Jika seorang wanita menangis dihadapanmu, Itu berarti dia tak dapat menahannya lagi. Jika kamu memegang tangannya saat dia menangis, Dia akan tinggal bersamamu sepanjang hidupmu. Jika kamu membiarkannya pergi, Dia tidak akan pernah kembali lagi menjadi dirinya yang dulu. Selamanya Seorang wanita tidak akan menangis dengan mudah, Kecuali didepan orang yang amat dia sayangi. Dia menjadi lemah. Seorang wanita tidak akan menangis dengan mudah, Hanya jika dia sangat menyayangimu, Dia akan menurunkan rasa egoisnya. Lelaki, jika seorang wanita pernah menangis karenamu, Tolong pegang tangannya dengan pengertian. Dia adalah orang yang akan tetap bersamamu sepanjang hidupmu.. Lelaki, jika seorang wanita menangis karenamu. Tolong jangan menyia-nyiakannya. Mungkin karena keputusanmu, kau merusak kehidupannya; Saat dia menangis didepanmu, Saat dia menangis karnamu, Lihatlah matanya;. Dapatkah kau lihat dan rasakan sakit yang dirasakannya? Pikirkan;. Wanita mana lagikah yang akan menangisdengan murni, penuh rasa sayang, didepanmu dan karenamu; Dia menangis bukan karena dia lemah Dia menangis bukan karena dia menginginkan simpati atau rasa kasihan.. Dia menangis, Karena menangis dengan diam-diam tidaklah memungkinkan lagi; Lelaki, Pikirkanlah tentang hal itu. Jika seorang wanita menangisi hatinya untukmu, Dan semuanya karena dirimu. Inilah waktunya untuk melihat apa yang telah kau lakukan untuknya. Hanya kau yang tahu jawabannya:, Pertimbangkanlah, Karena suatu hari nanti Mungkin akan terlambat untuk menyesal, Mungkin akan terlambat untuk bilang MAAF… ~~~======================= Seorang anak laki-laki kecil bertanya kepada ibunya Mengapa engkau menangis?” “Karena aku seorang wanita”, kata sang ibu kepadanya. “Aku tidak mengerti”, kata anak itu. Ibunya hanya memeluknya dan berkata, “Dan kau tak akan pernah mengerti” Kemudian anak laki-laki itu bertanya kepada ayahnya, “Mengapa ibu suka menangis tanpa alasan?” “Semua wanita menangis tanpa alasan”, hanya itu yang dapat dikatakan oleh ayahnya. Anak laki-laki kecil itu pun lalu tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa, tetap ingin tahu mengapa wanita menangis. Akhirnya ia menghubungi Tuhan, dan ia bertanya, “Tuhan, mengapa wanita begitu mudah menangis?” Tuhan berkata: “Ketika Aku menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang istimewa. Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia; namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan ” “Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak dan menerima penolakan yang seringkali datang dari anak-anaknya ” “Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang- orang lain menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh ” “Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan, bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya ” “Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya ” “Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik takkan pernah menyakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu ” “Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk diteteskan. Ini adalah khusus miliknya untuk digunakan kapan pun ia butuhkan.” “Kau tahu: Kecantikan seorang wanita bukanlah dari pakaian yang dikenakannya, sosok yang ia tampilkan, atau bagaimana ia menyisir rambutnya.” “Kecantikan seorang wanita harus dilihat dari matanya, karena itulah pintu hatinya tempat dimana cinta itu ada.” ~~~======================= ☼ Tangisan Wanita Yang Sangat Cantik Yang Hendak Menggoda Ar-Rabi' Bin Khaitsam ☼ Sa'dan menuturkan, bahwa suatu kaum memerintahkan kepada seorang wanita yang memiliki kecantikan yang mempesona untuk menggoda ar-Rabi' bin Khaitsam dengan harapan wanita tersebut dapat menggodanya. Mereka menjanjikan hadiah kepadanya, "Jika kamu dapat melakukannya, kamu akan mendapatkan 1000 dirham." Kemudian ia memakai pakaian terbaiknya, dan memakai parfum paling wangi yang dimilikinya. Kemudian ia mencegatnya ketika keluar dari masjid tersebut. Ketika melihat wanita ini, ternyata wanita tersebut menakjubkannya. Wanita ini berjalan menuju kepadanya dalam ke-adaan bersolek. Ar-Rabi' berkata kepadanya, 'Bagaimana seandainya penyakit panas menimpamu lalu merubah apa yang aku lihat yaitu warna kulit dan kecantikanmu? Bagaimana seandainya Malaikat maut datang kepadamu untuk memutus tali yang kukuh (nyawa) darimu? Atau bagaimana seandainya malaikat Munkar dan Nakir bertanya kepadamu?' Mendengar hal itu wanita ini berteriak histeris lalu jatuh pingsan. Demi Allah, ia sadar dan sangat giat beribadah kepada Rabbnya. Pada saat hari kematiannya, wanita ini seolah-olah kayu yang terbakar, karena rasa takut dan banyak beribadah seperti Qiyamul lail, puasa dan menangis." Aku banyak berharap dan berdoa kepada Allah SWT agar semua wanita yang telah disesatkan oleh setan bersegera untuk memanfaatkan kesempatan usia yang pendek ini, dan bertaubat kepada Allah SWT sebelum tiba hari penyesalan. copas dari fb kawand, |
Kamis, 22 September 2011
Dibalik Tangisan seorang wanita...
Jumat, 02 September 2011
Ada Pelangi di Jamboreku
Pelangi itu begitu indah dengan kesederhanaannya, mewarnai 3 hari di bulan Ramadhanku kali ini. Pelangi itu begitu sejuk dengan karakternya, yang memenuhi setiap sudut dalam penatnya aktifitas. (so puitis-red)
Tapi bukan kebohongan publik, ini sungguh nyata. (berusaha meyakinkan) Penat itu rasanya benar-benar hilang, ketika mereka tersenyum semangat melawan hari-hari yang begitu melelahkan. Layaknya seorang anak pada usiannya, mereka gerah melihat kelompok lawan yang mampu mengumpulkan point tertinggi. Terlebih ketika mereka tahu, bahwa kelompok terbaik akan mendapatkan hadiah. Mendengar kata ‘hadiah’ saja senyum mereka berkembang, sorot mata mereka berbinar senang bukan kepalang. (Hehe.. ^_^)
Hmm, perkenalkan. Mereka adalah adik-adiku, yang selalu berusaha ingin menjadi yang terbaik. Mereka terdiri dari 10 perempuan tangguh, yang nampak luar seperti anak pendiam. Karakter mereka beraneka ragam, ada yang gak sabaran, cuek, perhatian, pemalu, agresif & sukan dandan. (Hoho Peace ^_^v)
Hari pertama, 19 Ags 2011
Semua kelompok diminta untuk memasang tenda (whuwaaa.. >_<), sempat pesimis karena kewalahan. Tapi lagi-lagi senyum dan semangat mereka membuat semuanya terasa menyenangkan ^_^. Hari menjelang sore, mengisi waktu berbuka semua kelompok diminta untuk membuat sebuah karya, dari kertas origami yang di tempel di kertas karton. Jujur saja, adik-adikku ini tak satupun berjiwa korelis (pemimpin). Sebagian besar dari mereka pragmatis dan melankolis. Sebagai fasilitator, aku dituntut kreatif untuk mengeluarkan ide. Huft, meminta mereka mengeluarkan ide, nampak seperti aku menyuruh mereka menggeleng-geleng kepala karena bingung (hihi...).
Akhirnya tercetuslah sebuah ide untuk membuat kupu-kupu sebagai alasnya. Semua adik-adik bekerja, tak satupun dari mereka berdiam diri. Dari sini aku mulai tahu, bahwa sebagian besar mereka adalah praktisi bukan konseptor. (Mungkin karena mereka masih kecil kali ya ?!) Hari pertama ini, merupakan sebuah awal yang baik. Kami Juara II dan mendapatkan point 50 (Yee, Berhasil... berhasil... Horreeee ^^).
--- > NOTE : Malam hari tiba, sungguh tak pernah kubayangkan harus menceritakan tentang mama di depan banyak orang. Tak ada persiapan, semua pembicaraanku mengalir sesuai dengan apa yang kurasakan. Dalam hati berharap, semoga semua ini membawa perubahan yang baik, untuk adik/kaka yang mendengarnya.
Hari kedua, 20 Ags 2011
Setelah sholat subuh selesai, adik-adiku ini belajar Tahasin. Sebelumnya mereka kebingungan & baru mengetahui metode belajar mengaji dengan cara ini. Lambat laun mereka antusias dan ingin cepat menguasainya, walaupun kenyataannya harus di bumbui dengan ayunan kepala yg mengantuk oleh beberapa adik. ^_^ Tapi bagiku, semua itu adalah warna.
Hari kedua ini kegiatan padat merayap, mulai dari sainstika, outbound sampai pensi. Di hari kedua ini aku bersyukur, tidak ada satupun adik yang rewel ingin pulang atau mengeluh kelelahan. Mereka hanya berkata “kak, ngantuk” (subhanalloh kan adik-adiku yang tangguh ini ?, siapa dulu donk kakanya. ^_*). Dari serangkaian kegiatan sainstika-outbound semua adik dikelompokku Allhamdulillah dapat terkondisikan dengan baik.
|
|
Hey kawan, aku punya cerita. Tentaaang jambore bangkiiiit.
Taukah kawan, siapa kaka Irfan : itu-itu-itu dia, kaka yg paling galak.
Taukah kawan, yg manakah ka’Deri : itu-itu-itu dia, kaka yg paling bawel.
Duh kawan, yg manakah ka’Upi : itu-itu-itu dia, kaka yg paling lucu.
Hey kawan, kaka Al itu yg mana : itu-itu-itu dia, kaka yg paling semangat.
Taukah kawan, siapa kaka Aksan : itu-itu-itu dia, kaka yaaaang CABIDUT.
Cabidut ? Apa itu Cabidut ?
Calon Bintang Dangdut
Inilah kaka-kaka kami, yg slalu menemani.
Setelah mereka tampil ke depan, mereka tersenyum riang. Nampak wajah cemas dan takut itu rasanya tidak pernah ada. Aku menasehati mereka, agar tidak terlalu berharap kemenangan. Karena aku tidak mau mereka berakhir dengan kekecewaan. Bagaimanapun kalau berpikir akan menang, itu adalah hal yang aneh. Lihat saja kata-kata dlm lagu itu, sederhana & terlalu apa adanya. (iya khan?, ^_^v ). Melihat kelompok lainnya yang bagus, membuat salah seorang adiku berkata “kak, aku ingin naik ke panggung lagi”, aku tersenyum.
Hari ketiga, 21 Ags 2011
Whuaa, hari terakhir niii...
‘Ayooo, kita jalan-jalan ke museum geologi adik-adik’, ucapku memberi semangat. Mereka sedikit kesal nampaknya, karena aku sebagai kaka sempat menghilang dari pandangan mereka selama ± setengah jam (ngantri mandi^^ hehe..)
Di museum geologi adik-adik kelompokku nampak tersepona (bacanya: terpesona) melihat koleksi yang terdapat disana. Mereka banyak bertanya ini dan itu, aku sebgai kaka yang so’pinter berusaha menjelaskan walau harus nyontek baca di papan penjelasan. (Hihi... Lagian, adik2 kenapa males baca coba ?!)
Pulang dari museum, adik-adikku sedikit rewel. Mereka ingin membeli sesuatu di GaShiBu. Jelas aku sebagai kaka tidak mengijinkan, karena semua itu tidak ada dalam agenda kegiatan. Hmm.. mereka cemberut sesaat. Seorang dari mereka yang agresif dan centil itu berkata, ‘kaka, aku pengen beli yang kaya gitu sambil menunjuk ciput arab yang dipakai Erika’, aku menahan tawa & tersenyum lebar. Dalam hati aku bergumam, ‘hmm, anak zaman sekarang’ ^^.
Menjelang siang, semua kembali ke salman. Siang itu udara begitu panas. Salis adiku tak kuat dan merasa pusing, hidungnya berdarah, ia mimisan. Sementra kelompok lain sholat dzuhur berjamaah, aku sibuk mencari tisu. Beberapa adiku berwajah pucat karena lelah, aku ijinkan mereka sholat di tenda. Sementara aku bersama beberapa adik lainnya berjamaah shalat di mesjid.
Ka’Irfan mulai bercuap-cuap di GSG, bertanda pengumuman dan acara penutupan akan segera dimulai. Acara yang ditunggu-tunggu oleh adik-adikku adalah pengumuman pensi. Seperti yang aku khwatirkan, aku tak ingin membuat mereka sedih atau kecewa. Maka dengan itu jauh hari aku mengingatkan kepada mereka bahwa semua ini adalah permainan. Ada menang, ada kalah.
Tapi, Langit hari itu begitu cerah, secerah dan sebiru hati ini. Karena adik-adiku tersenyum riang, sesuai dengan apa yg mereka harapkan. Thanks Allah for All.
-Created by, muti fauziah-
Fasilitator Jambore Bangkit Ramadhan 1432H
Rabu, 27 Juli 2011
Let the love of Allah Remain in the heart
Kamis, 14 Juli 2011
Allah mengajari aku IKHLAS
Hari berganti, dan bulanpun tak terasa terus berubah. Aku semakin tua saja kawand..Bulan ini dan beberapa hari kemarin, rasanya aku selalu ingin menangis. Aku tak pernah menyalahkan Allah yg menganugrahi aku kepribadian melankolis, bukan pula tak bersyukur karena sebagai wanita diberi perasaan peka dan sensitif.
Tapi, aku memang merasa cengeng belakangan ini.
why? entahlah, padahal aku sudah sekuat tenaga untuk tidak menitiskan air mata di depan temen2 kampusku. Tapi mengapa rasa sedih itu menghanyutkanku dalam kesendirian...
rasanya ingin berteriak kencang "HEY AKU BUKAN ANAK CENGENG TAU !!"
sekalipun seperti itu aku memang benar-benar tak tahan lagi, terserah bila orang meremehkan aku gara-gara hal ini.
Ya, inilah aku yg kini selalu menangis teringat dosa2 pada ibunya yg menggunung.
Ya, inilah muti fauziah yg air matanya tak pernah kering karena takut tak lagi bertemu dengan ibunya di akhirat kelak.
Ya, inilah aku... yg belum bisa membahagiakannya. yg selalu menyusahkannya.
Beliau benar-benar pergi saat aku belum sepat mengucapkan terimakasih untuk didikannya, beliau benar-benar tak akan kembali. Walau rasanya ingin melihatnya tersenyum, saat melihat anak perempuan satu-satunya ini wisuda. Ingin sekali melihatnya terharu sesaat melihat putri kesayangannya ini menikah dan menggendong seorang putra...
Ya Allah...
Aku begitu kehilangan,
kehilangan Guru terbaik yang aku miliki dalam kesederhanaan.
Aku kehilangan Koki terhebat dan Dokter pribadiku...
Aku kehilangan,
kehilangan wanita tercantik yg pernah aku temui...
kehilangan wanita shalehah yg pernah aku miliki.
seseorang yg tak pernah lelah mengajari aku segala sesuatu tentang kehidupan.
karena Ia, seorang wanita tangguh
yg memperkenalkan aku dengan Rabb nya
karena Ia, seorang akhwat luar biasa
yg mengajari aku membaca kalam-Nya
Ana uhibbu ummi lillah...
By: Seorang anak yg dirajam kerinduan
Ditulis pertamakali di FB mut 7 November 2010
Kamis, 07 Juli 2011
Surat Lamaran Darinya
Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu? Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban duniawi (cakep atau tajir, manusiawi lah). Tapi ada satu jawaban yang sangat berkesan di hati saya.
Hingga detik ini saya masih ingat setiap detail percakapannya. Jawaban salah seorang teman yang baru saja menikah. Proses menuju pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya berkenalan 2 bulan. Lalu memutuskan menikah. Persiapan pernikahan hanya dilakukan dalam waktu sebulan saja. Kalau dia seorang akhwat, saya tidak akan heran. Proses pernikahan seperti ini sudah lazim.
Dia bukanlah akhwat, sama seperti saya. Satu hal yang pasti, dia tipe wanita yang sangat berhati-hati dalam memilih suami. Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika dia memberitahu akan menikah, saya tidak menanggapi dengan serius. Mereka berdua baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya menjadi kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi.
Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal pernikahannya. Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya selama proses pernikahan. Begitu banyak pertanyaan dikepala saya. Asli. Saya pengin tau, kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki itu.
Ada apakan gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia bisa memutuskan menikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk sekali waktu itu (sok sibuk sih aslinya). Saya tidak bisa membantunya mempersiapkan pernikahan. Beberapa kali dia telfon saya untuk meminta pendapat tentang beberapa hal. Beberapa kali saya telfon dia untuk menanyakan perkembangan persiapan pernikahannya. That’s all. Kita tenggelam dalam kesibukan masing-masing.
Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya memutuskan untuk menginap dirumahnya. Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa ngobrol -hanya- berdua. Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi, sungguh membelenggu kita. Padahal rencananya kita ingin ngobrol tentang banyak hal. Akhirnya, bisa juga kita ngobrol berdua. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan. Dia juga ingin bercerita banyak pada saya. Beberapa kali Mamanya mengetok pintu, meminta kita tidur.
“Aku gak bisa tidur.” Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya paham kondisinya saat ini. “Lampunya dimatiin aja, biar dikira kita dah tidur.” “Iya.. ya.” Dia mematikan lampu neon kamar dan menggantinya dengan lampu kamar yang temaram. Kita melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik. Suatu hal yang sudah lama sekali tidak kita lakukan. Kita berbicara banyak hal, tentang masa lalu dan impian-impian kita. Wajah sumringahnya terlihat jelas dalam keremangan kamar. Memunculkan aura cinta yang menerangi kamar saat itu. Ingá akhirnya terlontar juga sebuah pertanyaan yang selama ini saya pendam.
“Kenapa kamu memilih dia?” Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari tidurnya sambil meraih HP dibawah bantalku. Berlahan dia membuka laci meja riasnya. Dengan bantuan nyala LCD HP dia mengais lembaran kertas di dalamnya. Perlahan dia menutup laci kembali lalu menyerahkan selembar amplop pada saya. Saya menerima HP dari tangannya. Amplop putih panjang dengan kop surat perusahaan tempat calon suaminya bekerja. Apaan sih…., Saya memandangnya tak mengerti. Eeh.., dianya malah ngikik geli.
“Buka aja.” Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas polos ukuran A4, saya menebak warnanya pasti putih hehehe. Saya membaca satu kalimat di atas dideretan paling atas.
“Busyet dah nih orang.” Saya menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan senyum. Sementara dia Cuma ngikik melihat ekspresi saya. Saya memulai membacanya. Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan kata-katanya. Begini isi surat itu…..
Kepada Yth
Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan calon kakak buat adik-adik saya
Di tempat
Assalamu’alaikum Wr Wb
Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya mohon, bacalah dulu sampai selesai.
Saya, yang bernama …… menginginkan anda …… untuk menjadi istri saya.
Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Saat ini saya punya pekerjaan. Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya pekerjaan. Tapi yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anakku kelak.
Saya memang masih kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak selamannya. Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan.
Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa
kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya. Untuk menutupi kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya.
Saya hanya manusia biasa. Cinta saya juga biasa saja. Oleh karena itu. Saya menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati. Karena saya tidak tahu suratan jodoh saya.
Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang baik.
Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilih anda. Saya sudah sholat istiqaroh berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih anda. Yang saya tahu, Saya memilih anda karena Allah. Dan yang pasti, saya menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah. Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin menjadi lebih baik dari saat ini.
Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban pada saya. Saya kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan. Semoga Allah ridho dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin.
Wassalamu’alaikum Wr Wb
Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali ini saya membaca surat ‘lamaran’ yang begitu indah. Sederhana, jujur dan realistis. Tanpa janji-janji gombal dan kata yang berbunga-bunga. Surat cinta minimalis, saya menyebutnya. Saya menatap sahabat disamping saya. Dia menatap saya dengan senyum tertahan.
“Kenapa kamu memilih dia.”
“Karena dia manusia biasa.” Dia menjawab mantap. “Dia sadar bahwa dia manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya. Yang aku tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa. Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kita dikemudian hari. Entah kenapa, Itu justru memberikan kenyamanan tersendiri buat aku.”
“Maksudnya?”
“Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih ada. Iya kan ? Paling gak. Aku tau bahwa dia gak bakal frustasi kalau suatu saat nanti kita jadi gembel. Hahaha.”
“Ssttt…” Saya membekap mulutnya. Kuatir ada yang tau kalau kita belum tidur. Terdiam kita memasang telinga. Sunyi. Suara jengkering terdengar nyaring diluar tembok. Kita saling berpandangan lalu cekikikan sambil menutup mulut masing-masing. “Udah tidur. Besok kamu kucel, ntar aku yang dimarahin Mama.” Kita kembali rebahan. Tapi mata ini tidak bisa terpejam. Percakapan kita tadi masih terngiang terus ditelinga saya.
“Gik…”
“Tidur. Dah malam.” Saya menjawab tanpa menoleh padanya. Saya ingin dia tidur, agar dia terlihat cantik besok pagi. Kantuk saya hilang sudah, kayaknya gak bakalan tidur semaleman nih. * * *
Satu lagi pelajaran pernikahan saya peroleh hari itu. Ketika manusia sadar dengan kemanusiannya. Sadar bahwa ada hal lain yang mengatur segala kehidupannya. Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah tergores sejak ruh ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan berapa lama pernikahannya kelak. Lalu menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai beban tapi sebuah ‘proses usaha’.
Betapa indah bila proses menuju pernikahan mengabaikan harta, tahta dan ‘nama’. Embel-embel predikat diri yang selama ini melekat ditanggalkan. Ketika segala yang ‘melekat’ pada diri bukanlah dijadikan pertimbangan yang utama. Pernikahan hanya dilandasi karena Allah semata. Diniatkan untuk ibadah. Menyerahkan secara total pada Allah yang membuat skenarionya. Maka semua menjadi indah.
Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap umat-NYA.
Hanya Allah yang mampu memudahkan segala urusan.
Hanya Allah yang mampu menyegerakan sebuah pernikahan.
Kita hanya bisa memohon keridhoan Allah. Meminta-NYA mengucurkan barokah dalam sebuah pernikahan.
Hanya Allah jua yang akan menjaga ketenangan dan kemantapan untuk menikah.
Lalu, bagaimana dengan cinta? Ibu saya pernah bilang, Cinta itu proses. Proses dari ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya. Agar cinta itu bisa bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam pernikahan yang suci. Witing tresno jalaran garwo (sigaraning nyowo), kalau diterjemahkan secara bebas: “Cinta tumbuh karena suami/istri( belahan jiwa).”
Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha menggabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa
Adakah anda tahu hubungan antara 2 biji mata anda? Mereka berkedip bersama, bergerak bersama, menangis bersama, melihat bersama dan tidur bersama meskipun mereka tidak pernah melihat antara satu sama lain… begitulah suatu hubungan seharusnya…
oleh by Ugik Madyo
sumber::



