Kamis, 23 Mei 2013

Hidup, ini tentang hidup

Belakangan ini aku mengamati hidup yang belum aku mengerti. Ada pertanyaan sederhana yang menggelitik dikepala, tentang hidup apakah sebatas dilahirkan kedunia, belajar di sekolah, bermain bersama teman, menjadi dewasa, jatuh cinta, menikah, berkeluarga, menjadi tua dan kemudian mati? Apakah tentang rasa bahagia, sedih, kaya, miskin, seperti di film2 sinetron, korea, atau program reality show jika aku menjadi. Apakah tentang perjuangan? tentang orang yang biasa2 saja dan kemudian bisa sukses, mungkin juga mengenai cerita orang kaya yang tiba2 jatuh miskin.

sebenarnya hidup ini apa ya Allah?
apakah tentang masalah korupsi, bunuh diri, sakit hati, putus cinta, stres, banjir, tsunami, kekeringan, kelaparan, perang pemikiran, gaya hidup, sakit. Ah tidak, barangkali tentang dihormati, terkenal, hidup mapan, sukses, ambisi, cita2, impian, bisnis, karir, keluarga aman dan tentram, hidup santai uang melimpah, harta banyak, punya tanah dan rumah dimana-mana.

lalu apa, mengapa koran dan berita di TV membahas semua itu. Apakah inilah hidup yang sesungguhnya?

atau tentang girl band, boy band, passion, teknologi, gaul, cupu, cantik, jelek, ganteng, buruk rupa, gendut, langsing, tinggi, pendek, putih atau hitam. 

Begitukah hidup? mengapa banyak orang mempermasalahkannya?
ada yang bilang, hidup itu masalah. Orang yang gak punya masalah katanya kagak hidup, (iya gitu, ?!)

Hidup itu bernafas? so pasti
Hidup itu bergerak? setuju
tapi itu ciri2 hidup

lalu, hakikat hidup sesungguhnya apa? 
Bukankah sudah benar-benar jelas mut, dalam al-quran tertulis.

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 56)


- to be continue -

Selasa, 21 Mei 2013

Barangkali aku sedang menunggu taqdirNya

Ada seperti gundah menelusup masuk ke dalam aliran darahku, alirannya berbeda tipis dengan darah di pipa ketenangan. Pada labirin estafet pekejaan yang mengalir deras, menuntut untuk bergerak tanpa membiarkan sang mpunya bermain-main dengan dunianya. 

Gundah itu membuat aliran darah sedikit beriak, letusan-letusan kecil yang terjadi sebenarnya dapat terlihat meski begitu sering di sembunyikan. Ada semburat kesedihan dan kehkawatiran, atas scedule dan taget-target yang telah dibuat se idealis mungkin. Padahal aku tidak muluk, hanya ingin bertoga di akhir tahun ini. Salahkah?

Kali ini alam belum mendukung, Apa karena sebuah celotehan di awal kuliah yang aku utarakan pada sang ayah? Membuat aku bertanya-tanya, banyak berpikir dan beintrosfeksi. Padahal ini bukan hal yang jelek, dan aku pikir ini hanya celotehan polos tanpa niatan yang jelas. Bisa jadi ini salah satu faktor yang membuat jalan ceritanya sedikit berbeda. Tentunya jika pada saat itu celotehanku di dengar oleh Allah, dan di amini oleh malaikat. 

Namun melihat kenyataan, tampak seperti akan jauh dari harapan. Argumen polos bahwa aku memiliki someone in my live sebelum wisuda adalah scenario yang belum di acc Allah. Atau justru karena belum, lantas Sang Sutradara menangguhkan kelulusanku. ?! Yang aku inginkan semua mengalir, tanpa pompa jantung yang membuat darah kehidupan begitu kaget. Meski tidak bejalan beriringan, aku berharap semua tuntas di tahun ini.

lagi-lagi aku tak bisa membohongi diri, ketenangan ini dengan perlahan mematikan syaraf2 penulisan skripsi. Hingga beberapa bagian menjadi keram, tak di aliri darah motivasi untuk penelitian. Aku terlalu lama menunggu kuota, tolonglah jangan buat aku sesak tak mampu bernafas karena menunggu.

Senin, 20 Mei 2013

sebuah perumpamaan :(

Aku tak mengerti, mengapa semut senang dengan yang manis? hinggap dan melahap semua makanan yang mengandung gula.

Aku belum paham mengapa semut tau tempat gula disembunyikan, hingga ia selalu berjuang untuk mendapatkannya meski melalui jalan terjal dan lorong-lorong sempit.

Apa karena hidup ?
Apa karena lapar ?
Atau karena keinginan dan ikut-ikutan gerombolan kawannya, yang terkadang tak sedikit dari mereka tertimbun dalam padang pasir gula di sebuah toples.

Sebuah perjuangan hidup yang belum aku pahami. Namun ketika aku menyadarinya aku sedikit mengerti, tak usah mewawancarai semut dan berbicara banyak padanya.

-to be continue-

Senin, 06 Mei 2013

Untukmu dinda yang kini menunggu

Dinda, apa kabar kau kini?
Masih tetap bersemangatkah dengan rutinitas dan aktivitasmu ?
Tetaplah istiqamah untuk tetap menjaga hati
meski sampai saat ini, Allah belum mempercayai kita utk bertemu

Dinda,
aku tau kau masih menunggu
masih mencari dan berusaha bersabar
adakah kau kini lelah?
atau galau, hilang arah ?

Allah melihatmu,
maka jangan sedikitpun engkau risau tak menentu
tidak perlu resah memikirkan siapakah imammu
tidak usah galau menebak-nebak bagaimana rupaku

apa kau tidak mempercayaiNya?
tidakah engkau yakin bahwa Allah yg mengatur semua?
cukuplah engkau berdoa dan tidak terus menerus bertanya
tentangku yang masih tetap Allah rahasiakan namanya.

dinda,
taukah kau bahwa tidak ada jodoh yang tertukar?
tidak ada jodoh yang salah
semua telah Allah setting dengan baik

berita dari langit itu akan Allah bisikan
tapi tidak untuk saat ini...
tentunya di waktu yag tepat
disaat kau benar-benar siap

simaklah baik-baik nasihatku..
taukah dinda bahwa sabar itu indah...

sungguh indah,
jika sabar yang kau punya melukiskan jejak untuk mendekat padaNya
betapa indah,
jika sabar yang kau miliki adalah rintihan tahajud di malam panjangmu
mengadu rindu, merintih perih, menjerit sakit...

Dinda, dalam doa aku menjagamu
pintaku, berlindunglah dalam pundak kebesaran Allah
dalam kekokohan langit-langit cintaNya
karena sayang Allah tak akan luruh hanya karena fisik
cinta Allah tak akan pudar hanya karena materi
Ia akan menggembirakanmu ketika kau sedih
Ia akan menjagamu ketika kau takut
tinggalkanlah "sesuatu" untuk Allah
tapi jangan pernah meninggalkan Allah untuk sesuatu
karena dalam hidup ini "sesuatu" akan meninggalkanmu
tapi Allah akan selalu ada untukmu

~ mutia azahra

Kamis, 04 April 2013

cukup, bukunya menyesakan BUNG!

Tak ada yang salah memang, tapi rasanyanya ingin menumpahkan semua kesalahan padanya. Seperti langit sore ini yang menangis, melihat aku kesal meredam marah. Masalahnya ini sangat-sangat telat, buku itu datang tepat 2 minggu sebelum semua plp ini berakhir. Gimana gak kesel coba, selama ini mut ngerjain itu kurikulum berdasarkan acuan yang diturunkan dari tujuan. Dan tiba2 harus berubah 180 derajat, acuannya di ganti pake kurikulum kerja nasional tentang animasi. Ini sama aja revisi kurikulum dari awal, (pengen nangis -_- ). Lebih nyebelinnya kenapa orang korelis di dunia ini suka keras kepala, begitu mudahnya menyuruh, begitu enaknya mengganti segala sesuatu.

CUKUP!
Mut pasti bakalan nerima itu buku dengan senang hati, kalo waktunya gak mepet kaya gini. Ini sama aja nyuruh mut begadang, ini sama artinya menyuruh mut tinggal lebih lama disana (damn). Masih ada laporan plp hey, masih ada proposal skripsi bung, masih ada agenda open house tk om, masih banyak pekerjaan saya selain kurikulum kang. Haruskah itu buku datengnya saat ini?

KAMU BISA !
Hey, gampang banget bilang kaya gitu. Mut emang bisa, ini bukan rapuh. Ini bukan mengeluh, ini bukan ungkapan ketidak sanggupan. INI HANYA UNGKAPAN KEKESALAN ! jujur mut kecewa berat !

SEMANGAT MUT !
Hmm, mut gak perlu disemangati. Kalo gk semangat dari kemaren2 juga semua itu gkn mut kerjain. Cukup untuk hari ini aja anda bikin saya gk semangat tingkat dewa. Cukup untuk hari ini saja anda bikin saya kesal, dan tolong cukup untuk hari ini saja anda membuat saya meredam marah.

MAAF MUT
Perlu ya minta maaf? Bukankah anda bilang gak ada yang salah? #aaaaghhh....

terimakasih yang terhormat, bukunya sangat menyesakan :')

Rabu, 03 April 2013

Mungkin Karena Kita....

Mungkin karena kita masih tetap di sini, di balik selimut yang hangat serta bantal kepala yang empuk untuk ditiduri, kita masih pulas di sana, dalam buaian mimpi yang terus menjejali, juga kelelahan-kelelahan yang sering terjadi karena memang kita meng-alpa-i diri. Kita memang masih di sini, di tumpukan kemalasan sedang matahari sudah mulai terbit dari timur, sedang embun pagi mulai membasahi bumi yang dingin, di subuh yang semakin beku ini, kita telah lupa satu hal, bahwa ada kenikmatan lain yang telah kita lalaikan bersama. Ada kesyukuran yang terlambat untuk terucap, sedang pagi sudah mulai datang dan meninggalkan subuh, sedang langit sudah mulai terang menyinari.

Mungkin karena kita masih enggan untuk jujur pada diri, pada tiap keringat yang berpeluh dalam hari. Pada penggal-penggal hati yang semakin hari terus saja terkotori, pada tiap perkataan yang senantiasa tak lebih dari prasasti yang tak berarti. Kita memang telah sering membohongi diri, atau mungkin kita sendiri yang tak sadar telah membohongi diri ? kebohongan pada hati, bahwa sejatinya ia sedang goyah karena tak bisa memiliki fitrahnya, fitrahnya yang cenderung tenang ketika Allah di sana, fitrahnya yang selalu damai ketika cinta yang menyala itu hanya untuk Allah, fitrahnya yang bening, bahwa dekapan ukhuwah itu akan terasa ketika iman melekat kepadanya. Kita telah lupa dan membohongi diri sendiri, bahwa sebelum kita lahir di dunia ini, Allah telah mengambil janji dari diri kita agar tak sering mengingkari apa yang akan diperintahkan-Nya.

Mungkin karena kita masih sering malas untuk berbenah. Berbenah atas amalan-amalan kita yang sering bolong, berbenah atas niat-niat hari yang tak sebening pagi, berbenah untuk langkah-langkah kaki yang tak lagi lurus pada jalan yang abadi, berbenah untuk sujud penghambaan yang semakin hari semakin terasa hambar di hati, berbenah untuk istiqamah yang masih jauh dari dalam diri, berbenah untuk sebuah tadhiyah (pengorbanan) yang masih payah bersama jalan ini, berbenah untuk setiap waktu kita yang habis dengan perkara dunia yang sempit lagi tak punya arti. Kita memang sering malas untuk berubah, namun terlalu rajin untuk mengejar bahagia di dunia, sedang akhirat adalah negeri abadi yang bisa jadi indah atau buruk bagi diri.Mungkin karena kita masih sering memiliki banyak alasan. Alasan untuk melambatkan waktu shalat kita, alasan untuk tak lagi menyempurnakan yang wajib dengan rawatib kita, alasan untuk tak lagi berlama-lama dzikir bersama Allah setelah lelah dalam hari, alasan untuk tak punya waktu di pagi hari, sedang Dhuha sudah mulai mengintip-i bumi, alasan untuk tiap kemalasan kita di malam hari, alasan untuk tak lagi segera melakukan kebaikan-kebaikan bagi orang lain, kita punya banyak sekali alasan untuk membenar-i, padahal sejatinya ia hanyalah cara agar kita punya jawaban yang pasti pada setan yang menjejali, bahwa paling tidak, ia telah mampu menyesati.

Kita memang terlalu banyak beralasan, hingga tak lagi punya jawaban untuk tiap masalah yang menimpa diri. Kalau sudah begini, apakah kita akan berani menentang Allah jika DIA-pun PUNYA ALASAN yang pasti untuk menghukumi kita ? sedang bagi DIA, diri ini hanyalah kecil tak berarti.Mungkin karena kita masih tetap di sini, pada titik awal yang selalu stagnan untuk sebuah PERUBAHAN AKHIRAT, pada kata ENGGAN yang selalu mengajari diri agar menghentikan langkah yang benar-benar menguati, pada rasa MALAS yang lebih sering datang menghampiri, apalagi ketika suara-suara pengingat dari Allah mulai tiba dan kita dengari, juga pada BANYAKNYA ALASAN yang kita cipta sendiri.

Semuanya.. adalah sedikit dari banyak cara untuk mampu menohok diri kita. Bahwa “Mungkin KARENA kita memang telah pergi meninggalkan kampung akhirat.. kita telah lupa padanya, dan bersorak-sorak menikmati dunia yang semakin sempit dan menyesakkan.. ““Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr : 19)

Tak terbaca ! GELAP !

Hitam ini memang hitam, pekat malah-gak bisa lihat lagi deh saking gelapnya. Berurusan dengan orang lebih tua dari kita, menemukan banyak hal baru, menyelami ilmu2 yang jarang ditemukan, meneliti hal-hal yang dijadikan sepele. Hari ini luar biasa teman, bertemu orang2 hebat. Yupz, aku bilang hebat karena aku belum bisa mengerjakan apa yang mereka kerjakan. Hari ini mut ke lt.3 CCA, bertemu para animator. Disana memang mayoritas laki2, whuaaaaaa ane jadi objek buliying donk. Haha, nyantei aja si noting special. :P

bahasan awal memang gelap?
kok bisa? yaa, berawal dari awan pagi ini yg sedikit terlihat gelap sedikit sepi meskipun rame, sedikit  berbeda meskipun selalu aneh. Mendengar berita 14 orang kawan udah seminar proposal adalah hal yang menyenangkan sekaligus menyedihkan. Seneng mereka udah bisa melewati fase itu (haaaah lebuy), sedih ngelihat kerjaan ini belum beres and gk bisa fokus sama proposal. Tapi anehnya, aku masih tetap santai... Oh  Allah,  terimakasih sudah memberikan rasa tenang luarbiasa inii.....

bersambunng
batrenya mau abis, akunya mau pulang hehe...