Rabu, 26 Maret 2014

Hanya Kau yang tahu

Aku hanya berkata pada huruf
Membisikannya lewat sajak-sajak rindu
Membelai angin, merasakan hampa
Berteman lama dengan bisu

Cintaku adalah semburat rindu
Yang meradang kala cemburu
Yang berbunga kala bertemu
Tak ada yang tahu

Sejak lama aku berteman sepi
Berkawan dengan alphabet dalam keyboard
Menulisnya agar mengupahi
Menyimpanya hanya untuk dikenang

Cintaku hanya aku dan Dia yan tahu
Bersama barisan puisi roman
Tumpukan file-file karya
Yang pemerannya adalah dia

Sampai kapan aku menyimpannya?
Bercerita pada angin agar ia tahu
Berharap ia dengar
Berharap ia pun sama
Tuhan tau, aku menyimpannya dalam
Menjaga untuk setia
Berlatih untuk bersabar

Akhirnya, aku bertanya lirih
Tuhan, apakah Engkau pilihkan aku untuknya?

Hanya Kau yang tahu

Jumat, 28 Februari 2014

Aku berbohong

Maaf untuk kebohonganku
tentang pertanyaan yang membuat
aku begitu tersudut
membuat aku begitu tertekan

maaf atas kebohongaku kawand
atas setiap mata introgasi yg kau gunakan
atas setiap argumen dan analisis
yang kau lontarkan
karena aq masih tetap akan seperti ini
pura-pura tak peduli
pura-pura tak mau tahu

maka,
apakah bagimu aku bersalah?
padahal aku hanya sedang menata hati
padahal aku hanya belajar apik dengan perasaan
ataukah bagimu aku berdosa?
memotong rindu yang tak seharusnya
memusiumkan banyak sejarah
yang tidak semestinya aku kenang

ijinkan aku berbohong untuk hal ini kawand
agar bunga liar tak tumbuh di pekarangan
agar tak ada lagi tanda tanya
yang menggantung di langit-langit kamar

maaf aku telah berbohong
maka beri aku kesempatan kali ini saja
untuk mengatakan kejujuran padamu
tentang perasaan yang kumiliki

jujurku tentang rasa
adalah ketika Allah pertemukan
aku dan kau menjadi kita
memantapkan hatiku dengan yakin
memilihku hanya krenaNya

cukup hanya Allah saja yang mengetahuinya

ilalang

ilalang,
bukit yang kulihat masih tetap tegak,
tak beranjak. masih berpijak.
dan aku selalu mencoba lurus
tak menengok meski katanya indah.

basah oleh hujan
tak membuat mu payah
panas oleh mentari
tak membuatmu gentar

kau,
tetap berdiri tegak disana
memenjarakan aku
tanpa pernah peduli


Minggu, 12 Januari 2014

Great Mother

Bismillah, ini adalah catatan akhir tahun.
Catatan lepasku dipenghujung masehi 2013

Kawan, kau tak pernah tau akan terlahir kedunia menjadi wanita bukan?. Begitupun sama dengan pria, mereka tidak pernah meminta sebelumnya untuk di jadikan laki-laki. Allah sebaik-baik pencipta dan hakim yang bijaksana. Perjalanan ikhtiar menuju lulus ini ternyata menjadikan saya belajar meneliti dan memaknai hidup untuk lebih bijaksana. Karena selama perjalanan, ternyata saya justru banyak bergaul dengan banyak ibu-ibu. Bertukar pikiran dan belajar dari kisah hidup mereka. Akhir-akhir ini saya menyadari sesuatu, wanita hebat bukan dari karier mereka yang selangit. Justru dari kegigihan mereka mendidik anak-anaknya menjadi luar biasa. Saya jadi paham mengapa beberapa teman sebaya saya bercita-cita hanya menjadi ibu rumah tangga. Terdengar seperti klise atau lelucon, tapi disana terdapat niatan tulus yang mungkin baru saya temukan akhir-akhir ini.

Sebagai orang yang bergerak dalam pendidikan, saya menjadi sedikit melek terhadap peran ibu dan perkembangan anak. Hihi terdengar aneh tapi ternyata itulah yang musti saya hadapi akhir-akhir ini. Bergaul dengan ibu yang memiliki anak pendiem, pemalu, sampe dengan anak yang kagak bisa diem kaki-tangan dan mulutnya adalah tantangan yang luar biasa. Latar belakang anak yang berbeda-beda menjadi pelangi dikelas kehidupan saya, dari mulai  anak yang ortunya super sibuk, broken home, sampe dengan seorang anak yang mengaku orang tuanya adalah preman.

Hal ini membuat saya paham, bahwa jadi ibu itu HARUS HEBAT. Gak bisa asal mendidik, ga boleh asal suruh atau marah. Ingatlah bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Klo seorang ibu tidak siap, ia akan terjebak dengan pola asuh orang tuanya zaman dulu (mengasuh dengan pola turun temurun). Padahal tidak semua anak bisa diperlakukan dengan pola asuh yang sama. Intinya - seorang ibu memang kudu cerdas kawan ! Hasil dari sebuah penelitian menyebutkan,

masa kanak-kanak merupakan gambaran manusia sebagai manusia. Perilaku yg berkelainan pada masa dewasa dapat dideteksi pada masa kanak-kanak.

Coba kita renungkan, akhir zaman ini banyak sekali orang dewasa yang 'luar biasa'. Akhlaknya amburadul, imannya wallohu'alam, agamanya tanda tanya, sifat dan karakternya innalillahi. Perampokan, penculikan, pemerkosaan, pembunuhan, tawuran, korupsi, dan segala bentuk kejahatan lainnya tentu dilatar belakangi oleh faktor x. Salah satu faktor x itu adalah keluarga, why? karena kelakuan anak yang menyimpang seharusnya bisa di atasi sejak dini oleh keluarga. Itulah mengapa anak perlu pondasi  agama & akhlak yang kuat sejak dini. Agar sifat dan karakter nya mengakar tidak terbawa arus zaman. Disini peran orang tua sangat berpengaruh, anak di usia dini masih harus di ingatkan tentang sebab-akibat, benar-salah. Rata-rata di usia dini, anak senang dengan barang yang bukan miliknya, berbohong karena takut dimarahi, dan berkelakuan semaunya karena rasa ingin tahunya yang tinggi. Bila sejak dini dibiarkan ? apa jadinya bangsa ini?

Oleh karena itu pernikahan bukanlah soal yang bisa kita anggap sederhana, karena dibalik semua itu ada sebuah tanggung jawab yang tidak bisa di kesampingkan. Masalahnya untuk menjadi orang tua yang hebat tidak ada sekolahnya, sehingga banyak orangtua yang mendidik hanya berdasarkan pengalaman hidupnya. Di lingkungan keluarga, interaksi pendidikan dapat terjadi setiap saat tanpa kita sadari. Saat orang tua bertemu, berdialog, bergaul, dan bekerjasama dengan anak-anaknya. Saat seperti itu banyak perilaku dan perlakuan spontan yang diberikan kepada anak, sehingga besar sekali kemungkinan terjadi kesalahan-kesalah mendidik.

Wah, banyak sekali sebenarnya yang ingin saya bahas disini. Sebagai oleh-oleh akhir tahun, saya berikan info penting untuk teman2, kaka, bibi, tante, calon ibu, atau ibu2 muda. Boleh di catat, disebarkan dan tentunya diamalkan. Berikut ini adalah catatan seorang psikolog anak, laksmi adhiyani setiawan s.psi, saya dapat ini dari teman.

Ada 13 permintaan anak, yang mungkin tidak pernah mereka ucapkan :

  • Cintailah aku sepenuh hatimu
  • Aku ingin jadi diri sendiri, maka hargailah aku
  • Cobalah mengerti aku dan cara belajarku
  • Jangan marahi aku didepan orang banyak
  • Jangan bandingkan aku dengan kakak atau adik ku
  • Bapak ibu jangan lupa aku adalah photocopy mu
  • Kian hari umur ku kian bertambah, maka jangan selalu anggap aku anak kecil
  • Jangan membuat aku bingung, maka tegaslah padaku
  • Jangan ungkit – ungkit kesalahan ku
  • Biarkan aku mencoba, lalu beritahu aku bila salah
  • Aku adalah ladang pahala bagimu
  • Jangan memarahi aku dengan perkataan – perkataan yang buruk, bukanlah apa yang keluar dari mulut mu adalah do’a bagiku?
  • Jangan melaranngku hanya dengan kata “jangan”  tapi berilah penjelasan kenapa aku tidak boleh melakukan hal tersebut

Ups, tanpa sadar ternyata note ini cukup panjang.
Terimakasih telah meluangkan waktunya untuk membaca, semoga bermanfaat.

Bukan menggurui, mari kita sama-sama belajar.
LET's BECOME  a GREAT MOTHER !

Senin, 30 Desember 2013

Berat...

jika nafasmu terasa berat karena masalah, maka bukalah matamu.Lihat, amati dan pelajari sekitarmu, kau akan tau bahwa masalahmu begitu kecil (mutia azahra)
kau tidak akan pernah bisa mensyukuri hidup, jika mata hatimu begitu buta terhadap sekitarnya, jika telinga begitu tuli untuk sekedar empati (mutia azahra)

Minggu, 29 Desember 2013

tentang pembimbing skripsi...


Aku ingin terbang, melepas penat semua ini. Tapi tidak bisa, aku diminta berkawan dengannya menyelesaikan semua secara baik-baik.

Dear, pembimbing skripsiku.
Sekalipun aku ingin lulus. Aku tak akan memintamu untuk cepat-cepat meluluskan aku. Aku tidak akan memaksamu meng ACC skripsiku agar aku cepat-cepat sidang. Aku tak akan membebanimu dengan egoku.

pembimbing yang baik, aku hanya meminta tanggung jawabmu membimbingku. Meluruskan jika salah, memberikan saran dan memberitahu apa yang sebenarnya harus aku kerjakan.Karena niat aku lulus bukan untukmu dan bukan karenamu. Aku hanya meminta kebaikan Alloh lewat dirimu. Maka, izinkan aku memaksimalkan ikhtiarku, berusaha dengan kemampuanku. Mencoba luruh seperti hujan, seperti daun yang jatuh, seperti aktor yang menuruti titah sutradaranya.

Biarkanlah Alloh yang memberikn gelar untukku, karena sungguh rintihku dalam hening untukNya lebih membuatku tentram. Ia Sang Maha Bijaksana yang menentukan apa-apa yg akan terjadi padaku...

dan oh dear, siapapun itu.
Berhentilah bertanya kapan aku lulus, kapan aku sidang, kapan aku wisuda. Coba tanyakan saja pada Alloh, sungguh aku belum tahu kapan. Aku masih berdoa dan berusaha, semua ada proses dan waktunya bukan? 

dan satu hal lagi, jangan bebani aku dengan masa depan yg belum pasti. Tentang mimpi-mimpi, rencana dan banyak hal lainnya yang masih rahasia. Biarkan aku menikmati perjuangan skripsiku, menikmati? ya, tentu saja dinikmati. Sungguh, lelah berjuang itu lebih nikmat daripada lelah fisik dan hati karena menganggur.

Jumat, 06 Desember 2013

Untuk Desember : Hena and HotCoffe

Bisakah kau bercerai dari ingatanku
mengubur jejak masalalu
menyapu bersih debu fatamorgana
yang indahnya hanyalah tipuan
yang kilaunya hanyalah bias


kita tidak hidup dimasa lalu
tidak bergerak dalam sejarah
kau ada dan tercipta
untuk menjadi ornamen
dalam gerak, yang aku cari ujungnya