatan, kekerasan, tawuran dan berbagai masalah hidup lainnya. Cukup beberapa menit saja, kita buka mata, hati dan pikiran kita. Saya akan mengajak teman-teman untuk memperhatikan, memikirkan dan merenungkan satu hal kecil yang sering kali kita remehkan. Saya akan mencoba mengajak pembaca bertafakur akan hidup yang sebentar ini, bukan menggurui karena nyatanya saya masih sama-sama belajar. Bahkan teman-teman rasanya lebih tahu dari pada saya, baiklah tidak usah berlama lama. Inilah yang akan saya bincangkan, tentang matahari.

Salah satu benda langit yang mampu memancarkan cahaya sendiri,sungguh tidak asing lagi untuk anak hingga orang tua sekalipun. Ia dekat dengan kita dan keberadaannya bisa kita rasakan sampai saat ini Alhamdulillah. Jika teman-teman browsing atau membaca ensiklopedia tentang matahari, tentu akan banyak gambaran pengetahuan dan wawasan, yang membuat kita sadar bahwa ukurannya begitu besar dan suhunya begitu panas (Subhanallah). Matahari adalah sumber cahaya yang paling penting. Matahari mempunyai pengaruh besar atas terjadinya angin, cuaca,dan kejadian-kejadian alam lainnya. Ada sinar matahari yang tidak dapat kita jangkau, bahkan masih banyak menyangkut matahari yang tidak dapat kita ketahui.Cahayanya pun tidak mampu kita tatap berlama-lama. Kalau matahari saja demikian, maka bagaimana kita dapat melihat dengan mata kepala kita Pencipta matahari itu?.

Jika wujud Allah saja tidak bisa kita lihat, jangan-jangan bukan karena tidak bisa, bukan karena tidak jelas. Tetapi justru karena Dia sedemikian jelas, sehingga mata dan pikiran silau bahkan tumpul, tak mampu memandangNya. Imam Al-Ghazali menulis “Ketersembunyian-Nya disebabkan oleh kejelasan-Nya yang luar biasa, dan kejelasan-Nya yang luar bisa disebabkan oleh ketersembunyian-Nya. Cahaya-Nya adalah tirai cahaya-Nya, karena semua yang melampaui batas akan berakibat sesuatu yang bertentangan dengannya”. Subhanallah,karena pada hakikatnya Allah ada dimana-mana. Mata, hati, dan diri kita saja yang sering kali lalai dengan keberadaannya. Atau mungkin karena keangkuhan,maksiat, dan gelapnya hati kita sehingga tidak mampu mentafakuri dan mengambil hikmah dari setiap kejadian.
Sebagai contoh, ketika seseorang bisa membuat pesawat dan melayang di udara, maka hal ini sungguh mengagumkan. Tetapi, karena telah terjadi berulang-ulang, maka terjadi erosi kekaguman akibat kebiasaan-kebiasaan itu.Lalu bagaimana jika kita pergi keluar angkasa, melihat langsung setiap benda bahkan diri kita sendiri mengawang-ngawang di angkasa. Ini sungguh menakjubkan karena tidak sering kita lihat. Padahal kedua peristiwa itu pada mulanya sama saja mengagumkan. Maka bagi seorang mukmin, kebiasaan-kebiasaan itu tidak menjadikannya hilang kekaguman, apalagi menjadikannya melupakan Allah.



Pernahkah engkau berpikir betapa kecilnya kita dihadapan Allah? Sungguh kecil, tidak ada apa-apanya, memikirkannya saja sungguh menyedihkan. Merenungkannya saja sungguh membuat rendah diri, karena betapa sering saya lalai, betapa selalu saya lupa bahwa saya tidak ada apa-apanya. Suatu hari saya tertegun, menangis karena nyatanya Allah begitu HEBAT. Menangis karena buktinya saya seringkali sombong, malu karena isi hati tak sebagus tulisan, tidak seindah ucapan, tidak sebaik perbuatan. Apakah selama ini saya hidup dalam topeng kepura-puraan. Saya menangis hanya karena memandangi gambar ini kawand, memperhatikan alam, memikirkan, dan merenungkannya.


Sungguh,ilmu saya begitu sempit karena bagaimanapun saya belum bisa membayangkan perbandingan matahari dengan bumi. Namun setelah dengan tidak sengaja menemukan gambar tersebut, saya belajar untuk lebih menghargai hidup. Mari kita renungkan dengan hati yang lapang, ada apa sebenarnya dengan gambar diatas? Sekilas memang terlihat biasa saja, teman-temanpun sudah tidak asing lagi melihatnya.Tapi ya Allah, betapa bumi yang saya diami ini begitu kecil, saya bahkan tidak bisa melihat benua asia, peta Indonesia, pulau jawa, atau bahkan kota bandung dari gambar ini. Dimana kota yang saya diami?, dimana kampung tempat saya tinggal?.Mana perumahan, sungai, pegunungan, dan kota-kota besar yang gedungnya,menaranya, begitu tinggi menjulang?. Masya Allah, nyatanya saya lebih kecil dari semua itu, sangat kecil dari debu sekalipun. Apakah mungkin sekecil bakteri atau molekul-molekul, yang untuk melihatnya saja butuh mikroskop. Subhanalloh, Walhamdulillah, Walaailaha’illalloh Wallohuakbar !!

Allah,

sungguh tak mungkin aku menduduki kursi kebesaranmu,

menggunakan sifat Maha Hebatnya Engkau
tidak pantas aku sombong di hadapan manusia,
tidak elok merasa diri paling sempurna
merasa diri paling benar
merasa diri paling hebat
sungguh tak pantas
bahkan jika Engkau pinjami aku selendang ke AgunganMu
meski sedetik saja

“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Ghafir 40:57)

Bahkan memandang langit atau bumi dengan pandangan biasa saja bersama sedikit kesadaran, sudah cukup mengantar manusia untuk mengetahui bahwa kita makhluk yang kecil dan kecil. Bahkan nol besar di sisi Allah swt. Lebih-lebih jika manusia mengetahui sekelumit dari hakikat alam raya ini.

Maka apa yang sebenarnya membuat manusia harus berbangga diri?sejatinya TIDAK ADA. Kita terlahir kedunia tanpa memiliki harta apapun, hidup numpang di bumi Allah, bisa hidup dan bernafas juga kalo di ijinin sama Allah,makan-minum juga dari segala sesuatu yang hakikatnya milik Allah. Sungguh betapa miskin dan kecilnya kita dihadapan-Nya.

Maka, sungguh sangat mudah bukan jika Allah menghendaki kehancuran bumi dengan cepat, tapi mengapa saya sebagai manusia justru seperti menantangNya?. Buang sampah sembarangan hingga terjadi banjir, merasa tak peduli dengan urusan penebangan hutan, pencemaran sungai, pengrusakan ekosistem tanah, air dan udara. Acuh dan merasa tidak berkepentingan dengan lingkungan, lalai dengan shalat, tilawah dan ibadah lainnya tapi justru fokus memburu dolar. Hingga rasanya iman terasa kering, merasa bahagia dalam fatamorgana hidup. Membuang-buang waktu seperti akan hidup selamanya (Astagfirullah). Bukankah ini bukti begitu arogannya saya?

Ah sudahlah, menulisnya saja malu. Seperti mengumumkan pada dunia tentang aib sendiri, da aku mah apa atuh. :'(

Sabtu, 31 Mei 2014

Da aku mah apa atuh?

da aku mah apa?
hanya seonggok tanah
hanya sekumpulan saraf dan darah
hanya rangka tulang berbalut daging

da aku mah apa?
hanya rangkaian sendi dan otot
hanya kumpulan organ dan jaringan
hanya sebuah sistem yang bersinergi
yang berwujud
yang bergerak
yang seimbang

katanya...
aku ini makhluk sempurna
yang Allah tiupkan ruh
yang Allah berikan akal
yang Allah sisipkan perasaan

da aku mah apa atuh?
bukan malaikat yang selalu patuh
bukan iblis yang selamanya ingkar
bukan binatang yang tak beradab

kini aku tau....
da aku mah makhluk sempurna
maka harus banyak bersyukur
da aku mah ciptaan Allah yang berakal
maka tak perlu banyak berputus asa
da aku mah punya perasaan
maka tak perlu saling menyakiti

Hai manusia,
Apakah engkau mengira dirimu kecil?

Tidak!
Dalam dirimu terdapat alam yang amat besar.

-------------------------------------------
"Hai manusia Apakah yang telah memperdayakanmu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah? Yang telah menciptakan-mu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikanmu seimbang; dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusunmu" (Qs. Al infithar [82]: 6-8)

Jumat, 09 Mei 2014

Save Our Children

Belakangan ini berita ramai oleh kasus kekerasan dan pelecehan seksual pada anak. Padahal masih hangat awal april lalu, mata dan telinga kita sibuk di jejali berita tentang pemilu dan parpol merah, kuning, hijau. Dunia terus bergerak, informasi terus berganti dan wawasan kita tentunya harus semakin terasah. Masalah akan semakin beragam, tidak lagi sembunyi-sembunyi tapi terang-terangan, teknologi yang maju cepat, dan mudahnya akses informasi membuat orang semakin kreatif. Ironinya ke kreatifan itu bukan dalam hal positif saja tapi dalam bentuk kejahatan. Belum selesai saya menulis, berita baru sudah bermunculan. Geram saya, sama berita dan berbagai kasus yang melibatkan anak-anak.

Jika hari ini mereka begitu kelabu, apa yang terjadi esok lusa?
Masihkah mereka berwarna?

Sungguh memprihatinkan, rasanya pengen marah. Ini musibah besar yang tidak bisa dianggap lumrah dan biasa. Dalam catatan ini, saya ingin mengulas kasus yang melibatkan anak, yang saat ini marak diperbincangkan, saya akan coba mengulas dari prespektif berbeda. Tulisan ini tidak akan menghakimi aparatur pemerintah baik itu dalam bidang keamanan atau pendidikan. Cukup, kita tak perlu menghubungkan satu sama lain untuk memperkeruh suasana. Karena menurut saya, ini adalah masalah bersama, yang bisa saja terjadi di lingkungan kita. Berita yang terjadi saat ini mungkin membuat para orang tua khawatir, sebagian dari mereka dilema, apakah membiarkan anak bergaul dengan lingkungannya, memproteksi sejak dini, atau bahkan memilih home schooling saja. Ada sebuah statmen yang baik, tapi saya lupa persisnya seperti apa. Kurang lebih garis besarnya seperti ini, "anak akan tumbuh dan senang bermain dengan lingkungan, dan teman-temannya. Sebelum semua itu terjadi, buatlah anak senang bermain bersama orang tuanya".

Peran orang tua tidak bisa dianggap main-main, beberapa kasus yang saya dapatkan di televisi, internet atau radio membuat hati saya tergerak untuk segera menulis. Ya, saya belum bisa berbuat banyak, hanya bisa woro-woro sama temen-temen, hanya bisa berbagi ilmu dengan orang tua murid, dan mengingatkan anak-anak mereka. Berharap catatan ini bisa membawa manfaat untuk yang berkenan membacanya.

Pemirsa yang budiman, perilaku menyimpang yang terjadi pada pelaku pemembunuhan, perkosaan, tawuran dan lainnya adalah cerminan gagalnya pendidikan moral di usia dini. Faktor itu didukung dengan lingkungan tempat ia tumbuh, dan bersama siapa ia bergaul. Sehingga penyimpangan moral yang terjadi pada seseorang (pelaku) tidak terjadi secara instan, tapi melalu beberapa proses. Menurut seorang ahli psikologi, ada 3 fase seseorang berkelakuan jahat, hal ini bisa kita telusuri dengan :
  1. Lihat siapa yang mengasuhnya sewaktu kecil, apakah orang tua, nenek, kake atau pembantu rumah tangga. Hal ini penting, mengingat usia dini merupakan masa “pemodelan” untuk anak. Jadi setiap peranan pengasuh akan tertanam kuat di dalam otak anak yang masih imut-imutnya itu. Peran ayah atau ibu yang baik atau buruk akan menjadi teladan untuk dirinya. Namun fase pertama ini, bukan satu-satunya hal yang bisa membentuk anak menjadi jahat. Karena fase pertama ini, dipengaruhi oleh fase berikutnya.
  2. Lihatlah lingkungan sosialnya, fase pemodelan di usia kanak-kanak dipengaruhi kuat oleh lingkungan. Dalam hal ini saya menyebutnya “imitasi”. Lingkungan yang saya maksud di sini, tidak hanya sebatas tetangga kanan-kiri, depan-belakang, tetapi segala sesuatu yang termasuk di dalamnya. Diantaranya seperti budaya, adat istiadat, sekolah, masyarakat, dan peranan media. Faktor media di fase ini sangat berpengaruh, bulan maret lalu saya menyimak salah satu berita miris: seorang remaja tega menganiyaya mantan pacarnya, hingga meninggal dunia karena alasan sakit hati. Ini adalah salah satu gambaran, bahwa pemuda masa kini kurang mampu menahan emosi. Namun menurut ahli psikologi, hal ini disebabkan karena ia senang menonton film pembunuhan dari masa kanak-kanak sampai ia tumbuh menjadi remaja. Faktor lainnya, ia merasa tidak disayangi oleh orang tuanya terutama ayah. Sungguh miris. Pun bahaya media bisa kita rasakan dari tayangan sinetron yang banyak menyuguhkan bullying, cinta monyet, aksi kekerasan tanpa kita sadari dan tayangan yang membuat mata dan hati jauh dari mengingat Allah, jauh dari hal yang membawa manfaat. Maka sungguh awal kehancuran bilamana anak “mengimitasi” apa yang ia lihat, apa yang ia dengar, apa yang ia temukan dalam lingkungan sosialnya.Jika 3 dari 10 orang anak di setiap daerah demikian, apa kabar Indonesia dari sabang sampai merauke? Apa jadinya Indonesia beberapa tahun kedepan apabila anak-anak dan remajanya sudah terlihat memperihatinkan. Betapa sungguh hal mendidik dan mengkader anak manusia, bukanlah perkara sederhana.“Jika ia tidak bisa mewarnai lingkungannya, tentu ia akan terwarnai oleh lingkungan”. Berhati-hatilah.
  3. Fase ketiga ini merupakan gabungan dari fase satu dan dua yaitu “penguatan”. Apa yang ia terima di lingkungan keluarga dan sosial, seiring waktu akan mengendap dan menguat di dalam otak. Itu bisa membentuk karakter, perilaku, dan akhlaknya. Dalam fase penguatan ini saya berasumsi sebagai berikut:
  • Lingkungan keluarga kondusif + lingkungan sosial kondusif = karakter anak menjadi kuat (sama/tidak terlalu jauh dari apa yang diharapkan).
  • Lingkungan keluarga kondusif  + lingkungan sosial kacau =
  • Jika ayah dan ibu bekerja sesuai dengan peran dan tugasnya, anak merasa aman dan nyaman berada di lingkungan keluarga. Lingkungan sosialnya tidak akan membawa pengaruh besar, selama pondasi yang orangtua bangun positif dan kuat.
  • Jika ayah atau ibu membangun pondasi positif tapi tidak kuat, anak bisa saja terbawa arus lingkungannya yang kacau.
  • Dirumah anak merasa tidak berharga + lingkungan kondusif  = anak merasa nyaman dengan lingkungan atau teman-temannya, (tumbuh kuat “mengimitasi” lingkungan sosialnya), tidak begitu dekat dengan keluarga.
  • Dirumah anak merasa tidak berharga + lingkungan sosial kacau = anak bosan hidup (merasa hidupnya tidak berarti), sistem dalam otak terganggu sehingga ia lebih berani mengambil resiko, melakukan segala hal yang membuat dirinya senang tanpa memikirkan baik/buruk.

Khusus untuk point ke tiga ini, saya menulis berdasarkan apa yang saya lihat di lapangan. Asumsi ini masih perlu di buktikan dengan penelitian, adapun teman-teman yang mengetahui teori atau lebih paham akan ilmunya saya tunggu keripik pedas untuk kita makan bersama. #eh

Baik, kita kembali ke pembahasan. Apa yang saya tulis di atas merupakan sedikit gambaran penyebab seseorang berperilaku kriminal. Lalu bagaimana dengan korban?, dalam hal ini baiknya langsung konsultasi dengan psikolog. Jika orangtua tidak cepat tanggap, dikhawatirkan anak akan mengalami gangguan mental. Sebuah penelitian menyebutkan, seseorang yang mengalami gangguan pelecehan seksual di masa kecil akan melakukan hal yang sama dimasa depan. Kurangnya perhatian dari orangtua dan tidak adanya terapi yang dilakukan terhadap korban, membuat 80% korban pelecehan seksual melakukan hal yang sama dimasa depannya, 20% lainnya mengalami gangguan mental dan menutup diri. Hal yang ingin saya tekankan dalam penulisan ini adalah: RE EDUCATION OF PARENT atau pentingnya pendidikan untuk ayah dan ibu dalam mendidik buah hatinya Evni Indriani seorang psikolog anak menjelaskan dengan beberapa hal yang saya tambahkan. Beliau menuturkan bahwa betapa krusialnya peranan orangtua dalam mendidik, ini keadaan DARURAT. Perlu adanya gerakan nasional dari orangtua untuk meminimalisir kejadian serupa. Adapun dibawah ini saya berikan oleh-oleh/bekal untuk orangtua dan para pendidik sebagai PR kita bersama, sebagai berikut :
  • Tanamkan pada anak, nilai-nilai agama sejak dini, hal yang paling penting adalah melatihhabit  yakni dengan contoh/teladan. Anak senang meniru sehingga ia butuh contoh kongkrit tidak abstrak. Oleh karena itu ketika menanamkan nilai-nilai baik, tidak bisa hanya dengan kata-kata.
  • Tanamkan nilai-nilai kebaikan (pendidikan moral) pada anak, karena Pada usia 0-7 tahun otak anak terbuka. Hal yang ia terima akan dilakukan ulang ketika dewasa.
  • Berikan ia pengetahuan dasar tentang kasus kekerasan, tidak peru detail. Bila anda bingung untuk menjelaskan pada anak mari kita diskusikan ^_^

Semoga bermanfaat,
Masih belajar menuangkan pemikiran 
Sangat berharap kritik yang membangun, dan saran yang mencerahkan.
My little home, di sela-sela penulisan skripsi: 8 Mei 2014 Pukul 08.08 PM
Mutia Azahra

Minggu, 12 Januari 2014

Great Mother

Bismillah, ini adalah catatan akhir tahun.
Catatan lepasku dipenghujung masehi 2013

Kawan, kau tak pernah tau akan terlahir kedunia menjadi wanita bukan?. Begitupun sama dengan pria, mereka tidak pernah meminta sebelumnya untuk di jadikan laki-laki. Allah sebaik-baik pencipta dan hakim yang bijaksana. Perjalanan ikhtiar menuju lulus ini ternyata menjadikan saya belajar meneliti dan memaknai hidup untuk lebih bijaksana. Karena selama perjalanan, ternyata saya justru banyak bergaul dengan banyak ibu-ibu. Bertukar pikiran dan belajar dari kisah hidup mereka. Akhir-akhir ini saya menyadari sesuatu, wanita hebat bukan dari karier mereka yang selangit. Justru dari kegigihan mereka mendidik anak-anaknya menjadi luar biasa. Saya jadi paham mengapa beberapa teman sebaya saya bercita-cita hanya menjadi ibu rumah tangga. Terdengar seperti klise atau lelucon, tapi disana terdapat niatan tulus yang mungkin baru saya temukan akhir-akhir ini.

Sebagai orang yang bergerak dalam pendidikan, saya menjadi sedikit melek terhadap peran ibu dan perkembangan anak. Hihi terdengar aneh tapi ternyata itulah yang musti saya hadapi akhir-akhir ini. Bergaul dengan ibu yang memiliki anak pendiem, pemalu, sampe dengan anak yang kagak bisa diem kaki-tangan dan mulutnya adalah tantangan yang luar biasa. Latar belakang anak yang berbeda-beda menjadi pelangi dikelas kehidupan saya, dari mulai  anak yang ortunya super sibuk, broken home, sampe dengan seorang anak yang mengaku orang tuanya adalah preman.

Hal ini membuat saya paham, bahwa jadi ibu itu HARUS HEBAT. Gak bisa asal mendidik, ga boleh asal suruh atau marah. Ingatlah bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Klo seorang ibu tidak siap, ia akan terjebak dengan pola asuh orang tuanya zaman dulu (mengasuh dengan pola turun temurun). Padahal tidak semua anak bisa diperlakukan dengan pola asuh yang sama. Intinya - seorang ibu memang kudu cerdas kawan ! Hasil dari sebuah penelitian menyebutkan,

masa kanak-kanak merupakan gambaran manusia sebagai manusia. Perilaku yg berkelainan pada masa dewasa dapat dideteksi pada masa kanak-kanak.

Coba kita renungkan, akhir zaman ini banyak sekali orang dewasa yang 'luar biasa'. Akhlaknya amburadul, imannya wallohu'alam, agamanya tanda tanya, sifat dan karakternya innalillahi. Perampokan, penculikan, pemerkosaan, pembunuhan, tawuran, korupsi, dan segala bentuk kejahatan lainnya tentu dilatar belakangi oleh faktor x. Salah satu faktor x itu adalah keluarga, why? karena kelakuan anak yang menyimpang seharusnya bisa di atasi sejak dini oleh keluarga. Itulah mengapa anak perlu pondasi  agama & akhlak yang kuat sejak dini. Agar sifat dan karakter nya mengakar tidak terbawa arus zaman. Disini peran orang tua sangat berpengaruh, anak di usia dini masih harus di ingatkan tentang sebab-akibat, benar-salah. Rata-rata di usia dini, anak senang dengan barang yang bukan miliknya, berbohong karena takut dimarahi, dan berkelakuan semaunya karena rasa ingin tahunya yang tinggi. Bila sejak dini dibiarkan ? apa jadinya bangsa ini?

Oleh karena itu pernikahan bukanlah soal yang bisa kita anggap sederhana, karena dibalik semua itu ada sebuah tanggung jawab yang tidak bisa di kesampingkan. Masalahnya untuk menjadi orang tua yang hebat tidak ada sekolahnya, sehingga banyak orangtua yang mendidik hanya berdasarkan pengalaman hidupnya. Di lingkungan keluarga, interaksi pendidikan dapat terjadi setiap saat tanpa kita sadari. Saat orang tua bertemu, berdialog, bergaul, dan bekerjasama dengan anak-anaknya. Saat seperti itu banyak perilaku dan perlakuan spontan yang diberikan kepada anak, sehingga besar sekali kemungkinan terjadi kesalahan-kesalah mendidik.

Wah, banyak sekali sebenarnya yang ingin saya bahas disini. Sebagai oleh-oleh akhir tahun, saya berikan info penting untuk teman2, kaka, bibi, tante, calon ibu, atau ibu2 muda. Boleh di catat, disebarkan dan tentunya diamalkan. Berikut ini adalah catatan seorang psikolog anak, laksmi adhiyani setiawan s.psi, saya dapat ini dari teman.

Ada 13 permintaan anak, yang mungkin tidak pernah mereka ucapkan :

  • Cintailah aku sepenuh hatimu
  • Aku ingin jadi diri sendiri, maka hargailah aku
  • Cobalah mengerti aku dan cara belajarku
  • Jangan marahi aku didepan orang banyak
  • Jangan bandingkan aku dengan kakak atau adik ku
  • Bapak ibu jangan lupa aku adalah photocopy mu
  • Kian hari umur ku kian bertambah, maka jangan selalu anggap aku anak kecil
  • Jangan membuat aku bingung, maka tegaslah padaku
  • Jangan ungkit – ungkit kesalahan ku
  • Biarkan aku mencoba, lalu beritahu aku bila salah
  • Aku adalah ladang pahala bagimu
  • Jangan memarahi aku dengan perkataan – perkataan yang buruk, bukanlah apa yang keluar dari mulut mu adalah do’a bagiku?
  • Jangan melaranngku hanya dengan kata “jangan”  tapi berilah penjelasan kenapa aku tidak boleh melakukan hal tersebut

Ups, tanpa sadar ternyata note ini cukup panjang.
Terimakasih telah meluangkan waktunya untuk membaca, semoga bermanfaat.

Bukan menggurui, mari kita sama-sama belajar.
LET's BECOME  a GREAT MOTHER !

Senin, 30 Desember 2013

Berat...

jika nafasmu terasa berat karena masalah, maka bukalah matamu.Lihat, amati dan pelajari sekitarmu, kau akan tau bahwa masalahmu begitu kecil (mutia azahra)
kau tidak akan pernah bisa mensyukuri hidup, jika mata hatimu begitu buta terhadap sekitarnya, jika telinga begitu tuli untuk sekedar empati (mutia azahra)

Minggu, 29 Desember 2013

tentang pembimbing skripsi...


Aku ingin terbang, melepas penat semua ini. Tapi tidak bisa, aku diminta berkawan dengannya menyelesaikan semua secara baik-baik.

Dear, pembimbing skripsiku.
Sekalipun aku ingin lulus. Aku tak akan memintamu untuk cepat-cepat meluluskan aku. Aku tidak akan memaksamu meng ACC skripsiku agar aku cepat-cepat sidang. Aku tak akan membebanimu dengan egoku.

pembimbing yang baik, aku hanya meminta tanggung jawabmu membimbingku. Meluruskan jika salah, memberikan saran dan memberitahu apa yang sebenarnya harus aku kerjakan.Karena niat aku lulus bukan untukmu dan bukan karenamu. Aku hanya meminta kebaikan Alloh lewat dirimu. Maka, izinkan aku memaksimalkan ikhtiarku, berusaha dengan kemampuanku. Mencoba luruh seperti hujan, seperti daun yang jatuh, seperti aktor yang menuruti titah sutradaranya.

Biarkanlah Alloh yang memberikn gelar untukku, karena sungguh rintihku dalam hening untukNya lebih membuatku tentram. Ia Sang Maha Bijaksana yang menentukan apa-apa yg akan terjadi padaku...

dan oh dear, siapapun itu.
Berhentilah bertanya kapan aku lulus, kapan aku sidang, kapan aku wisuda. Coba tanyakan saja pada Alloh, sungguh aku belum tahu kapan. Aku masih berdoa dan berusaha, semua ada proses dan waktunya bukan? 

dan satu hal lagi, jangan bebani aku dengan masa depan yg belum pasti. Tentang mimpi-mimpi, rencana dan banyak hal lainnya yang masih rahasia. Biarkan aku menikmati perjuangan skripsiku, menikmati? ya, tentu saja dinikmati. Sungguh, lelah berjuang itu lebih nikmat daripada lelah fisik dan hati karena menganggur.

Sabtu, 02 November 2013

Perasaan Liar

Rumput liar itu sifatnya merusak tanaman, jadi tak perlu diberi pupuk dan disiram. Ia akan dengan sendirinya tumbuh & mengambil sari-sari makanan dari tumbuhan lain. Membuat kotor lingkungan, dan kumuhnya sebuah rumah. Coba tengok rumah-rumah yang tidak terawat, banyak ditumbuhi rumput liar setinggi jendela. Dan biasanya dijadikan bascamp makhluk-makhluk kasat mata pun orang-orang pengumpul dosa.

Tidak jauh beda dengan perasaan liar, jika memang niat untuk serius menikah dengnya saja tidak ada. Melamar dan bilang sama orgtuanya-pun tidak punya keberanian. Haruskah kita menyimpan perasaan liar itu? Membiarkannya tumbuh mengotori hati dan pikiran. Membuat syetan tertawa senang dan semakin kerasan bersemayam.

Barang siapa yang tidak menyibukan diri dalam kebaikan, maka syetan akan menyibukanmu dalam keburukan.

Baiknya seperti apa? klo tidak dengan menikah ya tentu saja berlatih, berlatih dan berlatih untuk memangkas perasaan itu. Memotong bunga-bunga rindu dengan teganya. Memaksa hati untuk menormalkan perasaan. Susah memang, tapi bisa. Karena Allah sebaik-baik yang membulak-balikan hati. Maka perasaan liar itu jangan kau siram dengan perhatian, kau beri pupuk rindu dan rasa yang spesial (rasa spesial? yummy, terdengar seperti martabak). Yaa tidak apalah jika kau senang rumah hati mu tertutup rumput liar, membuat gelap, kotor, bau, tak terawat.

Setiap PANDANGAN yang tidak menghasilkan IBROH (pelajaran)
adalah KELALAIAN AKAL
Setiap DIAM yang tidak mengandung PIKIRAN adalah KELENGAHAN
Setiap BICARA yang tidak mencerminkan DZIKIR adalah SIA-SIA

Sahabat Ali Ra berkata :
semua kebaikan terangkum dalam 3 kata
Pandangan - Diam - Bicara

Orang yang hatinya selalu lekat dengan nama-Nya maka Allah akan menjadi matanya ketika dia melihat, Allah akan menjadi kakinya ketika dia melangkah. Allah akan menjadi tangannya ketika dia berbuat, Allah akan menjadi otaknya ketika ia berfikir.

Jika sedang dan akan mengerjakan sesuatu, hatinya selalu bertanya.
"Apakah Allah suka dengan yang saya kerjakan ini?" 

Membiarkan hati di tumbuhi perasaan liar, sama artinya membiarkan tanaman dosa tumbuh di dalam rumah hati. Perasaan tersebut mungkin saja terasa indah, menyenangkan, membuat bahagia.Tentu saja rasanya indah, apalagi kalo yang ditanamnya bunga. Tapi apa jadinya jika bunga yang ditanam justru bunga berduri atau tanaman perasit yang merugikan? Seperti itu pun dengan perasaan liar, rasa bahagia yang tumbuh tidak akan mendapat pahala. Rasa rindu yang bersarang tidak akan membawa manfaat. Justru mungkin sebaliknya, memakan nutrisi-nutrisi pahala yang kita miliki. Membuat tanaman hati kita tak lagi sehat, dipenuhi hama, tanpa kita sadari. (Naudzubillah --")

ingatlah baik-baik."sesungguhnya SETAN itu adalah sesuatu yang PINTAR tetapi LEMAH. Sedangkan NAFSU adalah sesuatu yang KUAT tetapi BODOH. Jika keduanya bersatu, maka bertekuk lututlah manusia sehingga menjadi BODOH & LEMAH karena dikuasai SETAN yang PINTAR dan NAFSU yang KUAT" (anonim)

Yuk, kita kendalikan perasaan.
Agar indah, bersih dan menentramkan. Terhindar dari bisik-bisik nafsu yg menipu daya.
Bukan menggurui, tp mari kita sama2 berlatih mengendlikan hati


Yeaa, Latihan menulis lagi (^_^)
~mutia azahra, Catatan ini, tertulis asli di Faebook saya tgl 4 September 2013.

Sabtu, 15 Juni 2013

Rasanya Sedih :'(

Tak tau mengapa, rasanya sedih jika mendengar seseorang dengan muka memelas meminta pertolongan, meminjam rupiah untuk menyekolahkan anaknya. Rasanya sakit entah mengapa, ada seperti rasa empati yang kuat untuk hal itu. Hal yang terkadang membuat aku flashback atas hari-hari lalu yang sedikit mewarnai perjalanan hidup. Teringat smp silam, salah seorang kawanku mengajak bicara. Matanya membendung air bening, menahan tangisan yang terpenjara. Dengan haru ia menceritakan kondisi keuangan keluarganya, meminta empati agar aku bersedia membantunya. Hanya, membantu untuk membayarkan uang ujiannya. Dan hari ini, seorang nenek dengan wajah berharap bertanya apakah aku memiliki sedikit rupiah untuk mendaftarkan cucunya sekolah. Ada sedikit kekecewaan dan rasa sedih yang bercampur. Kecewa, atas anaknya yag tak mampu untuk membahagiakan ibunya, kecewa atas anaknya yang tak bisa menyekolahkan, hingga harus ibunya yang membayar keperluan cucunya.

lalu, haruskah aku menutup mata? pura-pura tuli, atau acuh tak peduli. Melihat tangisan dan wajah memelas, mendengar rintih dan ucapan2 meminta tolong. Aku sungguh tak bisa Tuhan, aku tak bisa jika hanya berdiam dan merasa iba. Bukankah Engkau yang mencukupkan aku dengan semua, membiayaiku, memberiku rizki yang tiada terkira. Mencukupkan aku hingga ku mampu menjadi orang yang berpendidikan. Menyekolahkan aku hingga sekolah yang tinggi, yang tak sempat aku pikirkan darimana biayanya. Tapi nyatanya Engkau selalu mendengar rintihku. Dan kali ini, jika aku begitu arogannya, jika aku begitu angkunya, jika aku adalah orang yang tak bersyukur padaMu. Barangkali tak perlu aku peduli, tak usah aku hiraukan.

Minggu, 09 Juni 2013

tentang penantian :')

Hari ini, aku membiarkan tangan dan pikiranku mengalir bagaikan air. Mengguyur deras bagaikan air tejun, menciptakan riak dan gemuruh keras dalam hening hutan yang beriramakan alam. Mengusik pipa-pipa kehidupan yang sering kali orang-orang bicarakan. Aku tertegun, mendengar sebuah kata penantian dari beragam orang dan usianya. Dari karakter dan pekerjaannya. Membuat jemariku ini tak tahan lagi menulis, entahlah barangkali hanya sebuah tulisan iseng dari seorang penulis lepas-penyair amatir.

Beberapa bulan di tahun ini entah berapa puluh kartu undangan yang aku terima (lebay :P), beberapa teman mungkin galau karenanya, ia selalu berdo'a dan berharap pangeran berkuda putih segera menjemputnya (hehehe.....). Tak ayal banyak diantaranya yang berkata bahwa ini tentang penantian. Kita memang tak pernah tahu, namun lambat laun aku mengerti bahwa Allah sedang mendidik hambaNya untuk belajar menjadi orang yang lebih baik. Bukankah orang yang baik untuk yang baik pula. Itu adalah janji Allah dalam Al-Qur'an ; menyemangati muda-mudi yang 'GEGANA' GElisah Galau dan meraNa untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Belakangan ini aku menyadari suatu hal, penantian tercipta bukan untuk orang-orang yang galau siapa jodohnya. Kawandku yang sudah menikah saja bisa galau dan dibuat menunggu. Sedikit di buat cemas dan khawatir. Entah bagaimana, tapi rasa penantiannya mungkin tidak jauh berbeda. Bahkan ada yang harus menanti berpuluh tahun untuk diamanahi seorang putra, lagi-lagi Allah sedang mengajari hambaNya untuk bersabar. Bukankah penantian itu indah? tentu saja indah jika dibarengi dengan ikhtiar, iman yang kuat mengakar dan ikhlas yang kokoh menopang. Dalam penantian menunggu sang buah hati tentu banyak ujian bukan? karena barang kali tidak sedikit orang yang menggunjing, menyindir secara halus atau mengakhiri sebuah ikatan yang telah dibangun. Ah lagi-lagi tentang penantian. Dan hari ini aku dibuat tertegun kembali, bahwa sejatinya semua sedang dibuat menunggu-menantikan sebuah masa bernama KEMATIAN.

Hidup adalah rangkaian penantian
Dimana bingkainya adalah ibadah
Sebagian tercipta dari lirih keluh kesah karena menunggu
Lain waktu adalah bisikan hati yg mencoba teguh
Bahkan mungkin, dari air mata penuh tanda tanya
Atau sekedar senyum dan tawa penghibur, pelepas penat

maka percayalah,
jika sebuah penantian tercipta dari ikhtiar panjang
terbuat dari rangkaian ibadah hanya karenaNya
terlukis dari rintih sabar, tangis ikhlas untukNya

maka,
seorang anak tak akan menangis menunggu ayah bundanya
seorang pelajar tak akan cemas menunggu kelulusannya
seorang mahasiswa tak akan stres berharap cepat wisuda
seorang remaja tak akan galau dengan status singelnya
seorang suami-istri tak akan gelisah atas penantian buah hatinya
seorang kake-nenek tak akan putus asa atas hidupnya
dan keluh kesah seorang yang di uji sakit tak akan pernah kita dengar
karena Allah sebaik-baik sutradara hidup
script writer terbaik dan hakim yang paling bijaksana

Hidup adalah bergerak
tak bisa jika hanya menunggu dan menanti
orang yang menunggu kaya sejatinya tak akan pernah kaya
orang yang mnunggu Allah berikan
kecerdasan, keahlian, keshalehan
akan sulit untuk maju dan berkembang
karena waktunya terisi oleh penantian tanpa ikhtiar

hidup ini tidak se klise dongeng
perlu diperjuangkan!

Ini bukan catatan cinta kawand, bukan pula cerita pengantar tidur. Ini hanya tulisan pengingat yg mengingatkan daku akan sebuah penantian bernama kematian. Karena dalam proses menanti itu kita tidak boleh hanya duduk diam dan menunggu, Allah memerintahkan kita untuk beribadah. Maka jika kita tahu bahwa penghujung hidup ini adalah mati, mengapa daku masih saja malas untuk beramal? Ogah bersedekah? lalai sholat dan enggan untuk mengaji?

“Jika dalam kondisi sadar, sehat jasmani dan rohani saja kita sudah tidak mampu melawan hawa nafsu. Terpedaya untuk mengikuti rasa malas & bisik syetan terhadap keburukan. Lalu bagaimana dengan gambaran syakaratul maut kita?

Yang kondisinya dalam keadaan sakit luar biasa, bahkan mungkin dalam kondisi antara sadar dan halusinasi. Akankah kita terpedaya? Oleh bujuk rayu syetan yang dikala itu mengajak kita berpindah agama”

Wallohu’alam hanya amalan dan ridha Allah saja yang akan menyelamatkan. Lalu apakah selama menanti kematian kita tidak akan beriktiar?

Kawan, yuk ah jangan pernah mau diperbudak oleh hawa nafsu yang hina. Ridha Allah dan amalan kita semasa sehat dan sadar adalah cerminan syakaratul maut kita. Pergunakan waktu yang kita miliki dengan penuh rasa syukur. Jangan lupa berdoa untuk kematian yang husnul khotimah.

Akhir kata penulis tegaskan, bahwa penantian tidak bisa diartikan dengan menunggu fakot (baca: aja), tapi merupakan rangkaian ikhtiar yang hasil keputusanNya bisa kita terima dengan ikhlas dan lapang. Jadi mau kapan, siapa, apa, dan bagaimana tidak perlu dipermasalahkan selama kita masih tetap berusaha dan berada di jalan yang Allah gariskan. Be better for Life!

By, mutia azahra
edisi renungan.

Kamis, 23 Mei 2013

Hidup, ini tentang hidup

Belakangan ini aku mengamati hidup yang belum aku mengerti. Ada pertanyaan sederhana yang menggelitik dikepala, tentang hidup apakah sebatas dilahirkan kedunia, belajar di sekolah, bermain bersama teman, menjadi dewasa, jatuh cinta, menikah, berkeluarga, menjadi tua dan kemudian mati? Apakah tentang rasa bahagia, sedih, kaya, miskin, seperti di film2 sinetron, korea, atau program reality show jika aku menjadi. Apakah tentang perjuangan? tentang orang yang biasa2 saja dan kemudian bisa sukses, mungkin juga mengenai cerita orang kaya yang tiba2 jatuh miskin.

sebenarnya hidup ini apa ya Allah?
apakah tentang masalah korupsi, bunuh diri, sakit hati, putus cinta, stres, banjir, tsunami, kekeringan, kelaparan, perang pemikiran, gaya hidup, sakit. Ah tidak, barangkali tentang dihormati, terkenal, hidup mapan, sukses, ambisi, cita2, impian, bisnis, karir, keluarga aman dan tentram, hidup santai uang melimpah, harta banyak, punya tanah dan rumah dimana-mana.

lalu apa, mengapa koran dan berita di TV membahas semua itu. Apakah inilah hidup yang sesungguhnya?

atau tentang girl band, boy band, passion, teknologi, gaul, cupu, cantik, jelek, ganteng, buruk rupa, gendut, langsing, tinggi, pendek, putih atau hitam. 

Begitukah hidup? mengapa banyak orang mempermasalahkannya?
ada yang bilang, hidup itu masalah. Orang yang gak punya masalah katanya kagak hidup, (iya gitu, ?!)

Hidup itu bernafas? so pasti
Hidup itu bergerak? setuju
tapi itu ciri2 hidup

lalu, hakikat hidup sesungguhnya apa? 
Bukankah sudah benar-benar jelas mut, dalam al-quran tertulis.

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 56)


- to be continue -

Selasa, 26 Maret 2013

peElpe server not found

Asyiiik nulis lagi ni, sangat lama sekali tak berkunjung ke blog dan menulis apapun yg pengen ditulis. Kawand sudah 37 hari saya menginjakan kaki di sini, di tempat plp (pelatihan lapangan propesi) yg sesuatu sekali bagiku (kamana atuh sahrini). Ditemani kawandku yg super duper kaya permen dan pembimbingku yg manis asem asin kaya nano-nano (semoga orang'a kagak baca ini blog). Yaah begitulah plp ku, berkumpul dengan orang2 yang ruarbiasa sebenarnya, cuman entah kenapa berat nyebutin kata luarbiasa itu hahaha..

Kenapa harus saya bilang ruarbiasa?
karena semua perjuangan itu dibangun dengan waktu yg tidak sedikit, ikhtiar yang pastinya tidak asal-asalan dan tentunya kocek yang turun dari hati orang2 yang mau berbagi dan berkontribusi utk pendidikan, utk SDM yang lebih baik. Padahal dibeberapa kota pelatihan animasi itu bisa berjuta2, lha ini FREE bapak ibu GRATIZ om tante dan sodara-sodara sekaliaaaan. (teriak dari puncak jaya wijaya :P). Sejatinya belajar memang kita lakukan dari buayan ibu sampe liang lahat, kita musti mati2an tuch mencari ilmu. Oleh karena itu budaya berbagi ilmu untuk siapapun, kapanpun dan dimanapun memang tidak boleh dipandang pake kacamata hitam (nah lo). Yoaaa, maksutnya, kita melihat orang yg berbagi ilmu itu tidak sebelah mata, tapi seharusnya kita harus bangga, mengapresiasi dan mendukung orang yang secara sukarela berbagi wawasannya.

Jadi inget firman Allah tentang orang yg berbagi, yg intinya jangan itungan, klo itungan maka Allah akan memberi rizqi kpd Mu dengan itungan juga. Tentunya siapa yg banyak memberi ia akan banyak menerima pula, dan ingatlah bahwa rizqi itu tidak selalu uang. Bisa berupa kesehatan, umur panjang, bahagia lahir batin, keluarga yg sholeh-sholehah, istri atau suami yang sholeh. Banyak bukan...??

Oia, sebenernya ada sesuatu yg mengganjal yg melatar belakangi tulisan ini dimuat. Apa coba?
Hmmm, disana ane merasa kaum minoritas. Bukan masalah perempuannya yg sedikit, tapi karena akhwat, ya ya karena akhwat (yo know laa) cuman ane doank. Masya Allah.... -___-"
sebenarnya itu sih biasa, ngga luar biasa. Toh mut juga sebenarnya biasa bergaul sama temen2 yang gokil gila, yang edan2. Halaaaah #apasih

Permasalahannya sederhana, 2 bln aq disana aku merasa jauh sama Allah. (sedih kan?) Iya soalnya aq ngerasa disana tuh fokus banget sama dunia, lirik kanan orang lagi pesbukan, lirik kiri orang yg lagi buat animasi pake blender, lihat ke depan ada papan, hehe maksudnya orang yg sibuk dengan kerjaannya, entah itu main game, ngedesain, nonton de el el daaah pokoknya. lihat kebelakang juga gk jauh beda. Disana aku tak pernah mencium wanginya akhirat kawan, terkadang sedih hati melihat semua itu. Ingin sekali mengingatkan, tapi rasanya so tau, so alim, so - sis so sin  so baso (lhaahaaa, jd makanan bgni...)

Pernah terbesit dalam pikiran, ingiiin banget ngadain pengajian (whualaaa...) tapi pastinya itu cuman khayalan, tp aslinya sungguh khayalan yg indah jika melihat mereka adalah orang yg pandai animasinya dan tinggi pemahaman agamanya, dibarengi suka mengaji. Subhanalloh walhamdulillah bangeeeet daah...

Miris sebenarnya melihat beberapa orang dengan santainya meninggalkan sholat tanpa ada perasaan bersalah sedikitpun. Hmm kasian banget juga sih sama pemimpin and gegeduk disana yg tak pernah mengingatkan anak buahnya utk beribadah. Semoga saja kita semua tidak saling menjatuhkan di akhirat kelak (aamiin)

-sekian, kapan2 aq sambung lg yuaaa-

Rabu, 30 November 2011

SURAT DARI AKHWAT .....

Catatan ini dari FB Ros Chie Althafunnisa


Wahai ikhwan……

Dengarkanlah pula sejenak pesan kami barisan akhwat

untuk kalian..


Wahai ikhwan…………

Sungguh kami itu senang jika diperhatikan,

apalagi jika kalian adalah ikhwan yang dewasa,

atau ikhwan yang alim, atau ikhwan yang cool, atau ikhwan yang cerdas

padahal kami belum mampu berhijab secara baik,

karena itu tundukkanlah pandangan kalian dengan makna yang sebenarnya,

dan janganlah kalian ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya.


Jangan pernah kautatap kami penuh

Bahkan tak perlu kaulirikkan matamu untuk melihat kami.

Bukan, bukan karena kami terlalu indah,

tapi karena kami seorang yang masih kotor.

kami biasa memakai topeng keindahan pada wajah buruk kami,

mengenakan pakaian sutra emas yang akan bisa memalingkan diri kalian.


Wahai Akhi,

berhati-hatilah ketika kalian menyapa kami dengan chating didunia maya,

diskusi dengan hal-hal yang tidak perlu,

katanya dakwah di dunia maya, tetapi yang diobrolkan jauh dari nilai esensi dakwah


Duhai Akhi……

Kami juga inginnya terus dekat dengan kalian para ikhwan,

tapi maaf…bukan karena apa-apa tapi lebih karena perhatian yang kalian berikan kepada kami,

meskipun sesungguhnya kami sangat malu akan hal ini,

terkadang kami pun terlepas kata dan tingkah laku,

yang malah menjadikan kami dan kalian semakin tak mengenal batas,

karena itu pertama nasihatilah kami akan azab Allah dan setelahnya jangan pernah memberi dan membalas bentuk perhatian kami


Akhi....

Wanita adalah makhluk yang sempit akal dan mudah terbawa emosi.

Terlepas bahwa aku tidak suka pernyataan tersebut, tapi itu fakta.

Sangat mudah membuat wanita bermimpi.


Akhi,

Tolong, berhentilah memberi angan-angan kepada kami.

Mungkin kami akan melengos kalau disapa.

Atau membuang muka kalau dipuji.

Tetapi, jujur saja, ada perasaan bangga.

Bukan kami suka pada antum (mungkin)..

Tapi suka karena diperhatikan “lebih”.


Diantara kami, ada golongan Maryam yang pandai menjaga diri.

Tetapi tidak semua kami mempunyai hati suci.

Jangan antum tawarkan sebuah ikatan bernama ta’aruf bila antum benar-benar belum siap akan konsekuensinya.

Sebuah ikatan ilegal yang bisa jadi berumur tak cuma dalam hitungan bulan

tetapi menginjak usia tahun, tanpa kepastian kapan akan dilegalkan.


Duhai akhi,

Tolong, kami hanya ingin menjaga diri.

Menjaga amal kami tetap tertuju padaNYA.Karena janji Allah itu pasti.

Wanita baik hanya diperuntukkan laki-laki baik.


Jangan ajak mata kami berzina dengan memandangmu,

jangan ajak telinga kami berzina dengan mendengar pujianmu,

jangan ajak tangan kami berzina dengan menerima hadiah kasih sayangmu

jangan ajak kaki kami berzina dengan mendatangimu,

jangan ajak hati kami berzina dengan berkhalwat denganmu


Wahai akhi,

kalian Sebagai saudara kami,

tolong, jaga kami.

Karena kami akan kuat menolak rayuan preman,

Tapi bisa jadi kami lemah dengan surat cinta kalian.

Bukankah akan lebih indah bila kita bertemu dengan jalan yang diberkahiNYA?

Bukankah lebih membahagiakan bila kita dipertemukan dalam kondisi diridhoiNYA?


Karenanya saudaraku…

Janganlah kita berbuka sebelum waktunya

Memanen sebelum masanya

Bersabarlah, tunggulah hingga saatnya tiba

Allahu a’lam bish shawwab…


~Peringatan buat sahabat2 dan jua pada diri ini yg sentiasa khilaf padaNya,

Akhir kata aku memohon Ampun kepada Allah..

Robb yang Maha Penyayang dan Maha Pemberi Petunjuk~

Kamis, 24 Juni 2010

I'm Offline FB [Part 2]

Kesesokan hari, sekitar pukul 6 pagi ..
Aku tersenyum melihat buku yg kini sedang ku baca, mungkin dari sanalah inspirasi terbesar hingga ku memposting hal ini. Aku membacanya berulang dan kemudian aku garis bawahi. Hal ini yg membuatku semakin kuat untuk menghapus akun Fesbuk.

"iblis adalah sebuah wujud yang dengan izin Allah dapat membuat manusia terjebak dalam keraguan. Maka hembusan keraguan Iblis adalah nikmat dan rahmat. Sebab, setiap orang yang berhasil mencapai tujuannya, berarti dia telah menang dalam mengalahkan keraguan di hatinya dan berjaya dalam jihad terbesar (perang melawan hawa nafsu). Jika tidak ada hembusan keraguan dan jalan dosa, maka jalan ketaatan hanya satu arah saja. Iblis hanya mempunyai wewenang untuk menjadikan orang ragu-ragu."

Di dalam buku tsbt Iblis berkata :
Dengan harta dunia, sekelompok kambing dan sapi dapat memperdaya org2 padang pasir. Dengan makanan2 lezat dan manis, orang yang menyembah perut akan tersesat. Dengan alat musik, aku mampu mempedaya kaum wanita dan para pemuda. Dengan nyanyian dan lagu, aku mampu menyesatkan sebagian lainnya.

Hatiku bergumam, dan dengan fesbuk kau jadikan aku boneka yg lupa akan waktu. Membuatku terus menerus bermain hingga aku tak sadar bahwa waktu online lebih banyak dibandingkan membaca Al-Qur'an dan beribadah lainnya.

Bismillah, aku yakin tak akn pernah menyesal menghapusnya, walau kata kk ku remaja adalah kondisi dimana adanya ketidak stabilan antara emosi dan logika. Biarlah, aku tak akan pernah ragu karena"Hanya orang2 yg mementingkan Allah yg akan dipentingkan oleh Allah..." (Al-Ankabut[29]:69).

Namun kembali setan mengusikku, "Hai mut, untuk apa kau hapus akun fesbukmu ??. Kau masih bisa berdakwah secara online. Kau bisa meng-Update status yg kaya akan hikmah. Banyak sekali ladang amal yg bisa kau gali di internet. Bukakah hal tersebut termasuk mementingkan Allah?? Tak usah dihapus segala, cukup dengan ditutup sementara saja !. Atau menjadwalkan online beberapa jam sekali dalam seminggu."

eiiitzz....... STOP !!(hatiku, melawan.)
Hmm, aku menarik dafas dalam, aku geram dengan diriku sendiri. Ingin ku teriak,"aggh.. HENTIKAN !!" aku tak ingin lagi terlalu terpaut kpd internet, Insya Allah masih banyak orang2 yg bisa membagi waktunya, yang bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya, tidak seperti aku. !! Aku kemudian menasehati diri sendiri dan bertanya,
  • Apakah sudah benar caranya bila memang update statusku selama ini hanya mengingatkan?

  • Apakah yg ku tulis benar2 mengharap ridha Allah semata?

  • Apakah semua orang perlu tau aktifitasmu? Apa tujuanmu?

Jauh dilubuk hati, aku berkata. Memang susah mencari amalan baik di internet apalagi jika iman sedang rapuh. Mata hati dan pikiran bisa jadi korban makanan empuk setan, karena bisa jadi setan mepedaya kita dengan fatamorgananya sehingga sesuatu yg buruk terlihat baik. Karena bisa jadi selama ini aku hanya berharap pujian serta keinginan untuk diberi jempol atau ucapan "Like this saja". Karena bisa jadi, terselip sombong dan rasa berbangga hati.Dan bisa jadi semua ini terlihat nikmat padahal mudharat. [Astagfirullahaladzim..]

Namun bukan berarti dengan menutup akun fesbuk aku terhindar dari kejaran setan. Ini hanya sebagian caraku, agar setan tidak terlalu sering bersamaku. Aggh, hus-Hus pergi kau jauh dariku. !!Allah dalam Al-Qur'an berfirman : "Barang siapa yg lupa mengingat Allah, maka setan akan menyesatkannya, sehingga dia akan selalu bersama setan."(Qs. Az-Zukhruf:36)

Bismillahirahmanirrahim, Insya Allah tekad mut udah bulat. Mut akan offline untuk selama-lamanya pada Hari Jum'at tgl 25 Juni 2010.


Tiada maksud apa2 dari catatan yg tergores ini, semua tulisan ini hanya kegundahan hati. Semua rangkaian kata ini milik Allah. Takan pernah tercipta dan takan pernah tertulis jika tanpa seizin-Nya. Takan pernah tercipta jika bukan ilmu dari-Nya.Terimakasih telah meluangkan waktu untuk membacanya. Semoga dapat di ambil ilmu dan kebaikan yg terdapat didalamnya.

Semoga mut bisa mengisi waktu mut dengan hal yg lebih bermanfa'at
Terimakasih kepada semua teman2 di dunia maya, ma'af jika atas sifat, akhlaq dan laku diri mut pernah melukai. Sungguh semua khilaf bersumber dari hamba sebagai makhluk.
Wassalamualaikum wr.wb.

THE AND

I'm Offline FB [Part I]

Assalamualaikum wr.wb.

Bismillah ^_^
Selasa 22 Juni 2010, Pukul 7 Petang
Sepulang Rapat UPTQ..


Ku terdiam di ramainya malam, lalu lalang mobil menemani diamku. Menunggu bis dibawah pohon rindang yg berpayung bintang. Sinar bulan seolah tersenyum, menerangiku dalam kalut yang kini berkecamuk. Hatiku tertegun tak berkata, pikiranku melayang tak ada hentinya mencari satu kata "Ya" atw "Ngga".

Ini benar2 mengusiku, entah mengapa semenjak kemarin ada yg aneh dalam diriku. Aku galau entah mengapa, namun faktor utama bukanlah masalah yang aku hadapi sekarang. Masalahnya terletak dalam diriku sendiri, aku benar2 "harus berubah !!" itulah kata2 yang ada dalam benaku.

Malam itu, bak di film sinetron, malaikat dan iblis seolah terasa sekali peperangannya. Bisikannya membuatku bingung untuk memilih. Bila hal ini dibiarkan terus menerus rasanya tak akan ada perubahan yang pasti dalam diriku. Belakangan ini "aku KECEWA kpd diriku sendiri", "Aku ingin MARAH", "aku KESAL".

Hal itu membuatku ingin offline selama-lamanya...

Akhirnya bis yg aku tunggu2pun datang, sepanjang perjalanan kulihat semua ciptaan Allah dari balik kaca. Begitu indah malam hari ini, namun pikiranku masih tetap sama. Kini bisikannya semakin terdengar jelas, andai saja seperti di senetron mungkin aku benar2 terbirit-birit ketakutan mendengar iblis dan malaikat disampingku yg waktu itu berperang argumen. Begini katanya :

Malaikat: "hapus saja akun fesbuknya, banyak sekali maksiat tanpa sadar yg ada di dlm fesbuk."

Iblis:"Jangan dong mut sayang klo dihapus, temen kamu udah banyak. Apalagi nanti punya adik baru angkatan 2010. Pasti temen kamu tambah banyak. Selain itu buat ajang silaturahmi juga khan?"

Malaikat :"Mut teman itu tidak perlu di cari di Dunia Maya. Kamu ini hidup di dunia nyata !! Ingat mut, semua amalan akan di hisab, terlalu banyak waktumu yg terbuang percuma. Coba apa yg akan engkau jawab ketika Allah menanyakan untuk apa umurmu digunakan??. Silaturahmi yg baik itu bertemu dengan orangnya langsung/saling berkunjung ke rumah. Karena dengan begitu akan bertambah erat persaudaraan, dengan cara seperti itu kamu bisa melihat langsung kondisinya, baik/ tidak, senang/sedih."

Iblis:"dari pada tidak silaturahmi sama sekali, meningan pake fesbuk lebih cepet dan ekonomis. Coba pikirkan bagaimana klo rumahnya jauh ?! Hmm.. untuk apa di hapus segala, selain sebagai alat komunikasi, juga sebagai sumber informasi."

Malaikat:"ayo mut teguhkan pendirianmu, kau terlalu sering meninggalkan Allah untuk fesbuk, kini berusahalah meninggalkan fesbuk untuk Allah. Hp masih bisa dijadikan alat komunikasi, banyak pula sumber informasi selain fesbuk. Ingat pula bahwa fesbuk adalah sumber penghasilan Yahudi untuk membantu zionis israel, melawan saudara se-Imanmu Palestina".

Aku tertegun tanpa suara, suara kondektur bis yg menagih tak kudengar kicauannya. Hingga akhirnya kondektur itupun menepuk pundakku. Aku keluar dari pikiranku sejenak. Galau yang kuarasakan tak bisa berhenti begitu saja, hingga tulisan ini dimuat aku masih tetap memikirkannya. Beberapa saat ku teringat sesuatu, ingat cerita t'rasi (guru makhraj dan tahsin) yg suka memotivasi dan kemudian teringat sms mang ucup (ketua UPTQ 2010) yg membuatku tersadar. Inilah smsnya :

Mang ucup
"mut udah hafal berapa juz?
sekarang masih suka halaqoh dimana?"


Ya Salam...
Ini pertanyaan susah amat mut jawab, lebih susah dari UN lebih sulit dari ujian SNMPTN (wHuaha lebay mode on) Lebih tepatnya bukan susah tp malu untuk menjawabnya. Akupun membalas sms beliau. kemudian beliaupun membalasnya.

Mang ucup
"Hmm... udh bagus, tinggal di tambah lagi hafalannya.
(hati mut bergumam, wHaduh jd kesindir nii..) Di tambah lagi y hafalanya, jd nanti klo di WISUDA udah hafal 30juz. SEMANGAT ia !!


Hal itu membuatku sedih, aku tak bisa membagi waktuku. Terlalu mudahnya untuk onnline membuatku lupa akan akhirat. Hatiku berteriak, ingin marah tapi pada siapa. Ingin menangispun tiada guna. Lubuk hatiku berbisik. "Aku kangen Allah"

"Aku menangis bukan karena takut mati atau karena kecintaanku kepada dunia. Akan tetapi, yang membuatku menangis adalah kesedihanku karena aku tidak bisa lagi berpuasa dan shalat malam.” (‘Amir bin ‘Abdi Qais)"

Jika Amir bin 'Abdi Qais ' saja telah berkata seperti itu, mungkin aku akan berkata:
"Aku sedih tidak bisa membagi waktuku, aku terlalu sibuk dgn dunia dan tidak punya bekal untuk akhirat. Aku ingin menangis....
karena Allah semakin jauh dariku"('muti fauziah')


To Be Continue